Hidden Mafia

Hidden Mafia
8. Preman



Drap... drap.. drap....


Hari semakin gelap, Eliana sudah ketinggalan bus terakhir ke desanya, akhirnya dia menaiki taksi yang hanya sampai ke persimpangan gang Desa. Eliana terpaksa haru berjalan. Ingin menghubungi ayahnya, ternyata ponselnya habis daya.


Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat. Malam sudah berkuasa dan dapat Eli lihat dengan jelas kalau sang purnama sudah berkuasa di bumi Tangerang. Langkahnya semakin cepat diiringi dengan semilir angin yang berembus, udara dingin karena cuaca malam ditambah Eliana tidak membawa jaketnya.


Rumah rumah di desa sudah menutup pintu mereka, tak ada lagi yang berkeliaran di malam hari yang dingin ini. Langkah kaki gadis itu semakin cepat, apalagi daerah tempat tinggal cukup berbahaya jika sudah malam hari.


Banyak preman yang berkeliaran, para pemabuk dan orang jahat bisa kapan saja menyerang. Cuaca yang dingin membuat hidung Eliana memerah, sinusitisnya mulai kambuh. Berjalan sambil mengusap-usap kedua lengannya untuk menghangatkan tubuhnya.


“ Seharusnya aku cepat pulang tadi, ponselku juga lowbat ahhh ini benar benar hari paling sial di hidupku..” gumam gadis itu. Matanya masih perih karena menangis tadi dan wajahnya benar benar murung.


Terdengar suara para pemuda yang sedang berkumpul di warung, mereka bernyanyi sambil minum minum, ada yang sudah mabuk ada yang menari tak jelas dan berjalan sempoyongan kesana kemari.


Eliana menenggak salivanya saat melihat di hadapannya sekumpulan preman sedang berpesta ria di simpang jalan masuk ke area rumahnya. Lampu jalan yang remang-remang berwarna kuning terlihat menyeramkan dengan kumpulan preman yang duduk di atas motor mereka sambil menyesap rokok dan menenggak minuman keras mereka.


Eliana berdiri sebentar dan menatap mereka dari jarak 10 meter. Dia melihat ke sisi kanan dan kiri, semuanya gelap, hanya itu jalan satu-satunya agar dia bisa tiba di rumahnya. Rasa takut menjalar di sekujur tubuh Eliana. Dia menarik nafas dalam dalam, tak ada yang bisa dia lakukan, mau kembali sudah terlalu gelap dan malam, mau lewat ada preman disana.


Eliana melangkah pelan pelan, dia mendekat dan berjalan dari sisi yang kosong. Gadis itu berjalan perlahan sambil menahan rasa takutnya. Berusaha untuk tidak terlihat dan tak mengusik orang orang itu.


“ Hahahaha..... aku menang, bro isikan cip ku!” terdengar mereka sedang tertawa dan menatap ponsel masing masing.


“ Cip lagi, utangmu saja belum kau bayar.... “ tiba tiba lawan bicara orang itu menangkap sosok Eliana yang mencuri-curi jalan di dekat mereka.


“ Bro... lihat ada mangsa, cantik lagi,” bisik pria berbadan besar itu pada empat temannya yang lain.


Mereka semua menatap ke arah yang dimaksud pria berbadan besar itu. Saling melirik memberi kode satu sama lain bahwa ada mangsa empuk dimalam hari yang dingin ini.


“ Pekerja kantoran kayaknya, wahhh uangnya pasti banyak nih,” salah satu dari mereka berdiri dan turun dari motor lalu berjalan dengan gaya jagoan sambil mendekati Eliana.


“ Hai adek baru pulang kerja ya,” panggil mereka sambil tertawa terbahak bahak.


“ hahahah adek katanya, cewek cantik dong, hahah godain kita dong sayang,” tukas yang lain.


“ Uhhhh bodynya aduhaaaiii... hahahhahah “ mereka mulai mengatakan hal hal yang melecehkan secara verbal.


