
Tak... tak ... tak...
Suara papan ketik menggema dari ruangan kamar Eliana, gadis itu sedang menyelesaikan pekerjaan yang telah diserahkan sepenuhnya pada dirinya setelah kejadian beberapa minggu lalu di perusahaan. Kini semua salah paham dan rumor buruk tentang gadis itu telah usai.
Yuni pada akhirnya di pecat karena telah menyebarkan berita palsu dan membuat nama perusahaan menjadi jelek. Pak Herman dan Manager Arin telah di blacklist dari semua daftar perusahaan karena terlibat skandal memaluka. Pak Herman harus menerima nasibnya mendekam di dalam penjara akibat korupsi dan tidak pencucian uang yang dai lakukan dan telah menyalahi prosedur perusahaan.
Manager Arin ditinggalkan oleh tunangannya, hidupnya hancur karena perbuatannya sendiri. Kini wanita itu hanya bekerja seagai pelayan kafe karena tak ada yang mau menerima seorang tenaga kerja yang telah di black list namanya dari perusahaan besar itu. Karyawan yang terlibat dengan skandal itu diberi surat peringatan dan dilaukan pemotongan gaji selama tiga bulan bekerja.
Kondisi perusahaan kini kembali ke normal, dan tak ada lagi rumor buruk tentang Eliana di kantor.
Hanya saja hubungan Eliana dan Loren semakin lama semakin dingin dan Loren kembali ke diriinya yang dulu, alkohol benar-benar telah menjadi teman sejatinya, setiap hari dia akan minum alkohol di pinggir kolam sampai dia tertidur dalam keadaan mabuk dan pagi harinya dia sudah bekerja seperti orang gila.
Loren benar benar ingin memenuhi perasaan kosong di dalam hatinya itu tapi apa daya, Eliana memiilih diam dan melarikan diri . Interaksi mereka sangat sedikit sejak Loren mengakui siapa dirinya di hadapan Eliana.
Loren tampak menghindari Eliana sedang Eliana hanya terus memikirkan pria itu dan semua kata-katanya. Loren yang dengan terbuka jujur tentang dirinya dan penyakitnya. Padahal untuk jujur tentang hal seperti sangat sulit, apalagi sampai orang lain tau tentang dirinya.
Tetapi Loren melupakan itu semua dan meberitahukan pada Eliana tentang dirinya yang sebenarnya .
Hari ini adalah akhir pekan, gadis itu keluar dari kamarnya, pekerja di tempat ayahnya sedang memanen sayuran yang di tanam sepanjang ladang di belakang rumah mereka. Eliana mengambil peralatan kerjanya, sudah biasa dia membantu ayahnya jika sedang panen besar seperti saat ini.
Eliana melirik kamar Loren yang tampak sepi, “ Apa aku membuat dia marah? Dia tidak pernah lagi melihat ke arahku bahkan membalas pesanku pun tidak,” gumam Eliana.
Pasalnya seminggu lalu dia pulang terlambat, dengan sengaja dia menghubungi Loren namun pria itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya bahkan membalas pesannya pun tidak.
Eliana bergulat dengan pikirannya sendiri, saat mengatahui identitas Loren yang sebenarnya, dia tak tau harus bersikap seperti apa, tetapi dia malah menjauh dari Loren dan takut dengan kenyataan bahwa Loren adalah pasien ODGJ dan juga seorang mafia.
“ Tapi... kenapa aku jadi merasa bersalah, aku seperti sedang merindukannya....” gumam Eliana.
“ Tidak boleh, dia bukan orang normal seperti kebanyakan orang, aku tidak bisa memiliki hubungan spesial dengan orang sepertinya, dia pasien ODGJ( orang dengan gangguan jiwa), dan dia... dan dia adalah seorang mafia, aku tak bisa melakuan itu,” ucap Eliana pada dirinya sendiri.
