I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Insomnia



Kamu datang lagi, membawa harapan yang berlebih hingga membawa potensi untuk terluka yang kedua kali.


🌈🌈🌈


"Tidur!"


Aku mendengus mendengar suara ketus dan dinginnya itu.


Lagipula dia yang salah karena tega membangunkanku dan menyuruhku berjalan masuk ke kamarnya. Aku yang tak mau berdebat langsung mengalah. Bunda Langit juga sudah mulai baikan.


Saat sampai di kamar Langit, aku langsung terdiam. Canggung jika harus tidur berdua. Tapi apalah daya tak ada pilihan lain.


"Lo budeg? Gue bilang tidur!" sentaknya lagi dan aku pun berjalan mendekat dan naik ke atas kasur. Memberi batas pemisah antara aku dan Langit.


Setelah berbaring aku benar-benar tak bisa tidur, aku gelisah dengan bergerak seperti orang yang tengah di kerumuni semut. Aku benar-benar Insomnia.


Aku pun bangkit dan duduk. Tiba-tiba saja perasaan ku menjadi tak enak. Seperti ada yang terjadi tapi aku tak tahu apa itu. Aku pun mencoba untuk tenang, dengan menarik nafas berkali-kali.


"Papan kayu keras kepala."


Aku memanyunkan bibir ku saat mendengar gertakan itu. Lagi-lagi Langit membuat ku kesal di tengah malam begini.


"Ayo tidur!"


Aku menoleh dan menatapnya malas, "Tidur aja sendiri."


Setelah itu aku pun memilih duduk di sofa sambil memainkan ponsel ku. Sejenak suasana hening. Kupikir Langit pasti tertidur di sana. Entah kenapa rasa sakit datang mengerumuni ku, seraya berteriak 'Agel, kau bodoh!'


Aku tahu, tapi aku harus apa? Untuk jauh dengan Langit rasanya aku tak bisa. Dia bagaikan magnet dan aku bagaikan besi. Otomatis aku akan selalu tertarik mendekat.


Aku mencoba melepaskannya tapi mengapa rasanya itu terlalu berat. Rasanya meski dia tak ku persilahkan menguasai hati ku tapi tetap saja dia memaksa dan sekarang dia sudah bertahta di dalam sana.


Kadang cinta bisa seambigu begini. Meski mencintai tanpa jelas di cintai, tapi tetap saja masih bertahan.


🌈🌈🌈


Aku terbangun karena tepukan pelan di pipi ku. Saat kesadaran ku sudah terkumpul aku menatap aneh ke arah Langit yang sudah rapi.


"Mau joging, lo mau ikut?" tanya Langit, aku baru hendak membuka suara tapi suara Langit terdengar. "Jangan, entar lo malah tambah rata."


Aku meremas selimut dengan kesal. Ini padahal masih pagi, tapi kenapa dia sudah membuat dosa dengan mengejakku seperti itu.


"Papan kayu." Langit mengacak rambut ku asal dan aku langsung menghempas tangannya asal. "Kalau aku papan kayu, kamu apa? Batang kayunya?"


Sejujurnya aku rada takut mengatakan itu, tapi penghinaan ini tak boleh bertahan lama. Semua harus di akhiri.


"Batang kayu?" Langit menautkan alisnya.


Aku mengangguk cepat, dan mempersiapkan kata-kata mutiara untuknya, "Udah tinggi, gendut lagi. Gak tau diri pula, seenak jidat ngatain aku papan kayu yang depan belakang rata. Iuhh..., dasar Batang kayu!"


"Gue gendut?!"


"Yap."


"Mata lo berarti ada masalah."


"Badan gue atletis gini, dasar papan kayu."


"Kurang ajar." dengus ku dan turun dari tempat tidur kemudian berjalan ke kamar mandi.


Setelah mandi, aku pun turun dan melihat Bunda Langit sudah sehat bahkan Bunda Langit menyiapkan sarapan.


Bunda Langit tersenyum ramah ke arah ku dan akupun tersenyum kikuk. Sementara Langit sudah duduk manis sambil menjejalkan roti ke mulutnya. Sama sekali dia tidak menatap ku.


Aku yang awalnya ingin ikut duduk langsung terdiam saat ponsel ku bergetar pelan. Aku pun mengambilnya dan menatapnya.


Satu pesan dari nomor asing. Dengan ragu aku pun membukanya. Mata ku terbelalak kaget saat membaca pesan itu.


Aku meneguk saliva ku susah payah. Degup jantung ku pun berdetak cepat.


Pulang! Atau orang yang ada di sekitar mu akan hilang satu persatu.


Tanpa di beritahu aku pun sudah tahu siapa yang mengirimnya. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Aku melirik Langit dan Bundanya dengan kalut. Aku tak mau mereka terseret dalam permasalahan ku yang rumit ini.


Ponsel ku kembali bergetar. Menandakan pesan singkat kembali masuk.


Hari terakhir untuk mu, setelah satu hari ini berlalu maka mau tidak mau kamu harus pulang. Jika tidak, maka jangan kaget jika mereka semua hilang secara perlahan.


Aku menekan sesak dada ku. Rasanya sangat sakit. Karena tidak mau membuat Langit curiga maka aku langsung menaruh kembali ponsel ku dan duduk di hadapan Langit. Bunda Langit langsung memberi ku roti dengan isi selai strawberry. Meski tak bernafsu aku tetap menggigitnya pelan, agar tak membuat bunda Langit sedih.


Pikiran ku pun kalut, bercabang kemana-mana. Aku terdiam lama. Hingga hidung ku terasa sumpet karena di cubit oleh Langit.


Aku meringis dan memanyunkan bibir ku.


"Kakak!" teriak Bunda dan menarik telinga Langit.


Aku tersenyum miris. Sebentar lagi, aku akan rindu dengan mereka. Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan semuanya. Waktunya sangat singkat, jadi aku berpikir harus memberi mereka kenangan kecil.


"Abisnya ngelamun terus." Langit menatap ku tajam hingga aku langsung menunduk.


"Udah, katanya mau ngajak Agel jalan!"


"Iya bunda,"


Kami pun pamit meninggalkan rumah Langit. Sebelumnya aku menatap bunda Langit lama. Entahlah kapan kami akan bertemu lagi. Aku tidak tahu.


Saat di perjalanan, aku sendiri merasa heran dan bingung. Sebenarnya tujuan kami ke mana. Ingin bertanya pada Langit tapi tetap saja rasanya gengsi.


Jadi aku hanya diam, diam-diam aku memandangi wajahnya dari samping.


Menatapnya sendu.


Ini hari terakhir ku bersamanya dan setelah itu aku akan pergi, meninggalkannya. Apa dia bahagia? Tentu saja. Meski tak cukup kenangan yang ku bawa pergi, tapi setidaknya aku pernah bersama dengannya.


Aku tak menyangka, jika Langit bisa membuat ku takluk. Bahkan membuat ku semakin luka saat nyatanya aku harus pergi meninggalkannya.


Tapi memang ini takdir yang mempertemukan lalu memisahkan.


🌈🌈🌈