I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Dimana?



Penyesalan lebih berat dari rindu dan lebih menyesakkan dari harapan.


🌈🌈🌈


Malam datang menyapa, membawa gelap dan keheningan yang menyesakkan untuk seseorang yang tengah meratapi penyesalan. Untuk seseorang yang telah melakukan pencarian tapi tak mendapatkan hasil.


Penyesalan yang mendalam jelas menyapa di hati Langit. Malam ini adalah malam yang kesekian kalinya ia lewati tanpa melihat wajah wanitanya.


Benar-benar, karma ini datang tanpa di duga, membawa sesak yang amat menyiksa, menikam dan perlahan membekukan hati seorang Langit.


Selama beberapa hari ini, Langit seolah menjadi titik beku yang sangat dingin dan tak tersentuh.


Karma, mungkin inilah rasanya. Dan boleh Langit katakan jika jangan pernah bermain-main dengan karma yang kejam. Karena sekali engkau terjebak, meski memohon maka tak akan ada yang peduli. Sebab ini salah diri sendiri dan berarti harus ditanggung sendiri.


Angin malam pun membuat hawa dingin semakin terasa di diri Langit. Raut wajahnya datar. Sorotan matanya pun tajam tapi menipu. Menipu jika ia baik-baik saja karena nyatanya ia sudah mati sejak wanita itu menghilang selama beberapa hari ini.


Tiada hari tanpa pencarian yang dilakukan Langit. Tapi hasilnya nol besar. Tak ada tanda-tanda akan pertemuan. Jika benar wanita itu di telan bumi maka Langit benar-benar harus sanggup menggali hingga kedalaman yang tak terhingga sampai ke inti bumi untuk mendapatkan cintanya.


Penyesalan itu ada, mengalir bersama darahnya dan berhembus di setiap helaan napasnya yang kadang terasa berat.


Langit memegang sebatang rokok dengan pikiran yang menimang-nimang. Ada keraguan saat Langit memilih pelarian ini. Bagaimana pun wanita itu tak akan suka jika Langit merokok. Karena itu sama saja jika dia merusak diri dengan alasan yang tak masuk akal.


Rokok itu pun terhempas ke lantai.


Tak ada yang peduli dengan rokok itu, bahkan Langit merasa lebih menyedihkan dari sebatang rokok yang gagal di hisap itu.


Langit benar-benar merasa asing dalam hidupnya. Nafasnya seolah hilang dan gairah hidupnya seolah menurun setelah wanita itu pergi.


"Kakak?"


Langit tak menoleh saat mendengar panggilan lembut itu. Pandangannya masih fokus menatap ke depan.


"Makan dulu yah?!"


Bunda Langit selalu merasa simpati melihat anaknya yang seolah sangat terpuruk saat kehilangan sosok wanita yang baru dia sadari keberadaannya. Sosok wanita yang nyatanya telah menguasai hatinya dalam-dalam.


"Kapan dia kembali, Bun..." lirih Langit tanpa menoleh. Dari nada suaranya saja itu menandakan jika ia sangat menyedihkan.


"Apa dia tidak akan kembali, apa aku terlalu jahat padanya Bun?"


"Jangan menyerah, terkadang perjuangan dalam cinta itu sangat dibutuhkan untuk menguji keseriusan seseorang."


Bunda mendekat dan mengelus rambut Langit dengan lembut.


"Langit yakin bisa ketemu sama Agel bunda."


🌈🌈🌈


Hari ini agenda yang tetap sama dijalankan oleh Langit, mencari wanitanya dengan penuh semangat.


"Dia gak akan kembali."


Fana datang sembari menggenggam tangan Langit. Seolah-olah sebelumnya tak ada hal yang terjadi.


Dengan kasar Langit langsung menghempaskan tangannya. Tak suka mendengar apa yang Fana ucapakan barusan.


"Sekarang ada gue, kita bisa mulai dari awal." pinta Fana dengan memohon.


Rasanya Langit ingin muntah mendengar itu. Sayanganya ia bukan lelaki yang sama, yang niat mengulangi rasa yang salah untuk kedua kalinya. Karena hatinya sudah yakin dimiliki oleh satu orang saja yaitu, Agel.


"Jangan buat persahabatan kita hancur." tekan Langit dan berlalu.


Sementara Fana langsung terdiam. Apa dia salah? Dia hanya ingin memulai rasa yang dahulu Langit impikan. Fana hanya ingin membuat impian itu nyata.


Tanpa ikatan persahabatan keduanya saling mencintai, tanpa ada penghalang.


Fana jujur tak mengerti dengan perasaannya. Terkesan murahan dirinya saat ini. Tapi apa pedulinya, dia tidak mau Langit bergegas pergi.


Karena baru dia sadari jika Langit adalah potensi terbesar untuk membuat Fana nyaman dan aman dalam melewati hari.


Dulu Fana memang menolak untuk melangkah jauh dari ikatan sahabat. Tapi lama kelamaan semuanya terasa sangat mendukung. Jelas di hati Fana jika Langit yang dia butuhkan. Bukan Erick atau siapa-pun.


Langit pun memilih berjalan menuju atap sekolah, dan menatap hamparan pemandangan yang luas dari atap. Seketika rindu datang, menikam tanpa meminta alasan.


Keterlaluan sungguh semua sangat menyiksa.


🌈🌈🌈