Hidden Mafia

Hidden Mafia
9. Nikahan anak tetangga



Seisi desa sedang disibukkan dengan sebuah kegiatan hari ini.tampak di akun alun desa ramai orang berbondong-bondong memakai pakaian rapi berwarna-warni dengan segala macam gaya.


Ada yang rambutnya disanggul setinggi gunung Himalaya, ada yang rambutnya dikeriting lebih kriwil dari mie instan, ada yang make up-nya sampai cosplay jadi korban kdrt alias terlalu tebal sampai sampai warna wajah nya seperti terkena pukulan.


Alun alun desa tampak ramai dengan penonton, yang pasti ini bukan sekedar penonton. Penonton yang hadir hari ini adalah penonton yang diundang untuk acara nikahan anak tetangga Pak Yanto.


Anak tetangga Pak Yanto yaitu anaknya Bu Indah si tukang gosip alias satelit berjalan di kampung itu. Tentu sebutan satelit berjalan ini hanya dianugerahkan pada mereka yang setiap saat bisa menyebarkan rumor dan berita secepat siaran kilat di televisi nasional. Satu cerita busa langsung tersebar ke seluruh penjuru desa.


Bukannya terkenal karena kehebatannya, tapi bu Idah terkenal karena hobi menggosipnya.


Seisi desa dibuat terkejut dengan kabar pernikahan putri bungsu Bu Idah yang usianya sama dengan usia Eliana putri pendiam Pak Yanto .


Eliana tidak masuk kerja hari ini, dia mengambil cuti untuk istirahat dan menggunakan cuti kerja yang sebelumnya belum pernah dia gunakan. Setelah kejadian menyedihkan itu, Eliana berusaha menata kembali hatinya dan memperbaiki semuanya agar kembali ke tempatnya.


"Eli bantuin Ayah, ini ayah gak tau masang dasinya!!" Pak Yanto terdengar ribut ribut sambil keluar dari dalam kamarnya dengan kemeja acak acakan seperti baru saja diterpa angin badai yang begitu kencang. Rambutnya yang mulai memutih tampak seperti sarang burung, kemejanya berantakan dan dasinya dia ikat seperti orang yang sudah segan untuk hidup di dunia ini.Jangan lupakan bawahannya masih menggunakan sarung cap buaya keluaran terbaru dari kampung sebelah.


"pffthh bwahahahahahhaha........ Ahahahahahha... Pak Yanto bapak mau kemana ajahahahahhaha itu leher kenapa diikat kayak kepala kerbau, bapak jadi mirip si UKI hahahahhahahahah...." Budi yang duduk di ruang tamu dengan penampilan yang sudah rapi tertawa terbahak-bahak melihat penampilan pak Yanto yang acak acakan.


Tak ayal Eliana ikut terkekeh melihat penampilan ayahnya yang berantakan. Benar kata Budi, Pak Yanto jadi mirip si UKI, kerbau tua yang sudah bertahun tahun mereka peliharaan bahkan sampai punya banyak keturunan.


"Arghhhh Budi beraninya kau menertawakan aku, dasar kutu kupret, kupotong gajimu tau rasa kau!!!" teriak Pak Yanto dengan wajah memerah dan tangannya masih menarik dasi yang terikat di lehernya itu.


Tampak jelas kalau wajahnya memerah karena ikatan dasi itu terlalu ketat.


"Bwahahahahha bapak si lucu ahahahhah... mirip si Uki moowwww.... brrhhh hahahahahaha...." Budi tak sanggup menahan tawanya. Benar benar menyenangkan saya melihat Pak Yanto malu seperti saat ini.


"Eli tolong ayah nak, haishh.... Ayah udah lama gak dipasangkan dasi, jadi gak tau, dulu Ibu kamu yang rajin pas... eh ....


Pak Yanto terdiam saat dia sadar kalau kata katanya bisa saja menyakiti hati Eliana.


Namun tampaknya Eliana cukup tenang mengatasi situasi itu, dia tersenyum lembut, sebuah senyuman mahal yang tak pernah dia tunjukkan pada siapa pun kecuali ayahnya.


Gadis itu mendekat kepada sang ayah," sini Elia bantu rapikan," ucapnya pelan.


Pak Yanto terdiam, dia tau kalau barusan dia hampir membuat suasana kembali seperti kuburan padahal baru saja dia melihat Eliana tertawa pelan saat melihat penampilan konyolnya.


"Eli...


"Nggak apa apa Ayah, " ucapnya sambil merapikan penampilan ayahnya. Memperbaiki kemeja dan memasangkan dasi ke leher Ayahnya dan memastikan kalau penampilan Ayahnya sudah sempurna.


"Wihhh Pak Yanto bisa ganteng juga ya pak hahaha..." Celetuk Budi si pria gemuk dengan kulit putih dan rambut super hitam. Pria paling kocak yang pernah mereka temui di bumi ini.


"Heh udah ganteng dari orok!" celetuk pak Yanto.


"Ya elah pak, saya mah lebih ganteng, lihat ini ototnya...." Budi mengangkat tangannya," ototnya ditelan lemak bwahahahahhaha.... lemak semua pak, gelambirku dimana mana pffth bwahahahahahhahaha........" Budi tertawa terbahak bahak mengejek dirinya sendiri.


