
**Cinta itu ada dua macam.
Pertama, Cinta berbalas, saat keduanya ternyata saling mencintai.
Kedua Cinta sendiri, saat satu dari keduanya mencintai dengan bodoh dan yang satunya malah mengabaikan dan masa bodoh**.
🌈🌈🌈
Now Playing : Raisa - Tentang Cinta
🌈🌈🌈
Saat sudah sampai di cafe, aku langsung berganti pakaian dengan pakaian sehari-hari. Lalu beranjak mengisi perut ku. Setelah itu, atasan ku menyuruh ku untuk menghibur para pengunjung. Dan aku sama sekali tak keberatan.
Untuk hari ini aku memutuskan untuk menyanyikan lagu Raisa - Tentang Cinta. Bukan tanpa alasan, sebab rasanya aku pun merasakan cinta.
Alunan musik pun merasuki jiwa ku yang telah lama acuh. Hati ku seakan berteriak lantang jika aku sudah mulai menyukai cowok itu. Melody itu menyatu dengan degup jantung ku yang secara cepat berdegup tak menentu.
Perlahan mata ku terpejam merasakan alunan musik itu. Dan mulai menyanyikan setiap bait-bait yang ada di dalamnya.
Dengan membuka mata perlahan. Aku menyanyikan bait pertama.
Cinta apalah rasa hidup tanpa hadirnya
Cinta itu memang tak nampak oleh mata tapi dapat terasa hangat oleh hati. Cinta adalah satu kata yang mewakili semua rasa yang berlebihan.
Tetes keringat tanpa makna
Apa yang bermakna tanpa cinta? Tidak ada.
Waktu hanya akan berlalu tanpa warna
Karena warna terhebat adalah warna cinta. Bukan cuman satu warna saja, tapi di penuhi dengan banyak warna lainnya. Mengalahkan sang pelangi.
Cinta tak pernah benar-benar kita pahami.
Benar, kita sama sekali tak pernah benar-benar memahami cinta. Sebab, kita hanya tahu jika cinta itu hanya kebahagiaan bukan kesedihan. Tapi yang sebenarnya cinta itu adalah kelengkapan, gabungan antara bahagia dan kesedihan.
Cinta, cinta penuhi harimu dan penuhi waktumu.
Waktu akan terasa singkat dengan cinta. Tapi dengan itu semua terasa bermakna. Tapi beda lagi, jika tanpa cinta. Maka semua terasa sunyi hampa dan perlahan mematikan rasa.
Cinta, cinta aliri darahmu
Aliri jiwamu.
Darah, Cinta, Jiwa, Cinta, sebegitu spesialnya cinta itu.
Oooooo Cinta....
Cinta apalah rasa hidup Tanpa hadirnya
Cinta Tak pernah benar-benar Kita pahami
Cinta cinta Penuhi harimu Dan penuhi waktumu
Cinta cinta Aliri darahmu Aliri jiwamu
Cinta cinta Penuhi harimu Dan penuhi waktumu
Cinta cinta Aliri darahmu Aliri jiwamu
Diriku Hatiku Penuhi penuh dengan cinta
Salahku mengagumimu
Darahku Jiwaku Aliri selalu dengan cinta
Sejauh ku bisa
Cinta Cinta penuhi harimu Dan penuhi waktumu
Cinta Cinta Aliri darahku Aliri jiwaku
Cinta Semua tentang cinta
Kisah laguku Tentang cinta
Diriku dan hatiku Darahku jiwaku
Kisah laguku Tentang cinta
Diriku dan hatiku Darahku jiwaku
Setelah aku menyanyikan bait terakhir. Suara tepuk tangan yang bergemuruh pun terdengar. Aku pun tersenyum ramah.
Lalu berlalu turun dan mulai kembali bekerja.
Mungkin untuk seusiaku, sekarang sedang ada di kamar atau di mall menghabiskan malam yang indah. Namun, aku harus selalu berjuang. Bahkan tiada hari tanpa perjuangan.
Bukannya ingin mengeluh, namun kadangkala aku juga lelah.
Hey..., aku juga manusia biasa, yang bisa lelah dan sebagainya. Namun ini lah takdir ku, aku harus menerimanya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, jujur aku sangat mengantuk tapi semakin larut semakin banyak pengunjung yang datang. Dan benar-benar tenaga ku harus terkuras habis malam ini.