Eliana benar benar takut saat ini, dia menggenggam erat tali selempang tasnya, mempercepat lagkahnya tanpa menoleh ke arah mereka. Belum juga pria itu mendekati Eli, dia sudah bisa mencium bau rokok dan minuman yang menempel di tubuh pria yang sedang berjalan mendekatinya.


Eliana berjalan lagi, harap harap cemas dengan apa yang akan terjadi. Dia takut tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Para preman itu turun dari motor mereka sambil menatap Eliana dengan tatapan seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Mereka berbondong-bondong berjalan mendekati Eliana.


Klangh...... klotang.... klotang...


Seorang pria berjalan sambil memukul-mukulkan tongkat besi ke jalan , suara gemerincing botol minuman yang ada dalam kantongan plastik di tangannya terdengar jelas di telinga mereka. Pria berbadan besar yang ditakuti seluruh kampung karena wajah dan sifatnya yang menyeramkan berjalan di belakang Eliana dengan santai.


Para preman itu berjalan mundur saat melihat Loren ada disana. Tak ada yang berani cari gara gara pada pria misterius itu. Kelima preman itu mengurungkan niatnya saat melihat tongkat besi dengan ujung tajam dan botol minuman keras di dalam plastik kresek milik Loren.


“Mu... mundur woi... jangan mendekat, dia itu setan,” para preman menarik teman teman mereka menjauh dari Eliana.


Eliana menatap ke belakang dan melihat sosok Loren berjalan dengan lambat di belakangnya. Jarak mereka sekitar tiga meter. Dia melihat lagi para preman itu sudah menjauh. Ada sebuah rasa lega di hati Eliana saat melihat pria tinggi itu di belakangnya. Rasa aman ketika Loren berjalan dengan diam di belakangnya.


Eliana melangkahkan kaki nya dengan cepat, hari semakin dingin dan sinusitisnya mulai kambuh. Beberapa kali dia terdengar menggosok gosok hidungnya yang mulai gatal. Meski tidak parah tetapi sinusitis Eliana cukup mengganggu dan membuat dirinya tak nyaman.


Beberapa menit kemudian Eliana tiba di rumah dengan Loren yang masih berjalan dengan santai sambil menatap bulan purnama di tempat itu. Eliana masuk ke rumah, dia mengintip keluar karena tak melihat Loren. Jelas gadis itu lihat Loren berdiri di pinggir kolam dengan tongkat besi dan minuman di tangannya. Hanya berdiri dengan tatapan kosong sambil menatap bulan.


Loren menatap bulan, entah apa yang ada dipikirannya.


“ bulannya semakin jelek, kenapa harus penuh,” gumam Loren.


Setelah menatap bulan dan mengumpati benda tak bersalah itu. Dia masuk ke dalam rumah tanpa meminum satu botol pun dari minuman yang dia beli. Aneh tapi dia tak ingin mabuk malam ini.


Loren masuk ke dalam rumah, di saat yang bersamaan dia mendengar suara Eliana di ruang tengah.


“ Haccuuhhh... egghhh haccuhhhh snifff... snifff..” Eliana bersin bersin setelah tiba di rumah, dia menggosok hidungnya sampai memerah. Dari arah dapur Pak Yanto datang dengan wajah panik, dia membawakan segelas air hangat untuk putrinya.


“ Eli minum dulu, kamu gak boleh terkena udara dingin, kenapa pulangnya lama Eli, cuaca sangat dingin, kenapa gak menghubungi Ayah atau Loren, dasar kamu ini..” omel Pak Yanto.


“ Maaf Ayah,” hanya kata itu yang keluar dari bibir Eliana.


Loren berjalan ke arah ruang tengah, dia mengeluarkan sebuah inhaler pelega hidung mampet yang dia beli saat membawa minuman nya tadi.


“ pakai ini,” ucap pria itu dengan nada datar sambil meletakkan inhaler di atas meja di depan Eliana. Lalu dia pergi dan masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apa pun lagi.


“ Hayyuhhh dasar kamu ini, cepat pakai ini, hidung mu merah merah, kau buat ayah khawatir,” kesal Pak Yanto.


“ haaccuhhh... maaf ayah,” lirih Eliana.


.


.


.


Like, vote dan komen