Hidden Mafia

Hidden Mafia
10. Kosong



Kosong


Pak Yanto dan Budi berangkat menuju alun alun desa dengan menggunakan sepeda motor. Sementara itu Eliana di rumah dan menyelesaikan pekerjaannya. Dia mencuci pakaian dengan mesin cuci dan membersihkan setiap kamar di rumah itu.


Eliana mengenakan celana pendek dan kaos longgar berwarna ungu, rambutnya di cepol ke atas. Dia sedang menarik kasur ayahnya untuk di jemur di luar.


“ Hufftt.... berat...” gumam gadis itu sambil menarik dengan tangannya sendiri. Kasur yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri dia tarik sendirian. Gadis itu menyeka keringat yang membasahi pipinya.


“ kalau butuh bantuan bilang saja,” tiba tiba Loren menarik kasur berat itu dan mengangkatnya sendiri lalu membawanya ke tempat penjemuran yang sudah disiapkan.


Eliana terkejut saat melihat pria itu langsung mengambil kasur itu dengan sekali tarik dan mengangkatnya seperti mengangkat karung beras.


Kedua manusia pendiam ini berada dalam suasana yang canggung, lebih tepatnya Eliana yang merasa canggung dengan Loren, sedang pria itu cuek dan bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa apa.


“ Apa ada lagi yang mau diangkat?” tanya Loren tentu saja dengan nada dingin dan datar seperti biasa.


“ Ka... kasur di ru.. ruang depan, kasurku dan milikmu,” jawab Eliana dengan nada sedikit gugup. Tanpa basa-basi Loren beranjak menuju ruang tengah, dia melihat dua kasur lainnya yang sudah di keluarkan oleh Eliana dari masing masing kamar.


“ Maaf tidak permisi dulu, karena pintunya terbuka aku...


“ Lain kali permisi,” potong Loren dengan nada ketus seperti sedang marah. Dia mengangkat kedua kasur itu dengan sekali angkat seolah beratnya tak ada apa-apanya bagi Loren.


Eliana menggigit bibir bawahnya karena merasa terintimidasi dengan sikap Loren yang benar benar dingin. Memang mereka jarang berbicara, bahkan berinteraksi pun jarang. Eliana hanya sering melihat Loren duduk di pinggir kolam dengan tatapan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.


Selebihnya mereka jarang berkomunikasi bahkan berpapasan saja mereka terlihat seperti orang yang tidak saling kenal.


“ Apa dia marah? Biasanya juga aku yang jemur,” gumam gadis itu sambil memainkan jarinya karena takut terkena amukan Loren yang kalau sudah marah terlihat seperti singa liar yang sedang mengamuk saat daerah kekuasaannya direbut oleh musuhnya.


Eliana menetralkan pikirannya, dia membawa bantal bantal ke luar dan menjemurnya di tempat yang sama dengan tempat dimana kasur kasur itu di jemur. Tempat penjemuran yang cukup unik dan akan terhindar dari hujan karena di taruh di bawah atap transparan sehingga jika hujan datang, kasur dan benda benar dibawahnya tidak akan basah.


Loren sudah kembali duduk di pinggir kolam. Pria itu kembali meminum alkoholnya dan menenggaknya perlahan lahan sambil menatap ke atas langit. Terkadang terlihat jelas kalau dia menghela nafas berat berkali kali. Seolah ada batu besar yang sedang menimpa tubuhnya, tatapannya terlihat sedih dan wajahnya murung. Tak ada bedanya dengan Eliana yang juga punya batu besar yang dia bawa di atas pundaknya.


Setelah membereskan pekerjaannya, Eliana berjalan mendekat ke arah Loren.


“ Setiap hari dia hanya duduk disini dan minum minuman keras sambil menghayal, apa yang membuatnya sampai sesedih itu?” pikir Eliana yang tanpa sadar sudah duduk di samping Loren sambil menatap Loren dengan serius.


Keduanya duduk di pinggir kolem dengan pikiran mereka masing masing. Loren bukannya tidak tau kalau Eliana duduk disana, dia hanya terlalu cuek dan pura-pura tak tau saja.


Eliana menatap ke arah kolam sambil menekuk kedua kakinya, menatap sambil memikirkan semua masalah yang datang kepadanya tanpa henti. Cap sebagai gadis pembawa sial yang tak lepas dari hidupnya, dikhianati oleh teman dan kekasihnya, ditekan di tempat kerja, bully dan ejekan serta gosip miring yang selalu muncul setiap kali namanya di bicarakan.


Eliana melihat refleksi dirinya yang bahkan tak bisa melawan ketika dia ditekan dan diejek oleh orang-orang. Hanya diam, menunduk dan menerima semua penghinaan yang dilontarkan oleh bibir bibir itu pada dirinya.


