
Rindu itu bukan hanya berat tapi juga melemahkan.
🌈🌈🌈
Aku menarik nafas lelah. Hujan turun di pagi hari membawa hawa dingin masuk ke dalam kamar ku yang sunyi senyap.
Tangan ku terulur menyentuk kaca jendela kamar ku yang berembun. Jari telunjuk ku menari di atas kaca itu sembari menuliskan sesuatu.
Langit.
Aku tersenyum saat nama itu berhasil ku tulis di kaca jendela ku. Bahkan ingatan ku kembali berputar saat aku dan Langit masih bersama waktu itu. Saat aku pingsan dan Langit membawaku ke rumahnya.
Hujan juga mengingatkanku pada Mama ku.
Hujan selalu membawa rasa yang berbeda dalam diri ku, tapi kurasa semua itu adil. Dulu hujan berarti menyedihkan untuk hidup ku karena saat hujan turun aku langsung mengingat saat mama ku pergi dan menghadap ke yang maha kuasa.
Sekarang, saat hujan turun aku merasa bahagia karena bisa mengenang sosok Langit. Lelaki itu jujur tak akan pernah lekang dalam ingatan. Lelaki itu memiliki tempat khusus di dalam hati terdalam ku.
Setelah beberapa tahun tak bertemu. Aku berharap lelaki itu baik-baik saja. Dan aku selalu berharap bisa dipertemukan kembali. Bukan untuk memiliki lagi, tapi hanya sekadar untuk dipertemukan.
Itu sebabnya saat hujan turun aku selalu berdoa semoga saja aku dan Langit bisa dipertemukan.
Karena setahu ku saat hujan turun peluang doa bisa terkabulkan itu sangat besar. Itulah mengapa aku selalu diam-diam merapalkan namanya dalam hati ku, berharap waktu akan membawa ku bertemu. Meski harus berubah menjadi orang asing kembali.
Ceklek.
Pintu kamarku terbuka pelan.
Aku pun menoleh dan melihat ibu tiri ku tengah berjalan ke arah ku sembari memegang sebuah apel di tangan kirinya dan sebuah pisau kecil di tangan kanannya.
Aku dengan cepat menghapus nama Langit di jendelaku, sebelum ibu tiri ku itu melihatnya.
Tubuh ku langsung gemetar.
"Senang bisa bertemu dengan putri cantik ini, apa kau rindu dengan ibumu ini?" tanyanya dengan senyum yang terlihat aneh.
Tangan ibu tiri ku terlihat lihai mengupasi apel itu dengan pisau kecil yang bercahaya ditangannya.
"Kenapa kau gugup? Ibu hanya datang untuk membuat karya di tubuh mulus mu itu."
Aku memilih menunduk saat Ibu tiri ku itu mendekat. Tangan ibu tiri ku memegang dagu ku. Lalu pisau itu dia mainkan di pipi ku. "Jangan takut, kali ini mungkin tak akan ada darah."
Pisau itu pun terjatuh ke lantai.
Kemudian tangannya meraih rambut ku yang tergerai, "Rambutmu bagus."
Kemudian ibu tiri ku langsung menyeret ku ke depan cermin.
"Kebetulan yang sangat menyenangkan, ada gunting." katanya dengan senyum yang mengembang.
Rambut ku yang panjang terurai mulai berjatuhan, bersamaan dengan itu air mata ku jatuh ke pipi ku.
Semakin lama rambut itu semakin banyak hingga berserakan di lantai. Dia menjambak rambut ku lalu kembali mengguntingnya. Tak peduli dengan rintihan ku yang sangat memilukan.
"Ibu, apa yang kau lakukan pada Agel!"
Teriakan itu membuat ibu tiri ku menjauh dari ku. "Hanya bermain-main."
Andre berlari ke arah ku dan memeluk ku erat. Aku langsung memeluknya tak kalah erat. Tubuh ku berguncang hebat. Aku benar-benar merasa ketakutan.
"Ibu membenci wanita itu." ibu tiri ku mejambak rambut ku dengan kasar membuat ku kembali berteriak dan memohon.
"Kumohon lepaskan, Bu...ini sangat sakit."
"Ibu, lepaskan dia."
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Ibu tiri ku keluar sambil memasang wajah tak berdosa. Sementara aku hanya mampu terisak.
"Jangan menangis, aku tidak bisa melihat adik ku menangis." tangan kekar Andre mengelus rambut ku dengan lembut.
"Bunuh aku, sungguh aku sudah tidak sanggup."
Lirih ku sembari menatap Andre dengan lelah.
"Jangan mengatakan itu, aku tidak suka mendengarnya. Lagipula kau tidak sendiri, ada aku dan Angga."
"Tapi aku benar-benar lelah dengan semua ini."
"Maafkan aku karena aku tidak bisa melindungimu." sesal Andre.
Tangan Andre mengepal kuat saat melihat rambut Agel yang berserakan di lantai. Sebagai kakak, Andre merasa tak berguna.
"Aku benar-benar lelah." lirih ku dan memejamkan mataku pelan. Tangan ku mengusap rambut ku yang panjang ujungnya sudah tak beraturan. Rasanya aku lebih menyedihkan dari binatang. Yang disiksa terus menerus.
"Jangan berkata begitu, kumohon." Andre menggendong tubuh ku dan membawa ku ke atas kasur.
"Tunggu, aku akan memanggil seseorang untuk memperbaiki tataan rambutmu itu."
Aku mengangguk pelan dan membiarkan Andre berlalu. Lama, aku hanya diam sembari membatin lirih.
Mengapa aku harus seperti ini? Aku merindukan kehidupan ku yang dulu, aku ingin bebas.
"Mah, tolong jemput aku." kata ku membatin. Berharap mama ku mau datang menjemputku dan membawaku pergi, ikut dengannya.
Rasanya sangat menyedihkan, hidup dengan penuh siksaan begini. Aku berdoa semoga tidak ada orang yang hidup seperti dengan diri ku. Biarkan aku saja yang merasakan ini semua.
🌈🌈🌈