
Eliana masih menatap kertas-kertas hasil pemeriksaan tubuh Loren. Kertas dari rumah sakit yang diberikan terkait dengan kondisi kejiwaan Loren saat ini serta beberapa foto saat Loren diikat di dalam kamarnya, foto-foto yang sengaja diambil untuk mengetahui sejauh mana perkembangan penyakit Loren dan sampai mana pria itu bisa bertahan.
Eliana sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat membaca informasi tentang penyakit pria itu, kata-kata Loren tidak main-main, dia mengidap penyakit serius yang tidak tau entah kapan itu akan sembuh.
Foto saat dia menggila dan diikat bahkan tubuhnya bersimbah darah dan terluka, tampaknya luka-luka itu dia dapatkan setelah melukai dirinya sendiri dengan benda benda tajam.
Eliana syok, air matanya terjatuh, dia menangis saat melihatnya dengan lebih jelas Eliana sadar kalau dia telah menyakiti seorang pria yang benar benar butuh perhatian. Secara tidak langsung Eliana malah membuat Loren semakin tidak percaya dengan orang lain.
“ Apa yang kulakukan... aku membuat janji bodoh dan malah melukai hati pria yang begitu baik padaku selama ini... aku... aku ini benar benar tidak berguna,” Eliana meratapi kesalahannya sendiri.
“ Dia selama ini baik padaku, aku memintanya dengan cara yang tidak sopan tapi dia menjelaskan kondisi tubuhnya padaku tapi yang kulakukan adalah melarikan diri hanya karena takut dengan identitasnya? Hanya karena alasan bodoh itu aku kabur? Padahal dia begitu baik dan terus menjagaku...” suara gadis itu terdengar gemetar.
Mata Eliana tertuju pada laci meja itu, dia semakin penasaran dengan sifat asli pria itu dia semain ingin tau segalanya tentang Loren. Tangannya membuka laci kecil itu dan betapa terkejutnya dia saat menemukan begitu banyak obat-obatan yang ternyata selama ini dikonsumsi oleh Loren.
“ Dia sesakit itu?” pikir Eliana sambil mengangkat salah satu botol obat neuropatik yang dikonsumsi oleh Loren bahkan banyak jenis obat penenang yang diberikan untuk di konsumsi oleh pria itu.
Eliana menangis, dia sadar kalau Loren sama dengan dirinya, sama-sama memiliki kekurangan, tapi dia telah menyakiti hati pria itu dengan memberikan harapan palsu seoah dia bersedia menjadi pendamping Loren tapi nyatanya dia malah melarikan diri padahal belum melihat seperti apa sebenarnya pria itu,
Eliana mengambil ponselnya, dia mencari nomor Loren, gadis itu dengan tangan gemetar menghubungi nomor itu. Beberapa kali percobaan dia masih gagal menghubungi Loren, panggilannya tidak diangkat. Hingga percobaan berikutnya seseorang mengakat panggilan Eliana di ponselnya.
“ Halo Loren... kau diamana? Ayo bertemu ada yang ingin kukatakan,” ucap Eliana.
“ halo El, ini Rena, Loren sudah pergi!” ucap Rena dari seberang sana.
“ Kak Loren sudah berangkat El, dia pergi dari tempat ini tiga hari yang lalu setelah kau berkali kali menolak panggilan terakhirnya, maaf aku tak bisa melakukan apa pun, dia memilih untuk pergi selamanya,” suara Rena terdengar serak, sepertinya gadis itu sedang menangis .
Deghh...
Jantung Eliana berdegup kencang seperti terkena tebasan pedang saat mendengar kata kata Rena.
“ Re... Rena apa maksudmu? Pergi kemana? Loren baik baik saja sebelumnya, apa yang kau maksud dengan pergi untuk selamanya?” tanya Eliana dengan suara gemetar.
“ Ini semua salahmu El, kau yang membuat kakakku, kak Loren pergi jauh, kau yang membuat dia semakin hancur, padahal dia sudah memberanikan diri untuk mengungkapkan jati dirinya padamu tapi apa yang kau lakukan adalah menyakiti hatinya, apa kau masih bisa menyebut dirimu manusia hah?” Rena marah, dia membentak Eliana dan menyalahkan gadis itu atas apa yang terjadi pada Loran.
“ Re... Ren... a...aku..
“ CUKUP!!"pekik Rena bahkan Eliana sampai terkejut.
“ Kau yang membuat kak Loren pergi kau jahat El, padahal selama ini kak Loren melindungimu, apa kau tak ingat sama sekali bagaimana kak Loren begitu mengawasi dan memastikan keadaan mu tetap aman? Kau jahat El... ini semua salahmu, kau sudah tau kalau dia sakit, kau sudah tau semua identitasnya tapi kau malah membuatnya semakin sakit sampai dia pergi untuk selamanya, akkkkkhhh kau jahat El... ini semua salahmu kau membuat kami kehilangan kak Loren hiks hiks hiks.....