Mata ku sudah mulai menyipit, menandakan jika aku benar-benar mengantuk. Tapi aku harus profesional dalam bekerja, dengan pelan aku melangkahkan kaki menuju toilet. Hanya untuk sekedar membasuh wajah ku agar rasa kantuk ku bisa hilang. Lalu setelah itu akupun kembali bekerja.
"Agel?" merasa terpanggil aku pun menoleh ke belakang. Senyum ku pun mengembang saat melihat atasan ku.
Dengan langkah pelan aku pun mendekat. "Iya bu, ada yang perlu saya bantu?"
"Ini sudah larut, Agel."
Aku tersenyum, atasan ku ini memang selalu mengerti dengan kondisi ku. Tapi maka dari itu aku pun merasa tak enak hati.
"Emang kenapa bu?"
"Agel harus pulang, besok sekolah kan?"
"Gakpapa kok bu, Agel masih kuat."
"Gak usah di paksain, Agel. Mata kamu itu gak bisa bohong loh, mata kamu udah mata panda gitu."
"Lagian, pasti Angga nungguin kamu." mendengar itu aku mengangguk pelan dan beralih memeluk atasan ku itu. Dia sudah ku anggap sama seperti ibu ku sendiri.
"Agel pamit yah bu," ucap ku dan langsung melepas pelukan ku dan mencium punggung tangannya.
Saat aku keluar dari cafe, angin malam pun menerpa wajah ku membuat anak rambut ku berterbangan. Aku mendonggak, dan mata ku pun menangkap banyaknya bintang yang kerlap-kerlip di langit gelap.
Bicara tentang langit, aku jadi teringat tentang seorang yang tadi memberi ku pulpen gratis.
"Lo harus mau, dan lo harus ikut lomba kali ini!"Â
"Gue gak mau."
"Langit, lo kok jadi nyebelin gini sih!"
"Gue emang nyebelin."
"Pokoknya lo harus ikut."
"Sekali nggak, yah nggak!"
"Langit,"
Begitulah, tadi aku sempat menguping percakapan antara cowok tadi yang memberi ku pulpen dengan seorang cewek manis yang ku ketahui seangkatan dengan ku. Keduanya nampak berdebat, dan aku mendengar cewek itu berteriak dengan menyebutkan nama Langit.
Jadi, bisa ku simpulkan jika cowok tadi bernama Langit. Huh, nama yang indah bukan? Seindah pemiliknya.
Langit, Langit dan Langit. Nama itu bagaikan sebuah alunan melody yang selalu melekat dalam ingatan ku. Dan apa kalian percaya? Menyebut namanya saja bisa membuat ku berkeringat dingin dengan degup jantung yang tak karuan.
Bagaimana bila bertemu yah? Bisa-bisa aku mati muda.
Kini aku sudah ada di atas motor ku, motor yang ku beli dengan sisa uang tabungan dan hasil kerja ku. Aku menghidupkannya dan dia pun membawa ku keluar dari area parkir cafe, membawa ku ke jalan raya yang nampak masih padat akan lalu-lalang pengemudi.
Dengan kecepatan pelan, aku membelah jalan raya menikmati indahnya malam hari. Dimana-mana lampu terlihat kerlap-kerlip dengan suara bising deru kendaraan.
Tak perlu membuang banyak waktu, setelah duapuluh menit menempuh perjalanan akhirnya aku sampai di sebuah kos-kosan minimalis dengan desain klasik.
Aku pun memarkirkan motor ku dan turun lalu berjalan ke pintu kos-an ku, mengetuk pintu sambil merapihkan penampilan ku yang sangat acak-acakan.
Karena menurut ku Angga tak boleh melihat keadaan ku yang jauh dari kata baik-baik saja.
Pintu pun terbuka, menampilkan sosok Angga yang nampak tersenyum senang.
"Akhirnya kakak pulang," Angga langsung berhambur ke pelukan ku dan tentu aku pun membalas pelukannya.
"Kenapa belum tidur?" tanya ku lembut sembari mengusap rambutnya sayang.
"Nungguin kakak," aku tertegun. Padahal aku selalu mengatakan bahwa jangan menunggu, karena aku selalu pulang larut dan itu bisa mengganggu Angga untuk bangun pagi.
"Lain kali tidur aja yah, kakak kan pulangnya larut. Dan kakak gak suka kalau Angga nungguin kakak pulang." Angga pun mengangguk meski ada raut sedih di wajah tampannya itu.
🌈🌈🌈