I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Party



Meski hati telah di lukai, meski harapan tlah hancur tapi aku masih saja mengharapkanmu. Bodoh!


🌈🌈🌈


Aku menarik nafas berkali-kali saat hendak keluar dari taxi yang ku tumpangi. Kalian tahu, awalnya aku ingin menggunakan motor tapi Angga mengatakan tak usah. Karena jika aku menggunakan motor maka kesan elegan dalam diri ku kali ini akan hilang.


Kaki ku pun menapaki tanah. Persis seperti model atau artis papan atas yang keluar dari mobil mewahnya.


Aku kemudian berjalan dengan langkah pelan, sembari menebar senyuman. Di sana banyak teman-teman kelas ku yang melambaikan tangan. Dan aku pun membalasnya.


Selebihnya aku merasa heran dengan tatapan orang-orang yang datang. Melihat tatapan itu aku pun menggaruk tengkuk ku yang tak gatal. Lalu membenarkan dress ku, kemudian menyentuh rambut ku yang malam ini sengaja aku gerai dengan ujung yang sengaja juga ku curly. Supaya terlihat lebih cute.


"Ini Agel?" tanya salah satu teman kelas ku.


Kemudian teman kelas ku yang lain mengerumuni ku. Aku pun tersenyum gugup.


"Ishh lo tambah cute deh,"


"Makin cantik aja loh,"


"Makasih." jawab ku kikuk.


"Agel lo tahu gak?" bahu ku langsung terguncang hebat akibat Edi yang sepertinya terkena penyakit ayam-ayam.


"Lo mau bunuh Agel, Di?"


"Lepasin, gila."


Edi pun melepaskan kedua bahu ku dan menyodorkan tangannya. "Selamat, lo jadi juara satu di lomba musik itu."


Aku tersenyum bahagia saat mendengar itu.


"Benar?"


Semua teman-teman ku pun tertawa. Tak lama mereka pun meminta untuk pamit. Mereka berpencar menikmati pesta ulang tahun ini. Sementara aku seperti orang hilang.


Untungnya aku tak bertemu Langit malam ini.


"Baju lo warnanya merah strawberry atau warna merah cabe?" aku mengernyitkan alis ku mendengar pertanyaan yang sedikit bodoh dari cowok yang ada di hadapan ku ini.


"Apa?"


"Cantik-cantik kok budeg." sindir cowok itu membuat ku mengangkat kaki ku dan hendak melepaskan sepatu ku dan berniat memukulnya. Karena kurasa cowok ini mabuk.


"Wetss, santai dong."


Melihat reaksinya aku langsung menurunkan kaki ku dan mengurungkan niat buruk ku.


"Kamu mabuk yah?"


"Aku? Mabuk?" tanyanya pada dirinya sendiri lalu cekikikan.


"Ganteng-ganteng kok gila."


"Apa tadi kamu bilang apa?" 


Aku mengepalkan tangan ku di depan wajahnya dan dia malah ikut mengepalkan tangannya.


"Dasar aneh!" desis ku dan berjalan meninggalkannya. Tapi dia seperti bayangan, yang mengikuti ku kemana saja.


"Ehh pertanyaan aku belum kamu jawab."


"Eits, tadi kamu pake lo gue. Sekarang kok pake aku kamu?"


"Aku juga gak tahu, kayaknya ini akibat gaya gravitasi bumi deh."


Aku berdesir emosi, menoyor kepalanya. Sebenarnya dia itu manusia apa? Kenapa aneh begini.


"Kenalin nama ku, Manu Rios!"


Harus ku akui, jika cowok yang ada di hadapan ku ini memang ganteng, tapi masih gantengan Manu Rios.


"Eh, bukan. Kenalin aku Justin Bieber."


"Bukan, aku Shawn Mendes."


"Bukan, sebenarnya aku Charlie Puth."


"Eh..eh..bukan, aku itu Kim Taehyung....."


Sebelum dia semakin menjadi-jadi aku lebih baik menghentikannya. Tangan ku pun membekap mulutnya kasar.


"Gak usah ngaku-ngaku."


Cowok itu pun bungkam dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu kembali mengulurkan tangannya.


"Andre, lebih tepatnya Andre ganteng."


Aku yang awalnya ingin menjabat tangannya langsung tak jadi.


"Sok ganteng."


"Aku memang ganteng, Nona."


"Nama ku bukan Nona, tapi Agel."


"Angel? Nama yang indah."


"Nggak pake en," kata ku penuh penekanan.


"Oh, oke Angel."


Aku menarik nafas jengah.


"Aku bilang tidak pake en, kamu mengerti atau tidak?"


"Angel tidak pakai en? Apa begitu cara penyebutan nama mu?"


"Kamu mau ku pukul?"


Aku melepas sepatu ku dan mengarahkannya ke muka Andre si cowok gila.


"Tolong, Angel aku tidak mau mati konyol gara-gara sepatu mu itu."


Aku memasang wajah cemberut ku.


Tapi aku seperti mengingat sesuatu. Kemudian aku menatap lekat wajah cowok yang bernama Andre itu.


Sepertinya aku mengenali sosok itu. Tapi dimana? Dan sebenarnya siapa dia.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu, terpesona yah dengan kegantengan ku?"


Aku tak menggubris. Tapi buru-buru aku memeluknya erat. Lalu menangis tersedu-sedu.


Aku tahu siapa cowok gila ini, aku tahu.


Aku mengenal dekat sosok cowok yang mengatakan jika namanya Andre ini. Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Bahkan setelah beberapa tahun yang lalu sifatnya tak pernah berubah, selalu kocak dan mendekati kata gila.


Hanya saja yang membuat ku tak bisa mengenalinya adalah rupanya yang sudah sedikit berubah menjadi lebih dewasa. Tapi sifatnya tetap saja sama. Selalu membuat ku kesal.


Sekarang Tuhan memberi ku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi dan aku merasa bahagia. Akhirnya setelah sekian lama kami bisa bersama lagi.


Aku larut dalam pertemuan ku dengan Andre. Masalah party ini aku sama sekali tak peduli. Bahkan setelah berpelukan dengan Andre aku langsung mengajaknya untuk pergi dari tempat ini.


🌈🌈🌈