"Ahahahha kau sadar juga, dasar gumpalan lemak, diet dong Budi, biar gak sesak nafas, kasihan jantungmu nanti penyakitan tau rasa," celetuk pak Yanto.


"Hehehe lagi diusahakan Pak, saya gak tahan kalau gak makan," kekeh Budi.


"itu sih maunya Kak Budi," balas Eliana pelan.


Baik Pak Yanto maupun Budi sama sama saling menatap kalau Eliana baru kali ini menanggapi pembicaraan mereka. Meski singkat, setidaknya ada respon dari gadis itu.


"Sudah selesai," ucap Eliana setelah dia merapikan pakaian ayahnya.


Tanpa mereka sadari sejak tadi Loren menatap mereka dari pintu kamarnya. dia berdiri sambil berpangku tangan menatap ke arah Pak Yanto, Eliana dan Budi. Menatap sambil melamun, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Ayah saja duluan, nanti Elia nyusul," jawabnya seingatku.


"Baiklah, kalau sudah sampai disana langsung cari ayah, kalau gitu ayah beberes dulu," ucap Pak Yanto dengan penuh semangat 45 karena hari ini dia melihat putrinya sedikit berbeda dari biasanya.


"Pak Yanto, Saya nunggu di depan ya, " ucap Budi sambil beranjak keluar.


"iya Ndut!" celetuk Pak Yanto yang hanya dibalas dengan tatapan kesal olah Budi.


Pak Yanto melihat sosok Loren yang berdiri di depan kamar, " Loren kamu ikut atau tidak?" tanya pria itu.


"Tidak Pak," jawabnya dengan tegas sambil mengangkat botol minumannya hendak pergi keluar untuk melakukan rutinitas sebagaimana biasanya.


"Jangan terlalu banyak minum Alkohol, tidak baik untuk mu!" ucap Pak Yanto namun tak digubris oleh pria itu.


Loren beranjak keluar tanpa menoleh, jelas sekali dia adalah tipikal pria paling cuek sejagad raya.


"CK..CK.. CK... dasar anak ini, cuek sekali!" celetuk Pak Yanto. Padahal yang di dekatnya juga sama, gadis paling cuek seantero negeri juga menunjukkan ekspresi yang sama.


Pak Yanto menatap Eliana dan Loren bergantian, dengan segera dia menggelengkan kepalanya. Mengomel pun tak berguna jika mereka berdua sama sama pendiam seperti ini.


Setelah mengganti sarung cap buaya dan merapikan rambut sarang burungnya, Pak Yanto dan Budi berangkat terlebih dahulu ke acara nikahan anak satelit kampung itu.


"Pak Rumor nya, anak Bu Idah menikah dengan kolong melarat, keren gak tuh!" celetuk Budi dengan wajah polosnya.


Plaaakkkk....


"Ehhh si goblok, ae naon kamu Budi!!!!" ketus Pak Yanto sambil memicingkan mata menatap Budi.


"awohhhh Pak Kepala saya udah keras gak usah digetuk segala, sakit tau, ini aset berharga dunia loh pak!" ucap Budi seraya mengelus-elus kepalanya.


" Kamu tuh kalau bicara ya mikir, kolong melarat apaan bwahahahahahha...... yang benar KONG...LO... ME..RAT!" ucap Pak Yanto sambil menekankan kata katanya.


"Eh Upsss salah pak hahahahah... " Budi tertawa cengengesan dengan wajah malu saat menyadari kesalahannya.


"Tapi bener pak, heboh satu desa kita karena anak Bu Idah nikah sama orang kaya raya, katanya maharnya sampai ratusan juta!" Ucap Budi dengan penuh semangat.


"Ya ampun kamu percaya aja sama rumor, udah lah gak usah bicarakan orang lain, sekarang kamu mikir apa kamu bisa nikah atau nggak!?" ucap Pak Yanto sambil melangkah kakinya menuju parkiran tempat sepeda motornya diparkir.


"Kan ada anak pak Yanto," Ucap Budi seraya mengedipkan sebel mata ke arah Eliana yang berjalan mengikuti mereka sejak tadi.


"Budi!!!" Pak Yanto menepuk bahu Budi dengan keras. Saat mendengar ucapan Budi, Eliana terkejut bahkan Loren yang duduk di pinggir kolam melirik mereka melalui ekor matanya.


Tatapan Eliana begitu dingin seolah menjelaskan kalau Budi jangan sampai kelewat batas. Alasannya karena Budi sudah punya pacar, bisa bisanya dia bercanda dengan kata kata seperti itu.


"Eh... ma..maaf, saya bercanda pak, saya udah punya pacar kok, ma..maaf ya Elia, maaf pak," Budi merinding melihat tatapan tajam dari Eliana seolah dia siap menerkam Budi saat ia ini juga.


"Makanya jangan bicara omong kosong , kalau nggak kuadukan kau pada pacarmu!" ketus Budi.


" Wahhhh gosip baru nih, CK..CK.. ck... pembawa sial memang selalu membuat masalah!" gumam seseorang dari pinggir jalan. Dia mencuri dengar pembicaraan mereka.


.


.


like, vote dan komen 🤗