
Atas perubahan ini kamu memberi ruang, mengatas namakan kita adalah dua orang asing yang saling tak mengenali.
🌈🌈🌈
Keduanya nampak saling berpandangan seraya melepas rindu meski tak ada kata yang terucap di antara keduanya. Jarak antara keduanya membuat mereka seolah-olah menjadi orang asing.
Tak ada yang mau memulai pembicaraan ini. Kedua nampak asing bergelut dalam rindu yang seketika menguap atas indahnya pertemuan yang tak terduga.
Sepertinya keduanya terjebak dalam ruang yang hampa sesaat.
"Kamu kenal dia?" tanya pria paruh baya yang memakai setelan jas hitam tak lupa tatapan angkuh yang selalu menghiasi wajahnya.
Agel menggeleng cepat, "Tidak ayah."
"Agel." panggil Langit sembari menggeleng.
"Bagus."
Agel pun berlalu dengan langkah ragu meninggalkan Langit yang masih terdiam.
Tak ada kata yang bisa menjelaskan perasaan Langit. Hancur, kurasa lebih parah dari itu. Patah, kurasa lebih menyedihkan dari itu.
Langit menatap kosong wanita itu, apa yang terjadi hingga perubahan membawa wanita itu pergi.
Awalnya Langit bahagia, karena pertemuan kembali mempertemukan keduanya. Namun sayang Agel menjadi orang asing yang tak mau mengenali Langit.
Apa semua harus berakhir seperti ini. Wanita itu telah membuat Langit hidup tanpa hati. Tanpa harapan dan tanpa cinta.
Keesokan harinya Langit mendengar kabar jika Agel telah resmi pindah sekolah. Langit telah mencoba mencari tahu kemana wanita itu pergi tapi tak ada satupun yang mau memberitahunya.
Hal itu membuatnya semakin marah akan hidupnya. Jika uang dapat membungkam mulut orang murahan maka mungkin dengan uang pula untuk membuka mulut murahan orang itu.
Di hari itu Langit bersumpah untuk tak menjadi dirinya. Langit hancur bersama dengan harapan, harapan mencintai wanita itu. Jadi biarkanlah hari ini dia mencoba membunuh cintanya pada wanita itu dan menumbuhkan kebencian yang amat pada wanita itu.
Wanita itu telah membuatnya hancur tak terbentuk. Bagaikan debu yang tak kuasa menahan terpaan angin.
Langit membenci dirinya sendiri karena telah melukai wanita itu dalam dan membuat wanita itu berubah. Tapi Langit juga membenci wanita itu karena dia pergi tanpa memberi alasan. Jika memang dia terluka atas perlakuannya selama ini maka jadikan itu alasan. Dan Langit akan menjelaskan jika dia sekarang diselimuti oleh penyesalan.
Bukan malah meninggalkan dan berpura-pura tak mengenali. Itu bahkan sama dengan penghinaan yang membuat Langit merasa rendah karena cinta.
Sejak saat itu tak ada yang menjadi dirinya sendiri, Langit menjelma menjadi orang yang kejam, akan hidup tak akan ada kata maaf dalam dirinya. Sebab untuk mendapat kesempatan kedua, orang yang meminta mungkin harus merelakan nyawanya.
Rasa sakit tidak membuat Langit hancur namun membuat Langit menjadi kuat meski rapuh. Rasa sesak itu menjelma menjadi pukulan yang siap menemani Langit dalam hidup.
Dingin dan tak tersentuh. Kasar dan tak peduli begitulah yang terjadi dengan Langit. Bagi Langit dia sudah lama mati. Dan semua itu karena wanita yang membuatnya jatuh ke dalam jurang luka dan lara yang menyesakkan.
Tak akan ada kepedulian dalam hidup.
Hampa jelas menyapa hatinya yang tak berpenghuni. Namun untuk melupakan sosok yang telah pergi maka harus dia lakukan meski harus membutuhkan waktu yang lama atau bahkan seumur hidup.
Kepergian yang menyedihkan tak meninggalkan banyak kenangan yang menyenangkan tapi malah menghujani dengan kekecewaan yang membuat sang hati luluh akan harapan yang tak kunjung membahagiakan.
Atas dasar rasa yang di beri nama, hingga tertinggal jauh di masa lalu. Biarkan lembaran baru terbuka hingga membentuk kisah yang baru tanpa mengingat yang lama.
Jika wanita itu mengatakan tidak mengenali, maka Langit pun bisa berhenti mengenali dan berhenti untuk peduli. Jika itu yang wanita itu mau, maka terkabul lah sudah.
Keduanya akan menjadi orang asing yang merasa tak pernah saling mengenali. Dan saling berdusta jika tak pernah saling menaruh hati.
Padahal nyatanya keduanya tlah sama-sama jatuh dalam ke hati. Menaman cinta yang berarti tapi semua malah tertupi oleh sebuah rahasia.
Sejak saat itupun Langit tak pernah melihat wanita itu. Seakan-akan wanita itu benar-benar bersembunyi di ruang yang sangat sunyi tanpa ada orang yang mengetahui.
Langit mencoba untuk biasa saja, membunuh rasa dan peduli namun apalah daya cinta masih berkuasa di dalam hati. Memaksa untuk peduli dan bertahan. Kepeduliannya itu berbentuk harapan, harapan untuk kembali dan melanjutkah kisah lama.
Meski seringkali ego menguasai, mengatakan jika wanita itu hanya orang asing yang harus di buang ke dalam lembaran masa lalu yang tak perlu di ingat dan di ungkit oleh hati.
Lupakan. Mungkin itu yang terbaik.
🌈🌈🌈