Rena menangis tersedu sedu, Eliana tak lagi bisa menahan tangisannya, memang benar kalau tiga hari lalu dia mendapat puluhan panggilan dari Loren, dia bukannya tak ingin menjawab tapi ponselnya ketinggalan di rumah dan dia baru tau ketika pulang dari kantor.
“ Ren.... maaf... aku.... hiks hiks hiks... kuakui aku salah, tapi aku tak tau kalau akan jadi seperti ini hiks hiks hiks...” Eliana menangis, dia benar benar merasa bersalah dengan kajdain itu, dia tak bermaksud tapi dia juga yang memilih menghindari Loren.
Dia tak tau seberapa parah kondisi Loren sampai tadi dia menemukan semua data-data itu. Eliana menyesali perbuatannya, dia yang berjanji tapi dia juga yang lari dari Loren padahal seperti kata Rena, pria itu sudah mebuka diri pada Eliana.
“ Tidak ada maaf bagimu El!! kau benar benar jahat, kau sangat jahat... aku kehilangan kakak yang sangat kucintai.. semua itu karena dirimu!” pekik Rena.
“ Rena.... tolong maafkan aku... tolong bawa aku ke tempatnya, aku ingin bertemu dengan Loren.. tolong beritahu aku dimana dia saat ini,” ucap Eliana dengan nada memohon.
“ Cari saja di London, dia sekarang di London, dia telah beristirahat selamanya disana, kau bisa cari dia dikota itu, kau memang perempuan jahat El, aku kecewa padamu,” ucap Rena sambil mematikan ponselnya secara sepihak.
“ halo... Ren... London mana yang kau maksud? Rena... halo?” Eliana menatap ponsel itu. Dia terdiam membisu, tak bisa lagi berkata apa pun saat ini. Karena perbuatannya Loren telah meninggalkan mereka untuk selamanya.
“ aku tak tau kalau kau sampai semarah itu dan malah memilih pergi Loren... aku... aku memang jahat, maafkan aku...” Air mata gadis itu tumpah, dia berkali-kali menepuk dadanya yang terasa sesak. Dia menangis tersedu-sedu di dalam kamar itu sambil memeluk laporan rumah sakit itu.
“ Aku akan menemuimu apa pun yang terjadi aku akan menemukanmu loren, maafkan aku, meski kita harus bertemu dalam kondisi seperti ini, maafkan aku... aku terlau lemah , aku hanya memikirkan dirikku sendiri..” Eliana akhirnya keluar dari kamar itu, dia mengusap matanya yang ebngkak dan gadisi tu masuk ke dalam kamarnya.
Dia dengan cepat memesan tiket pesawat yang akan berangkat besok hari, tak ingin menunggu lama, dia ingin segera bertemu dengan Loren meski dengan cara yang berbeda kali ini.
“ aku akan menemukanmu!” batin gadis itu,
Sementara itu di rumah keluarga Park, Rena masih menangis tersedu sedu di hadapan semua keluarganya.
“ Huwaaaa.... kak Loren aku berhasil huahahahahhahahahahah,...... ahahhahahahha” tiba tiba gadis licik itu tertawa terbahak bahak.
“ Daddy bawangnya pedes ihhh aku sampai nangis begini, mata Rnea perih hiks hiks hiks....”
Dikira menangis sungguhan, Rena ternyata menangs karena bawang merah dan bawang bombay yang dipegang oleh Dominique dan Otniel dan di taruh di bawah hidung gadis itu.
“ ahhahahahah... kita sukses, dengan begini, kapal akan segera berlabuh.... whooooo Mama kami berhasil!!" teriak Otniel dengan begitu bahagia.
"Ck... ck... ck... Chelsea, ambil surat cerai,talak saja suamimu itu, anak dari mana sih bocah ini?” omel Nyonya besar Park sambil geleng geleng kepala menatap tingkah jenaka putra bungsunya.
“Hahahah.... boleh sih ma, kan semua harta atas nama Chelsea hahahahha...” balas Chelsea tak kalah absurdnya.
“ Heleh kamu mah bilangnya begitu nak, pisah sehari aja dari Otniel udah bikin kamu kayak kehilangan jantung kamu,” celetuk Tuan gamaliel Park yang sedang merangkai bunga di atas kepala istrinya.
“ Benar tuh sayang hahahha...”
“ Heheh i.. iya sih?” kekeh Chelsea.
.
.
.
Like, vote dan komen