Hidden Mafia

Hidden Mafia
28. Ravien Street



Eliana mengeluarkan kartu akses yang diberi oleh Rena, dia berjalan memasuki lingkungan gedung mewah nan besar itu tanpa sadar kalau beberapa orang telah mengawasinya sejak awal tiba di depan rumah itu.


Rumah yang hanya bisa diakses oleh orang tertentu, hanya bisa diakses oleh keluarga Park dan Loren juga beberapa orang kepercayaannya. Jika Eliana bisa masuk ke dalam rumah itu dengan kartu akses maka jelas menunjukkan posisi Eliana bagi Loren. Melihat Eliana datang tanpa pengawasan ketat, maka membuat beberapa orang yang mengawasi rumah itu sadar kala Eliana 'orang baru' yang bisa dimanfaatkan kapan pun untuk menjatuhkan pemilik rumah mewah itu.


"Permisi Nona, anda tidak boleh sembarang masuk ke tempat ini!" penjaga menghalangi langkah Eliana karena dia tak pernah melihat gadis sederhana nan cantik itu.


"Aku datang ingin bertemu dia, ini kartu aksesku," ucap Eliana sambil menunjukkan kartu akses berwarna hitam dengan logam keemasan di tengahnya.


Pengawal yang berjasa disana saling menatap, kartu akses yang dimiliki oleh Eliana menunjuk status Ekin sebagai orang penting yang harus diprioritaskan dan diperbolehkan masuk ke dalam rumah itu seper apa pun kondisinya.


Yang memiliki kartu akses bebas ini adalah tuan dan nyonya besar Park, si kembar dan orangtua mereka. Jika Eliana memilikinya maka Eliana adalah golongan spesial dan dipersilahkan masuk tanpa memberitahu sang pemilik.


"Silahkan masuk nona," ucap pria itu sambil membungkuk hormat, dia tidak curiga kenapa Elina memiliki benda itu, sebab sudah ada komando dari dalam rumah.


"Terima kasih atas bantuannya," ucap Eliana dengan begitu sopan bahkan sampai membuat anak buah yang mendengar hal itu tertegun, pasalnya jarang ada orang yang mau mengucapkan terimakasih pada mere meski mere melakukan hal yang lebih besar dari sekedar membukakan pintu.


"Kami sudah mempersilahkan beliau masuk tuan muda Damian," ucap Salah satu pengawal itu melalui earphone nya.


Eliana masuk ke dalam area rumah mewah itu sambil mendorong sepedanya, dia merasa kagum dengan interior tempat itu, sangat megah dan menakjubkan.


"Pasti banyak orang tinggal di rumah besar ini!" gumam Eliana.


"Loren pasti ditempatkan di salah bagian gedung ini, aku akan menanyakannya pada pengawal, tapi kenapa tempat ini terlihat sunyi dan suram ya? seperti tak ada kehidupan di tempat ini!?" pikir Eliana.


Gadis itu terus berjalan dengan wajah lugu dan polos, tak tau kalau dia sedang diawasi oleh seseorang dari menara penjaga rumah itu.


"Dia gadis yang dimaksud oleh Rena? Hmmm... tapi apa yang akan dia pikirkan nanti jika melihat kondisi Loren saat ini," gumam pria yang kerap disapa Damian, dia adalah anak dari Reva dan Christan anak sulung Luna dan Gamaliel Park.


Cucu keluarga Park yang tinggal di London dan menjalankan kelompok mafia yang dipimpin oleh ayahnya sebelumnya.


"Nenek pasti sangat menyukai gadis ini, dia memang memiliki keberanian yang besar untuk datang ke tempat ini sendirian, tapi aku tak yakin kalau dia bisa menerima Loren dengan baik!" tukas pria itu sambil mengepalkan kedua tangannya dan terus mengawasi Eliana yang sudah berjalan memasuki gedung dengan dampingan dari pengawal.


"Tenanglah Damian, jangan terburu buru mengambil kesimpulan, kau selalu saja begitu, " tukas seorang pria lainnya yang duduk di dalam ruangan yang sama dengan Damian. Dia adalah seorang dokter yang merawat dan menjaga Loren di rumah ini.


