I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Maaf?



Kata maaf memiliki dua makna mendalam. Pertama, menyesali kesalahan. Kedua, ingin mengulangi kesalahan yang sama.


🌈🌈🌈


"Apa maksud video ini, Na?"


Fana hanya diam mendengar suara Langit yang meminta kebenaran.


"Lo bohongin gue?" Langit menggelang tak percaya, "Gue nggak nyangka lo bisa sejahat ini,"


Tanpa mengucapkan kata-kata lagi Langit pun memilih pergi dari acara ulang tahun Fana.


"Langit..."


Bahkan teriakan Fana tak bisa menghentikan langkah Langit.


Langit benar-benar keliru, bagaimana bisa dia tidak percaya dengan Agel. Bagaimana bisa dia malah murka kepada Agel yang ternyata adalah korban.


Langit memutuskan untuk pulang saja, saat sampai di rumahnya. Langit melihat Bundanya yang terlihat termenung. Dengan wajah yang agak pucat.


"Bunda gak kenapa-napa kan?"


Bunda menggeleng kuat dan meremas tangan Langit. Meminta sesuatu hal yang membuat Langit ingin menolak tapi tak bisa. Ini demi Bundanya.


🌈🌈🌈


Aku masuk ke dalam kos-an dengan senyum yang merekah. Angga yang tengah duduk langsung terlihat lebih heboh dari diri ku.


"Abang Andre!" Angga memekik dan melompat ke arah Andre.


"Hey tampan!" mulailah sifat menjengkelkan Andre.


"Drama." kata ku jengah dan menatap malas keduanya.


"Dia iri." bisik Andre tapi aku masih bisa mendengarnya.


Aku yang masih kesal lantas membuka sebelah sepatu ku dan memukul punggungnya sekali.


Andre meringis, "Rasanya kayak ada manis-manisnya gitu loh."


Tawa Angga pun pecah.


Memang untuk berinteraksi dengan orang setengah waras seperti Andre itu akan membuang banyak tenaga. Dan kini tenaga ku sudah mulai melemah akibat terlalu banyak berinteraksi dengannya.


"Ngantuk." aku pun menguap dan melangkah menuju kamar ku.


Aku mendengar suara Angga yang berteriak tapi tidak jelas. Aku hanya mendengar 'ada' dan 'kamar' jadi sudahlah aku tak peduli.


Rasanya kaki ku juga lelah menggunakan sepatu berhak agak tinggi ini.


Aku membuka pintu kamar dan berjalan masuk mencari sakelar. Setelah aku menyalakannya bersamaan dengan itu pintu tertutup cepat. Aku pun terlonjat kaget. Untung saja aku belum melepas dress ku, pasalnya aku juga sudah gerah.


Aku menoleh dan mendapati Langit yang berdiri di pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Dengan acuh aku langsung berbalik dan melepaskan sepatu ku. Mengambil baju tidur dan masuk ke kamar mandi. Setelah berganti baju aku pun keluar dan masih melihat Langit di sana.


Aku yang merasa risih akan tatapannya langsung mencibir."Ada apa?" kata ku dengan mencoba biasa saja.


"Apanya?"


Lihatlah dia, apa dia tidak merasa bersalah. Masuk ke kamar ku lalu berbicara ketus kepada ku.


"Kenapa masuk ke kamar ku?"


"Apa masalahnya buat elo?"


"Karena ini kamar ku dan sekarang aku ingin tidur."


"Yaudah tidur!" Langit berjalan ke arah ku sembari menatap ku lekat.


Tatapannya itu berbahaya. Ada makna tersirat yang ada di dalamnya.


"Bunda sakit, dia mau lo nginep di rumah."


"Sakit apa?" kata ku dengan panik.


"Masuk angin kayaknya."


"Terus kenapa kamu ninggalin Bunda sendiri?"


"Yah karena Bunda nyuruh gue datang ke sini jemput elo."


"Kamu bisa nggak ngomong tanpa nyolot gitu?"


Langit menghela nafas. "Gue emang gini, masalah?"


Tangannya langsung merengkuh pinggang ku dan menarik ku untuk keluar dari kamar.


Aku yang merasa kesal langsung mengomel, tapi jelas dia tak akan peduli.


"Yang udah taken, ahay..."


Rasanya aku ingin memukul Andre dengan sepatu hak tinggi ku.


Aku menatap tajam ke arah Andre, "Aku kira kamu masih sendiri."


Langit semakin mempererat pegangannya di pinggang ku. Membuat ku bergerak tak nyaman.


"Posesif banget bro!" celetuk Andre dan itu tidak mendapat respons dari Langit.


"Kakak pergi dulu yah, Angga."


Angga mengangguk dan Langit pun membawa ku masuk ke dalam mobil.


Saat di dalam mobil aku hanya diam dan begitu pun dengan Langit. Aku menarik nafas dan mengucek mata ku. Rasa kantuk menyerang diri ku.


Aku mengerutkan alis ku saat melihat banyak notif yang masuk di Whatsapp ku. Lebih tepatnya di grup kelas ku.


Aku tersenyum membaca percakapan teman kelas ku, di sana yang paling mendominasi adalah Edi si biang kerok.


Tak lama ada satu video yang masuk di grup Whatsapp itu, dan video itu katanya lagi viral di Instagram. Aku yang tidak penasaran hanya mendiamkannya sampai setelah terunduh aku membukanya.


Dan mulut ku menganga saat melihat isi video itu.


Aku langsung melirik ke arah Langit, apa dia sudah tau? Buru-buru aku menyimpan telpon genggam ku dan berpura-pura fokus pada jalanan. Sebenarnya aku tidak mau membahas itu lagi.


"Siapa?"


Aku menoleh dan menatapnya dengan tanya. Sambil mengerutkan alis ku.


"Siapa apa?"


"Cowok tadi."


"Yang mana?"


"Yang di rumah elo, papan kayu!"


Aku yang mendengar dua kata terakhir langsung kesal. Ingin aku menjitak kepalanya tapi aku tak berani.


"Andre?"


"Mana gue tahu."


Bisa tidak dia bicara tanpa nyolot begitu? Rasanya aku ingin menggantungnya saja.


"Yaudah." ketus ku dan memejamkan mata karena mengantuk. Mata ku terasa sangat lengket dan ingin tertidur. Awalnya aku melawan tapi lama kelamaan aku pun hanya pasrah saja.


🌈🌈🌈