Gadis itu pergi menuju ladang, dia penasaran apakah Loren disana, pasalnya pria itu sudah tidak nampak sejak seminggu lalu. Jika di kantor, Eliana bahkan tak pernah melihat Loren masuk, bahkan sejak awal dia ke perusahaan itu dia tak tau kalau Loren adalah pemilik perusahaan itu.
Setibanya disana, Eliana menatap para pekerja yang sedang dengan giat memanen kubis di ladang yang subur itu,” Kamu ikut nak? Nggak istirahat? Ini kan akhir pekan!?” teriak Pak Yanto yang sedang mengangkat karung kubis ke tengah tengah tumpukan karung di dekat lumbung.
“ Ikut yah, Eliana udah istirahat,” balas gadis itu.
“ Baiklah, ahhh Loren tidak disini, dia sudah pulang seminggu lalu, katanya ada urusan penting,” teriak Pak Yanto.
Eliana terkejut saat Pak Yanto membahas tentang Loren seolah tau kalau gadis itu sedang mencari Loren disana. Gadis itu hanya mengangguk paham dan tak membalas lagi lalu membawa karungnya dan bergabung dengan yang lain untuk memanen kubis-kubis segar itu.
Gadis itu hanya menghela nafas, sejak kejadian itu memang dia sedikit menghindari Loren. Tetapi Loren juga demikian,dia menghindari Eliana bahkan tak mau makan satu meja dengan gadis itu.
“ Ck... kenapa aku jadi kepikiran gini sih!?” Eliana menjatuhkan alat-alatnya ke tanah, dia benar-benar di buat pusing kali ini. Mau mencari Loren tapi tak tau mencari kemana, dia tidak kenal teman teman Loren, bahkan dia belum tau kalau Rena dekat dengan pria itu.
Eliana menghela nafas, dia melanjutkan pekerjaannya, tapi pikirannya tak fokus, dia hanya menyelesaikan beberapa baris kubis dan berhenti lalu ijin pulang pada ayahnya.
“ Ayah Eliana agak pusing, Eli ke rumah dulu ya,” pamit gadis itu.
“ Kamu sakit nak? Apa kita perlu ke rumah sakit? Perlu obat biar ayah temani!?” pak Yanto tampak khawatir.,
Eliana hanya menggelengkan kepalanya,” gak apa apa, Cuma ada beberapa urusan belum selesai aja, Eliana ke rumah dulu ya Ayah,” ucap gadis itu.
“ baiklah, kamu istrirahat saja,” ucap pak Yanto .
Gadis itu berjalan menuju rumah, dia benar benar dibuat pusing hanya dengan memikirkan Loren yang tidak ada di rumah selama seminggu. Dengan nekat gadis itu masuk dan membuka kamar Loren lalu menyalakan lampu dan menatap isi kamar pria itu tanpa ijin dari pemiliknya.
“ Apa sebenarnya yang terjadi padamu...” gumam Eliana sambil masuk dan duduk di atas kasur pria itu. Kamar Loren sangat sederhana, dia tidak menambahkan pernak pernik apa pun ke dalam kamar itu, yang ada hanya beberapa buku catatan dan foto bersama Otniel, Chelsea dan si nyonya besar dan tuan besar Park yang masih terlihat cantik dan tampan di usia senjanya.
Gadis itu merasa bersalah, padahal dia ingat jelas kalau dia mengatakan tidak akan melarikan diri mau seperti apa pun Loren, tapi nyatanya dia malah menjauhi pria itu padahal Loren sudah mau terbuka dan menjelaskan tentang dirinya terlebih dahulu sebelum dia membuat keputusan soal tawaran Eliana.
Gadis itu menatap meja di samping kasur, sebuah buku catatan terletak dengan rapi disana, tampak seperti beberapa kertas diselipkan. Tangan Eliana mengambil buku itu dan membukanya karena penasaran.
Eliana terbelalak saat melihat beberapa kertas dan hasil foto di dalam buku itu.
“ A... apa ini?” Eliana tampak syok saat melihat foto foto itu dan juga tulisan dalam kertas putih itu.
“ Di... Dia....
.
.
.
Like, vote dan komen