
Seolah-olah kamu mencintai ku dengan selalu melibatkan ku dengan hidup mu. Tapi nyatanya kamu mendekat hanya untuk melukai.
🌈🌈🌈
Suasana cafe malam ini benar-benar sangat padat. Hingga aku kewalahan. Tapi aku berusaha bekerja dengan profesional. Meski malam sudah mulai larut.
Tepat pukul 10 pelanggan pun mulai berpulang dan kami bersiap-siap untuk menutup cafe malam ini. Setelah semua selesai, aku berpamitan untuk pulang. Aku sampai di rumah tepat pukul 11 malam. Rasanya tubuh ku sudah remuk akibat kelelahan.
Aku mengetuk pintu dan tak kunjung mendapat respons. Aku pun membuka pintu yang ternyata tak terkunci.
Aku melihat Angga yang sedang berbincang-bincang heboh dengan Rafid dan Dirga. Mereka bertiga memang telah lama bersahabat. Jadi wajar jika mereka sangat akrab.
"Kakak udah pulang?" tanya Angga saat dia melihat ku. Aku hanya melemparkan senyuman.
"Pertanyaan yang bodoh." Dirga pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mau tidak mau aku pun terkekeh.
"Kak Agel makin cantik deh," aku mencibirkan bibir ku saat Rafid mulai ingin menggodaku.
"Jangan mulai deh, Fid." ketus Angga tak suka. Pasalnya naluri playboy sahabatnya itu muncul.
"Mau di cekokin cabe tuh si Rafid," celetuk Dirga mebuat ku menggeleng pelan.
"Jangan begadang yah!" aku pun melangkah ke kamar ku.
Menghidupkan sakelar lampu hingga semuanya terlihat lebih terang. Aku melepas sepatu ku dan menaruh tas sekolah ku di meja belajar dan berjalan ke arah jendela dan menutupnya rapat di sana.
Tapi sebuah tangan kekar melingkar di pinggang ku, hingga membuat ku menjerit kencang.
Aku sudah seperti cacing kepanasan yang meronta agar bisa kabur. Tapi bukannya melonggar malah semakin erat. Bahkan kini ada sebuah dagu yang bertopang di pundak ku. Deru nafas pun menyapu leher ku. Membuatku bergidik ngeri.
"Ya Tuhan, tolong lepasin!" kata ku dengan memohon sambil masih menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Aku mohon, jangan bawa aku pergi! Aku ingin disini, aku tidak mau kembali ke neraka itu lagi." racau ku sedikit tidak jelas karena aku mengucapkannya dengan cepat.
"Lo bicara apa sih?" suara berat itu membuat ku kaget setengah mati.
"Langit." kata ku masih dengan suara kaget.
"Aku gak akan buat kamu susah, gak akan buat kamu malu dan gak akan ngebantah perintah kamu!" dengan cepat aku merapalkan rentetan kata penyelamat itu.
Langit memutar balik tubuh ku hingga aku bisa melihat wajah tampannya itu menatap ku dengan tatapan yang sama, datar dan dingin.
"Lo nolak gue?"
Aku membulatkan mata ku sambil mengerjap-ngerjapkan mata ku berulang.
"Nggak."
"Tadi lo berontak pas gue peluk,"
"Itu karena kamu buat aku kaget."
"Gue udah bilang, gue gak terima alasan, apapun itu."
Aku menunduk saat lagi dan lagi Langit membentak ku.
"Sekarang ikut gue!"
"Kita mau kemana?"
Tak ada jawaban.
Saat sampai di ruang tamu. Aku melihat Angga, Rafid dan Dirga menatap ku dengan tatapan menggoda.
Lagipula kenapa dia tidak memberitahu jika ada seorang di kamar ku. Jadinya aku harus di seret seperti ini lagi.
Langit hanya tersenyum miring menanggapi ucapan itu.
Aku melihat Angga yang menatap ku dan Langit dengan tatapan kagum. Tak tahukah dia jika aku tersiksa.
"Kakak akan pergi sama Kak Agel, mungkin akan nginap di rumah kakak. Jadi kalian di rumah hati-hati yah!" ucapan Langit membuat ku semakin kaget.
"Siap boss." ketiganya langsung hormat, seakan mengerti ucapan Langit.
Langit pun menyeret ku kembali keluar. Dan aku baru menyadari jika mobilnya terparkir di hadapan kosan ku ini.
Selama di perjalanan tak ada yang bicara. Suasana sangat hening. Aku pun yang mulai mengantuk hanya bisa terdiam sembari menguap sesekali. Aku tidak boleh tertidur. Karena aku takut Langit akan melakukan hal-hal yang tidak ku inginkan. Seperti membuangku di pinggir jalan misalnya.
Saat sampai di rumah Langit, aku langsung digiring untuk keluar dan masuk ke rumahnya.
Bunda menyambut kami dengan tatapan khawatir.
"Kakak, dari mana aja sih? Kakak kan lagi sakit." mendengar itu aku melihat wajah Langit yang nampak pucat. Awalnya aku mengira Langit itu mabuk karena datang ke kosan ku dan langsung memelukku dari belakang.
"Langit mau istirahat Bun," tangan Langit pun mencekal kembali tangan ku dan ingin menarik ku untuk mengikut tapi lagi-lagi Bunda menahannya.
"Kalau ngantuk, kenapa mau bawa Agel juga."
"Langit butuh dia."
"Kakak jangan macam-macam yah!"
"Langit cuman mau di rawat sama dia Bun,"
"Oke." lalu Bunda Langit menarik ku untuk mendekat dan membisikkan sesuatu.
"Kalau Langit macam-macam, kamu ngadu ke tante yah!"
Langit menghembuskan nafasnya kasar. "Nggak usah main bisik-bisikan, karena Langit bisa dengar."
Lagipula itu sama sekali bukan bisikan, karena suara Bunda yang agak besar volumenya.
Aku pun mengangguk pelan.
"Good Night, Bunda." racau Langit mulai tak jelas dan menarik ku ke kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, Langit pun menutup pintu rapat. Kemudian menatap ku dengan tatapan mata tajam tapi terlihat sayu. Khas orang yang demam.
"Naik!" perintah Langit.
"Kemana?" tanya ku lirih. Sebenarnya aku takut.
"Ke kasur lah," sengit Langit tak suka.
"Mau..."
"Gue bilang naik yah naik!" emosi Langit sudah mulai terlihat.
Aku memilih menurut dan naik di kasur untuk duduk. Langit langsung membuang tubuh jangkungnya ke kasur. Lalu terlihat memejamkan matanya dengan terpaksa.
Aku langsung bangkit dan melepaskan sepatu Langit yang masih ia kenakan. Setelah itu aku mematung menatap Langit bingung.
"Sini!" Langit menepuk berulang ujung kasur itu dan menatap ku.
Aku pun berjalan dengan ragu. Dan mendekat. Kemudian aku duduk di pinggir kasur.
Tangan Langit langsung melilit perut ku dengan erat. Dan menenggelamkan kepalanya di perut ku.
Aku pun merasa jantung ku tak bisa terkontrol. Rasanya aku ingin pingsan mendapat perlakuan seperti ini.
🌈🌈🌈