“ Bodoh,” gumam Eliana.


Loren melirik Eliana dari sudut matanya, wajah Eliana terlihat murung.


“ Apa dia juga sama seperti bulan itu? Kelihatan bersinar tapi nyatanya dia tak punya cahayanya sendiri. Tidak akan terlihat kalau tidak ada matahari yang menyinarinya, sepertiku?” batin Loren yang kembali menatap langit.


“ Loren,” suara Eliana terdengar lembut. Gadis itu menatap ke arah Loren dengan tatapan sendu. Mendengar namanya dipanggil membuat Loren menoleh dengan posisi yang sama, menatap Eliana dari mata ke mata, tatapan yang begitu sedih.


Mereka saling menatap untuk beberapa saat, seolah waktu berhenti untuk sesaat. Saling menatap dengan tatapan yang mendalam, seolah mereka sedang berbicara dari hati ke hati.


“ Matamu...” Eliana mulai berbicara pelan,” kelihatan sedih, apa kau juga merasa kosong?” tanya gadis itu.


Loren tak menjawab, dia hanya diam dan menatap Eliana.


“ Cobalah, kau bisa minum?” tanya Loren sambil memberikan minuman itu.


“ Alkohol?” tanya Eliana .


“ Bukan, cobalah,” ucap Loren.


Eliana menerima minuman itu dan membuka penutupnya lalu menenggak minuman itu.” Sshhhh akkhhh... ini alkohol?” mata Eliana membulat.


“ Bukan, hanya minuman berkarbonasi, seperti soda dan alkohol tapi tidak memabukkan,” jawab Loren sambil menenggak alkoholnya.


Eliana mengangguk, “ Ayo menyusul ayah, dan kurangi minum alkohol,” ucap Eliana sambil berdiri lalu beranjak menuju rumah sebelum mendengar balasan Loren. Pria itu hanya menatap Eliana tanpa mengatakan apa pun.


Eliana mempersiapkan dirinya, memakai pakaian rapi dan sopan namun tidak berdandan. Dia merasa tidak enak jika tidak turut hadir di acara itu, pasalnya Bu Idah adalah tetangga sekaligus langganan usaha peternakan ayahnya.


Setelah berpakaian, Eliana keluar dari kamarnya, dia menatap seluruh ruangan, perlahan berjalan sambil menutup jendela dan bagian belakang rumah sebelum berangkat.


“ Dia tidak ikut?” pikir Eliana saat melihat kamar Loren tertutup dan lampu sudah dimatikan. Gadis itu melangkahkan kakinya, dia berjalan keluar sambil melihat kesana kemari mencari sosok Loren.


Terdengar suara motor sedang dipanaskan di halaman, mata gadis itu menangkap sososk Loren yang sudah berpakaian rapi dengan kaos biru dan celana jeans. Rambut panjangnya diikat ke belakang dan lebih rapi dari biasanya.


Tanpa mengucapkan apa apa, Eliana mengunci rumah dan memastikan semuanya tertutup dengan benar.


“ Kompor sudah dicek?” tanya loren dan langsung di balas dengan anggukan kepala oleh gadis itu.


Eliana dan Loren berangkat menuju alun alun desa dengan menggunakan sepeda motor. Terlihat jelas kalau eliana menjaga jarak dengan Loren. Loren yang paham dengan situasi, mengendarai motornya dengan lambat tak lupa mereka memakai helm.


“ Loren, apa kau tidak punya teman?” tanya Eliana dari belakang.


“ punya,” jawabnya singkat.


“ Lalu darimana asalmu dan siapa kau sebenarnya?” tanya Eliana yang penasaran.


“ Ternyata kau berisik juga ya, kupikir perjalanan ini akan tenang,” ucap Loren seraya melirik ke kaca spion untuk melihat ekspresi Eliana.


“ Ah.. maaf.. karena kita tinggal di tempat yang sama aku ... hanya penasaran,” Eliana tampak ragu dengan kata katanya.


“ Kau mungkin akan mengusirku saat tau darimana aku berasal, apalagi saat tau siapa aku,” ucap Loren.


“ Memangnya kau sebenarnya siapa?” tanya Eliana dengan sedikit keberanian dari dalam dirinya.


“ Seseorang yang akan membuatmu lari ketika kau tau siapa aku sebenarnya,” ucapnya dengan nada dingin sambil menggenggam stang motor dengan kencang seolah sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.


Eliana terdiam, dia tak tau harus mengatakan apa lagi, pria di depannya itu sangar dingin, jawabannya singkat dan cukup membuat seseorang merasa kehilangan nafas saat di dekatnya.


.


.


.


Like, vote dan komen