I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Pencarian



Jangan pergi terlalu jauh. Karena hati ku adalah rumah ternyaman untuk tempatmu kembali saat lelah datang.


🌈🌈🌈


Langit benar-benar merasa bodoh karena tidak bisa berbuat apa-apa. Apa rasa yang menikam perlahan membunuh ini disebut rindu? Jika iya maka Langit benar-benar sangat kesusahan mengurusi rindu ini.


Hari ini, ada satu agenda penting dalam hidupnya; mencari Agel. Cewek itu bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan hampir seisi kelas Agel sudah Langit wawancarai untuk menanyakan posisi wanita itu. Tapi tak satupun yang tahu. Entah kemana cewek itu pergi.


Langit memilih berdiam diri di atas atap sekolah. Tempat ini, banyak memiliki kenangan. Atap ini menjadi saksi bisu betapa kejamnya Langit kepada Agel.


Beribu maaf ingin Langit ungkapkan, Langit ingin mendekap tubuh ceroboh itu dalam pelukannya. Tak membiarkan cewek itu melangkah pergi meski beribu alasan dia ungkapkan.


Terik matahari membuat Langit merasakan sengatan matahari yang semakin memanas. Tapi itu bukanlah satu penghalang untuk seorang Langit.


Hatinya sedang tak baik. Hatinya sedang terluka, tak parah tapi sangat menyesakkan. Hatinya sedang rindu. Dan kalian harus tahu jika rindu itu berat dan menyesakkan.


Harap-harap dari atas sini Langit bisa melihat sosok wanita yang sedang berdiri berhadapan langsung oleh sang bendera merah putih sambil hormat. Tapi sayang, itu mungkin tak akan terjadi.


Atau mungkin saja, cewek itu akan datang lalu melakukan hal konyol lagi karena melihat posisi Langit yang seperti ini bunuh diri.


Mengingat itu Langit tersenyum kecil.


Cewek itu ceroboh, tapi Langit sudah tidak bisa berbohong. Jika rasa asing ini nyatanya cinta. Secepat itu? Tapi inilah adanya. Bukannya cinta tak mengenal waktu saat ingin datang, tak mengenal waktu juga saat ingin pergi. Cinta datang tanpa di minta dan pergi tanpa di izinkan. Cinta itu memang sederhana, tapi rumit jika kamu tak mampu menjaga hati.


Langit bergegas turun karena merasa sangat ingin bertemu dengan cewek yang saat-saat ini sering mengisi otaknya. Membawa rindu tanpa ampun hingga membuat Langit tersiksa.


Ini yang kedua kalinya, pencarian ini membuahkan hasil yang menyedihkan. Suasana kos Agel pun sangat sepi senyap.


"Lo dimana?" cicit Langit sambil menatap kosong ke kos-an Agel.


Pencarian ini tak akan berhenti sampai membuahkan hasil yang diinginkan.


Tiba-tiba saja satu tempat terlintas di pikiran Langit. Mungkin saja Agel ada di sana.


Dengan senyum dan semangat Langit pun berlalu menuju ke lokasi yang ada di dalam pikirannya. Selama di perjalanan pikiran Langit jelas sangat bercabang. Ada rasa takut di sela-selanya.


Takut, saat di sana dia tak menemukan apa yang di cari.


Langit menginjak pasir putih dan berlari cepat ke arah bibir pantai. Ombak yang sudah mulai turun membuat suasana semakin hening. Tiupan angin pun seolah-olah mencibir Langit. Sebab sekeliling sangat sepi.


Senja memang indah, tapi mungkin lebih indah jika melewatinya dengan dia.


Langit memilih terdiam mematung. Matanya menatap lurus kedepan, kosong. Kosong sama seperti hatinya. Hatinya yang sedang merindu akan sosok cewek yang yang selalu dia kasari dan ternyata cewek itu adalah pemilik hatinya yang asli.


Cewek itu bisa membuatnya berpikir keras. Jika menyakiti tak akan selalu membahagiakan. Jika mencintai seseorang haruslah punya batasan. Jika mencintai itu tak mengharapkan balasan. Dan cewek itu secara bersamaan mengajarkan banyak hal untuk Langit.


Kesabarannya, Agel memiliki kesabaran yang berlebih bahkan meski sudah rapuh akan luka yang Langit berikan tetap saja Agel tetap memprioritaskan bahagia Langit.


Sungguh sangat di sayangkan, kesadaran itu datang terlambat di diri Langit. Setelah cewek itu pergi dia baru mengerti jika cintanya itu sudah ada pada zona aman. Yaitu terdampar di cewek ceroboh itu.


Cewek yang selalu tersiksa untuk bisa membuat Langit senang.


"Lo juga indah, tapi gue gak mau lo kayak senja. Yang keindahannya hanya bisa dilihat dari jauh, gue pengen lo jadi milik gue."


"Kalau sekarang lo milih hilang buat menghindar, tolong beri gue ruang untuk mengulang. Mengulang untuk selalu membuat lo bahagia."


Langit mengucapkan itu sembari menatap lurus kedepan. Seolah-olah senja yang ada dihadapannya itu Agel.


Senja di sore ini benar-benar menjadi saksi jika rindu itu bisa membuat orang terkuat bertekuk lutut memohon lirih untuk di ringankan beban rindunya. Yah caranya dengan dipertemukan dengan cintanya. Dan mungkin Langit juga begitu, Langit ingin cintanya ada di sini. Menemaninya.


Helaan nafas memecah keheningan. Mata Langit memincing jelas saat bayangan dirinya dan Agel berdansa di pantai ini. Lalu saat Langit kesal karena Agel menginjak kakinya, setelah itu Langit menyeburkan Agel ke pantai dan saking paniknya wanita itu langsung memeluk Langit cepat.


Kenangan itu seolah bekerja sama dengan rindu untuk membuat Langit lemah akan rasa.


"Lo dimana?"


Bahkan deburan ombak dan tiupan angin seolah membisu. Enggan menjawab pertanyaan Langit. Sebenarnya apa yang ia cari ada di hatinya. Tersimpan rapi dan tersembunyi.


"Gue akan nemuin lo."


Itu janji Langit pada sang senja yang seolah membisu, mengejek bahwa itu mustahil untuk Langit dapatkan. Tapi dibalik itu sang senja juga menginginkan keduanya bersatu meski sangat berat untuk menggapai kebersamaan.


Apapun itu, Langit yakin jika ini ujian cintanya. Mungkin dulu, Agel yang berjuang untuk semua namun sekarang biar Langit yang melakukannya.


Camkan itu.


🌈🌈🌈