I HOPE: The Road to Happiness

I HOPE: The Road to Happiness
Biarkan Luka



Sekarang dia sudah sendiri. Dan sekarang aku menjadi takut, kamu akan pergi dan datang menghampirinya. Dengan alasan kamu ikut prihatin akan kesendiriannya.


🌈🌈🌈


Aku tidak langsung pulang, aku memilih langsung ke tempat kerja ku. Hitung-hitung aku ingin meminta maaf karena terlalu sering tak masuk bekerja akhir-akhir ini.


Dan aku pun tak bisa membayangkan jika Ibu Lili tak membantu ku waktu itu.


Dulu aku selalu mengalami masalah dalam mencari pekerjaan, karena Ayah ku selalu mengancam orang-orang yang mau mempekerjakan aku. Hingga orang-orang pun merasa takut.


Tapi Ibu Lili dengan berani mengatakan ingin mempekerjakan diri ku. Ia turut prihatin akan masalah ku. Dan awalnya aku ragu untuk menerima ajakannya karena aku takut Ibu Lili akan terluka. Tapi baru ku ketahui jika suami dari Ibu Lili adalah seorang tentara dan anak Ibu Lili ada yang menjadi polisi. Pantas saja Ayah ku tak berani mengganggunya.


Awalnya Ibu Lili juga ingin melaporkan kasus Ayah ku tapi aku melarangnya. Biar bagaimana pun dia tetap Ayah ku meski dia sama sekali tak berperan sebagai Ayah yang sesungguhnya. Tapi aku selalu berusaha menghargainya.


Karena yang ku tahu, untuk di hargai oleh orang lain. Maka kita harus bisa menghargai orang lain juga.


"Agel," aku menatap Ibu Lili dengan senyuman.


"Kamu gak apa-apa kan?"


"Seperti yang Ibu lihat, Agel masih utuh!" canda ku dan membuat Ibu Lili tertawa kecil.


"Maaf Bu, akhir-akhir ini Agel jarang masuk bekerja." sesal ku dengan perasaan berkecamuk.


"Udahlah, Ibu ngerti meskipun kamu gak pernah cerita."


"Makasih bu,"


Ibu Lili tersenyum. Dan aku pun membalas senyumannya itu. Setelah bercakap-cakap aku pun memilih bekerja.


Meski aku kurang fokus kali ini. Bayangan Langit bersama Fana membuat ku merasa jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Hingga aku merasa jarak ku dengan Langit akan semakin jauh.


Selalu sulit, karena mereka berdua itu sahabat. Dan aku tak boleh berpura-pura tak tahu. Fakta yang nyata adalah jika Langit mencintai Fana. Itu dia.


Dan bahkan sampai sekarang untuk lepas itu sangat susah.


Meski sulit aku mencoba fokus. Lagi pula tak akan berguna jika aku memikirkan Langit terus yang sudah pasti sudah berbahagia pergi dengan Fana.


🌈🌈🌈


Aku memilih mendekam di dalam ruang kelas dan berkutat pada lembaran double folio yang berisi soal-soal yang harus di jawab secepatnya lalu di kumpul.


Bahkan sudah tak terhitung berapa kertas yang sudah aku gunakan. Di tambah lagi banyaknya materi yang aku hafalkan untuk mendapat nilai yang bagus saat ulangan.


Yah, kebanyakan guru mata pelajaran ku memilih melaksanakan ujian secara lisan. Karena menurutnya itu lebih aman dan tenteram.


Aku sebenarnya tak masalah, tapi kadang kala aku juga sering gugup.


Beda dengan teman-teman ku yang kocak itu. Rela mondar-mandir sambil menghafalkan kisi-kisi yang diberikan. Bahkan banyak teman-teman kelas ku ada yang tidak istirahat. Tapi aku salut dengan usahanya.


Tahukan jika usaha tidak akan menghianati hasil.


"Berita hot guys." salah satu teman ku datang dan berlari seperti cacing kepanasan sambil mengipas-ngipaskan tangannya heboh.


"Apalagi sih?"


"Aelah, palingan dia mau ngomong kalau dia habis makan lewat mulut!"


"Tahu tuh, dasar aneh."


"Kali ini beritanya beneran hot, baru diangkat dari minyak yang panasnya ngalahin gosip lambe turah." balas Edi tak mau kalah. Teman kelas ku itu memang suka melebih-lebihkan omongannya.


"Awas aja kalau nggak se-hot yang lo maksud, gue masukin lagi lo ke perut emak lo." teriak sang ketua kelas yang sudah mulai jengah.


"Iya, yaudah lo pada diem dong!"


Semuanya pun hanya diam, ingin mendengarkan berita yang di bawa Edi itu.


"Jadi," kata Edi dan menggantung ucapannya.


"Cepetan kampret," teriak salah satu siswa lain.


"Jadi, dua loli milkita, setara dengan segelas su...."


Plak...plak...plak..


Jangan salahkan teman-teman ku yang langsung murka mendengar candaan Edi itu. Lantas buku, pulpen, tip-x, penggaris, sepatu, kos, tas, dasi, topi, seragam pun berterbangan ke arah Edi yang nampak cengengesan tak berdosa.


"Sialan,"


"Kampret,"


"Terlaknat,"


"Aje gile,"


"Gue cincang juga lo Di,"


Aku tertawa keras melihat ekspresi kesal teman-teman ku.


"Aelah gue bercanda, nih yang sebenarnya itu..."


"DIAM!" teriak seluruh teman kelas ku kompak.


Edi mengerucutkan bibirnya kesal. "Padahal gue cuman mau ngomong kalau Fana sama Erick putus." singkat Edi kelewat santai.


"Apa?"


Aku menggebrak meja dan langsung berteriak nyaring membuat semua teman kelas ku menatap ku aneh.


Aku hanya memasang wajah absurd dan kembali duduk lagi.


"Lo kenapa?" aku menggeleng sebagai jawaban.


Aku pun larut dalam pikiran ku yang kalut. Pantas saja Langit terlihat lebih sering bersama Fana. Ternyata Fana dan Erick sudah putus.


Pasti Langit senang, akhirnya dia punya kesempatan untuk dekat lagi dengan Fana.


Lalu apa kabar dengan ku? Ah itu pertanyaan bodoh, aku akan menunggu waktu sampai Langit akan mengatakan bahwa hubungan kita akan berakhir.


Meski tak rela, aku harus menyiapkan diri. Karena lambat-laun waktu itu akan tiba.


Langit akan meninggalkan ku dan pergi dengan Fana. Pergi dengan orang yang di cintainya. Dan meninggalkan orang yang dibencinya. Dan aku orang yang akan ditinggalkannya, aku juga orang yang di bencinya.


Hidup ku miris sekali bukan?


🌈🌈🌈