I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Keributan



Aku menatap pantulan diri ku di depan cermin di dalam toilet. Tubuh ku terbalut dengan dress di atas lutut dan bagian belakang yang mengekspos punggung ku. Air mata ku tak henti-hentinya mengalir deras.


Hari ini telah tiba, hari yang paling aku hindari.


Ketukan di pintu toilet membuat ku menghapus air mata ku. "Tunggu." teriakku dengan suara serak.


Saat aku keluar, para bodyguard itu membawa ku ke tengah-tengah club. Dentuman musik yang keras membuat ku merasa aneh. Ditambah dengan asap rokok yang mengepul memenuhi ruang ini, membuatku susah bernafas. Bau alkohol membuat ku sesak.


Aku terbatuk-batuk pelan.


Mata ku meneliti sekitar, banyak orang yang tengah berjoget-joget seperti orang kesetanan. Banyak juga orang yang tengah melakukan hal-hal maksiat. Para wanita malam, mulai meliuk-liukkan tubuhnya untuk menarik perhatian mangsa.


Aku begidik ngeri melihat itu.


Sesaat aku hanya diam dan menunduk. Aku merasa sangat tak nyaman memakai dress mini ini.


"Hey manis..." sapa seorang lelaki dengan setelan jas yang lengkap. Aku menggeleng dan menghempaskan tangannya yang awalnya melilit pinggangku.


"Lepas."


"Jangan menolak, sebab aku tidak suka dengan penolakan." lelaki itu semakin gencar memegang pipi ku.


Aku yang merasa tak nyaman langsung mendorongnya kasar. Tapi apalah daya tenaganya lebih besar dari aku.


Tubuhnya yang tinggi tegap membuat nyaliku menciut. Tangan lelaki itu mengelus punggung ku dengan pelan membuat ku bergidik ngeri.


Seperti yang ku duga lelaki itu tengah mabuk berat akibat alkohol, dapat tercium dari aroma nafasnya yang dipenuhi alhokol. Matanya juga agak memerah dengan tubuh agak sempoyongan.


Aku terus berontak, sesekali aku memukuli tangannya yang semakin liar. Sesaat lelaki itu meringis kecil. Tapi semakin lama lelaki itu semakin mengikis jarak di antara kami. Aku terus mundur, hingga tubuhku mentok di sebuah lemari.


Tangan lelaki itu mencekal kedua tangan ku, aku yang merasa semakin ketakutan hanya bisa menangis. Aroma alkohol dan asap rokok sepertinya memenuhi dadaku hingga aku merasa sesak. Kepala ku pusing dan terasa berat. Hingga untuk memberontak aku tidak bisa.


Wajah lelaki itu semakin mendekat ke wajah ku, aku pun langsung memalingkan kepalaku. Aku mendengar gertakan amarah lelaki itu saat aku menolak.


Lelaki lain dari arah belakang datang dengan emosi yang memuncak. Langsung saja lelaki itu menarih jas lelaki yang mabuk tadi hingga tersungkur. Tak sampai di situ, lelaki itu langsung menghajar habis-habisan lelaki mabuk yang telah mencoba menodai wanitanya.


Amarah yang terpancar di wajah lelaki berjas hitam itu seketika membuat atmosfer sekitar menjadi horor. Semua orang yang ada di sana langsung terdiam karena merasa ngeri melihat kemarahan lelaki itu.


Sedangkan lelaki mabuk tadi sudah terkapar lemah. Nyawanya seakan ingin di buat melayang oleh lelaki itu.


Mata lelaki itu menatap ke arah lain, melihat wanitanya jatuh pingsan di lantai. Tanpa aba-aba lelaki itu menggendong wanitanya dan membawanya pergi dari club ini.


Sosok lelaki itu adalah, Langit.


Langit Elmelgantara. Lelaki yang dulu telah membenci wanita yang pingsan itu. Lelaki yang berjanji akan membunuh rasanya setelah wanita itu pergi dan menghilang di telan bumi.


Seperti takdir yang indah, keduanya dipertemukan di dalam suatu club malam. Sebenarnya ini bukan ketidaksengajaan.


Langit yang memang datang ke sana, melihat dengan jelas wanitanya itu dipaksa menjadi ***** untuk menggoda lelaki hidung belang.


Dari awal emosi Langit sudah membara, saat melihat Agel keluar diseret oleh beberapa bodyguard yang berseragam hitam lengkap. Ditambah lagi pakaian wanitanya itu sangat kekurangan bahan, mini. Hingga paha wanitanya itu terekspos dengan sempurna, lagi area punggung dress itu yang rendah juga mengekspos punggung indah Agel.


Awalnya Langit hanya diam, karena emosinya masih bisa tertahan, sedikit. Tapi seketika semua itu hilang. Saat seorang lelaki yang mabuk datang mendekat ke arah Agel dengan beraninya lelaki itu menyentuh pipi, memeluk pinggang dan mengusap punggung Agel. Di tambah lagi dengan usaha untuk mencium Agel.


Tak sadar dengan emosinya yang semakin memuncak, gelas yang berisi alhokol yang tengah Langit genggam pun pecah. Dengan langkah lebar Langit berjalan ke arah Agel dan menarik jas lelaki mabuk itu hingga terhempas ke lantai.


Setelah itu, lelaki itu menjadi pelampiasan emosi Langit yang sangat membuncah. Hampir saja Langit kehilangan kendali, menghabisi nyawa lelaki mabuk itu.


Niat awalnya dia ingin membunuh, tapi ketika melihat kondisi Agel yang menyedihkan. Langit pun membawa Agel keluar dari club ini.


Meski dengan emosi yang masih membara. Langit pastikan, lelaki itu akan hilang dari muka bumi. Karena sudah berani menyentuh milik Langit.


Camkan itu.


🌈🌈🌈