
Jika dengan menyiksa ku kamu bisa bahagia, maka lakukan!
🌈🌈🌈
Setelah mengerjakan kewajibanku, aku segera bergegas menuju ke ruang kelas. Sembari memeluk mukenah ku di depan dada. Dengan senyuman aku melewati koridor sekolah.
Dari kejauhan aku melihat Langit yang berjalan dengan arah berlawanan. aku berusaha menghindar tapi kenapa hatiku merasa sakit?
Aku merasa serba salah, aku bertahan tapi aku juga merasa sakit. Jika aku menyerah maka aku akan lebih sakit.
Aku menunduk dalam berusaha agar Langit tidak melihatku. Dan sepertinya berhasil Langit tak berhenti, dia terus berjalan, sepertinya.
Dengan jantung yang berdegup cepat, aku langsung berjalan dan hendak pergi ke kelas dengan cepat. Tapi sebuah cekalan di pergelangan tanganku membuatku terhenti.
Hingga suara dingin itu menusuk telinga ku, "Lo emang selalu buat gue emosi."
Langit mempererat cekalan tangannya membuat ku meringis karena tangan ku terasa sakit.
"Lo harus di hukum,"
Aku menggeleng. Sesaat aku baru ingat. Apa perjanjian ku kemarin dengan Langit.
"Tapi," cegah ku tapi dia malah melemparkan tatapan membunuh.
"Ikut gue!" aku berontak.
"Tapi mukenahku?"
Langit mengambil mukenahku dan mencegah langkah salah satu siswi yang tengah berjalan. "Lo sekelas kan sama dia?" tanya Langit kepada ku dan aku pun mengangguk.
"Bawa mukenah dia dan taruh di mejanya. Lo ngerti?"
Siswa itu gemetar mendengar bentakan Langit. Tapi di selingi dengan anggukan kecil.
Langit pun menyeretku ke arah lapangan olahraga. Dengan sangat kasar. Bahkan banyak orang yang menatap kami dengan tatapan heran.
Sedangkan aku hanya mampu menahan tangis. Tangan ku benar-benar sakit. Dan entahlah aku tak tahu apa yang akan terjadi pada ku saat ini.
"Lari keliling lapangan ini, dengan sembilan belas kali putaran!" kata Langit dan mendorong ku ke lapangan olahraga itu dengan kasar.
Aku terdiam dan mengamati lapangan olahraga yang ukurannya sangat luas. Aku sama sekali tak habis pikir dengan Langit. Setega itu kah dia pada ku.
"Tapi,"
"Gue bilang lari yah lari!" sentak Langit dan aku langsung berlari.
Saat putaran pertama hingga kelima aku masih lancar-lancar saja. Tapi ketika aku melewati putaran yang ke sepuluh. Rasanya aku sudah tidak bisa berlari, dengan terpaksa aku mulai berjalan pelan.
"Lo **** yah? Gue nyuruh lo lari bukan jalan!" teriak Langit dari pinggir lapangan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Dengan semangat yang tersisa aku pun memaksakan diri untuk berlari pelan.
Nafasku tersenggal-senggal. Peluh semakin membanjiri wajah ku. Bahkan aku merasa jika lapangan ini bergerak. Dan perlahan aku mulai kehilangan keseimbangan.
Kepala ku berdenyut keras.
Langit yang melihat itu terdiam. Bahkan Langit tak berkutik. Hingga dengan langkah malas Langit pun berjalan ke arah Agel.
Langit membuka penutup botol air mineralnya dengan kasar lalu menyiramkannya ke kepala Agel.
"Lo gak usah pura-pura gitu." tapi bukannya mendapat respons, Agel yang masih pingsan tetap tak berkutik.
Langit berjongkok dan menepuk pelan pipi Agel berkali-kali tapi tetap saja tak ada respons.
"Lo beneran pingsan?" pertanyaan itu terlalu bodoh rasanya.
Dengan segera, Langit membopong Agel untuk membawanya ke UKS. Tak perlu tenaga yang besar untuk mengangkat Agel. Menurut Langit, Agel sangat terlampau ringan.
Bukankah sudah Langit katakan Agel itu punya tubuh yang sepintas seperti papan kayu.
Saat sampai di UKS, anak PMR pun mulai membantu Langit menangani Agel. Tapi Langit mengusir mereka karena Langit tak butuh.
Dengan berdecak, Langit berlari ke luar menuju kelasnya. Tak butuh waktu lama. Langit pun kembali dengan membawa jaket berbahan lembut yang sangat hangat.
Langit pun menutupi bagian atas Agel yang sekali lagi nampak transparan karena air yang disiramkan Langit tadi.
🌈🌈🌈
Aku kembali mengerjapkan mata ku dengan pelan, rasa sakit masih terasa di sekujur tubuh ku. Terutama di kaki ku ini. Rasanya semuanya kaku. Mungkin karena berlari tanpa pemanasan.
"Gue udah bilang jangan nyusahin gue, tapi apa?" teriak Langit dengan suara yang kelewat dingin.
"Maaf." cicit ku sambil memejamkan mata.
Aku melihat Langit mendekat dan aku merasa ada bahaya yang akan datang kepada ku.
Tatapan Langit yang begitu tajam membuat ku tak bisa berkutik. Kedua tangan Langit bertumpu di samping bahu ku. Lalu wajahnya semakin dia dekatkan ke arah ku.
Lalu lagi, dia membisikkan sesuatu tepat di telinga ku.
"Udah gue bilang, pakai kaos dulu sebelum pakai seragam! Apa lo gak ngerti?" mendengar itu aku menjadi gugup.
"Apa lo mau pamer?" ketusnya.
Aku menggeleng dan sedikit mendorong tubuh Langit agar lebih menjaga jarak. Tapi Langit malah tak bergeming. Sepertinya tenaga ku tak ada apa-apanya.
"Tadi, aku buru-buru."
"Gue gak suka alasan, apapun itu. Dan ini peringatan terakhir lo!"
Langit pun memiringkan wajahnya dan kembali menautkan labiumnya. Aku memberontak kembali, tapi sama sekali dia merasa tenaga ku tak ada pengaruhnya untuknya.
Hingga aku hanya pasrah.
Langit melepaskan ciumannya dan menatap ku tajam. "Inget, gue gak akan main-main sama ucapan gue."
Setelah itu Langit pun berlalu dan meninggalkan ku sendiri di UKS ini.
🌈🌈🌈