Xavier Thomas Maurer, cucu keluarga Aiden Maurer yang memiliki profesi sebagai seorang dokter.Namun hanya sebagai identitas di hadapan publik, dia adalah pria yang selalu menyembunyikan identitasnya dari publik, hidup sederhana dan tinggal bersama kedua orangtuanya David dan Diandra dan juga kakak perempuannya dengan damai di sudut Jerman kota asal kakeknya.


"CK...CK..CK.. apa begini ka diajari Aunty Reva? kurasa aunty akan memukul kepalamu dengan centongan sayur kalau mendengar mu mengatakan hal hal tak berguna itu lagi!" ejek Xavier sambil.mejutar mutar wine di tangan nya.


"Cihh... kalau Aunty Diandra melihatmu minum wine lagi, kau pasti sudah disembelih, aku tak sabar menantikan itu!" balas Xavier lagi.


Kedua generasi dari masing masing keluarga ini memang selalu berdebat. Persis seperti Luna dan Aiden ketika muda, bibir mereka tak lah berdebat tentang berbagai hal, dan ternyata sifat itu turun kepada Xavier dan Damian yang tak pernah bisa damai tapi paling dekat diantara semuanya.


Sementara mereka berdebat, Eliana masih terus berjalan hingga dia tiba di ruangan tunggu untuk tamu di rumah itu.Ruangan yang terkesan suram dan gelap, seolah tak ada cahaya padahal lampu bersinar disana. Auranya sangat muram, dan gelap, membuat Eliana sedikit merinding dengan kondisi tempat itu.


"Silahkan duduk disini nona, saya akan memanggil tuan Xavier," Ucap pengawal yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Eliana.


Eliana duduk dengan menatap seluruh tempat itu dia pikir saat masuk tadi, dia akan melihat banyak orang disana, tau taunya tempat itu bukanlah tempat yang seperti dia bayangkan. Awalnya Eliana berpikir akan ada banyak pengunjung disana, tapi ternyata dia salah besar, tak ada siapa pun disana selain para pengawal yang berjaga di rumah itu.


"Apa aku salah alamat? bukannya yang dimaksud Rena itu tempat pemakaman? kenapa aku malah masuk ke tempat ini? ini malah terlihat seperti mansion mewah ," gumam Eliana yang tiba tiba sedikit takut dengan situasi rumah itu.


Eliana menatap ponselnya, dia benar benar gugup, saking gugupnya dia menghubungi Rena untuk memastikan sekali lagi alamat yang dimaksud gadis itu.


"Halo Rena, apa alamat yang kamu berikan sudah benar?" tanya Eliana to the poin saat mendengar Rena mengangkat panggilan nya.


"Benar, itu alamat nya, kau sudah sampai? " suara Rena terdengar bersemangat di ujung sana.


"Sudah, tapi ada yang aneh Ren, tempat ini tidak terlihat seperti pemakaman, lebih terlihat seperti mansion, apa kau tidak salah kasih alamat? aku jadi takut!" tanya Eliana lagi, jelas suaranya gemetar.


"Itu sudah alamat yang tepat, lagipula siapa yang bilang kalau itu pemakaman, selamat bersenang senang Eliana, kunantikan kabar baik dari dirimu!" ucap Rena yang langsung mematikan panggilan itu secara sepihak.


Mata Eliana membulat sempurna, dia sadar kalau dia sudah ditipu oleh gadis licik itu.


"Apa maksudnya ini!??? apa yang mereka rencanakan!??" pikiran Eliana terbang kemana mana, seketika dia tak bis fokus berpikir. Dia merasa sangat bodoh saat baru menyadari kalau dia telah ditipu oleh Rena.


"Apa kau orang yang membuat Loren semakin sakit!??" suara bariton Xavier terdengar menggema di ruangan itu membuat Eliana sontak berbalik dan menatap orang itu dengan tatapan terkejut.


"Si...siapa!??"