
Loren perlahan masuk ke dalam kamar dimana dia dan Eliana tempati bersama sebagai pasangan suami istri yang telah sah. Dia menatap ruangan itu, mencari di mana gerangan sosok Eliana.
dia melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati, berpikir kalau Eliana sudah terlelap . Namun yang ditemukan di dalam ruangan itu membuatnya terkejut karena Eliana duduk di atas lantai sambil mengoleskan salep luka ke panggulnya yang kembali berdarah karena kejadian saat acara tadi.
"Shhh... akhh... sakit sekali, kupikir rasa sakitnya akan semakin berkurang tetapi ini malah semakin sakit, " perempuan itu mendesis kesakitan. Dia tak bisa menjangkau luka lukanya, punggungnya polos tanpa sehelai benang sedang bagian dapan dia tutupi dengan kain.
"Biar aku yang lakukan," ucap Loren yang langsung membersihkan tangannya dan menghampiri Eliana yang yang terlihat syok saat pria itu datang. cepat cepat dia menutupi tubuhnya, meski sudah menikah dan melakukan hubungan suami-istri, rasanya sangat canggung jika dia harus menunjukkan tubuhnya pada orang lain.
Loren duduk di belakang Eliana," Aku akan membantu, " ucap Loren sambil menarik kain itu dengan pelan.
"Ehh... Bi..biar aku saja,ini memalukan, aku ...rasanya canggung," ucap Eliana sambil menatap Loren.
"Tenanglah, aku juga tak mungkin melakukan apa apa padamu, lagu pula aku sudah melihat semuanya, jangan melawan, menurut saja agar luka lukamu segera dirawat, nanti bisa infeksi!" tukas Loren yang langsung menarik kain itu dari punggung Eliana.
Eliana terkejut, dia menutupi tubuh bagian depannya dengan kedua tangan, wajahnya merah merona karena Loren.
"Apa kau malu?" bisik Loren sembari mengoleskan salep ke luka luka itu.
Eliana mengangguk, dia menundukkan kepalanya, rasanya aneh jika seorang pria menatap tubuhnya meskipun itu sah sah saja.
"Aku akan cepat, tapi malam ini tidur lah dengan posisi tengkurap, agar punggungmu tidak semakin parah," ucap Loren sambil mengusap salep itu dengan lembut.
"Ba..baiklah, terimakasih," ucap Eliana pelan.
Loren menatap luka luka di tubuh istrinya, rasa bersalah semakin menghantui hati dan pikirannya, bagaimana bisa dia melakukan hal sekadar itu pada Eliana.
"Maafkan aku El, ini semua salahku," ucap Loren di sela sela kegiatan mereka.
Eliana mengangkat kepalanya, tampaknya Loren masih merasa bersalah dengan kejadian waktu itu. perempuan itu menatap Loren dan menggelengkan kepalanya," jangan mengalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi aku juga salah dalam hal ini, aku yang nekat masuk ke dalam ruanganmu Padahal sudah jelas aku diperingatkan sebelumnya, anggap saja ini kesalahan kita berdua, aku akan sembuh dengan cepat," ucap Eliana sambil tersenyum lembut, berusaha dengan baik untuk memenangkan Loren.
Loren tertegun dengan sifat penuh kasih dan tatapan tulus perempuan di hadapannya itu. tak dia sangka dia telah menikahi seorang perempuan yang sangat baik dan berharga.
"Baiklah sesuai keinginanmu," ucap Loren.
Eliana mengangguk sambil tersenyum, setelah selesai dengan pengobatan luka luka itu Loren meminta Eliana untuk naik ke ranjang.
"Apa aku boleh pakai kaos?" tanya Eliana.
"boleh saja tetapi pakai kaos yang longgar apakah punya kaos yang longgar?" tanya Loren yang berdiri membelakangi Eliana yang sedang merangkak ke atas kasur. Dia tak ingin Eliana merasa malu dan tak nyaman .
"emm... aku belum ambil dari penginapan, bagaimana ini?" ucap Eliana.
Loren langsung berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kaos yang tipis dan longgar miliknya.
"Pakai milikku saja, ini baru beberapa kali pakai," ucap Loren memberikan pakaian itu pada Eliana tanpa menoleh.
Eliana benar benar tertegun dengan sikap Loren dan cara pria itu menghargainya sebagai seorang perempuan. Eliana malah jadi merasa bersalah, padahal bukan masalah besar jika suaminya melihat tubuhnya.
"Terimakasih Loren," ucapnya menerima pakaian itu.
Eliana memakainya di tubuhnya yang ramping, terlihat kebesaran namun terasa nyaman .
"aroma tubuhnya, wangi sekali," pikir Eliana.
"Istirahat lah, aku akan membersihkan diri," ucap Loren sembari mengambil pakaian dan handuknya. Jika dia biasanya mengganti pakaian di ruangan itu, maka kali ini dia menyesuaikan semuanya untuk Eliana.
"Dia sampai seperti itu hanya untuk membuatku yang orang asing ini merasa nyaman? apa aku terlalu penakut dan egois?" pikir Eliana sambil menatap Loren masuk ke dalam toilet.
Eliana larut dalam pikirannya, dia tak bisa terlelap, dia memilih duduk dan menatap ponselnya. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala nya saat ini.
"Apa yang akan kulalui nanti? bagaimana aku dan Loren akan menjalani pernikahan ini nanti? akankah hubungan ini memiliki cinta? hah... cinta ya?apa yang kuharapkan,, ini pernikahan karena kesalahan semalam," ucap Eliana.
"Tapi ayah dan yang lainnya terlihat sangat bahagia, bisakah aku sedikit egois dan menginginkan pernikahan ini bertahan sampai selamanya? aku hanya ingin bahagia," ucapnya lagi.
Tanpa dia sadar Loren mendengar ucapannya dari balik pintu kamar mandi. Barusan dia hendak mengambil pembersih wajah tetapi kata kata Eliana menghentikan langkah kakinya.
Dia tak menyangka kalau Eliana mengharapkan kebahagiaan dari pernikahan itu. Dia juga tak menyangka kalau ternyata Eliana tidak menyesal dengan pernikahan ini. Loren bersandar di pintu sambil memegang dadanya sendiri. Jantungnya berdebar sejak masuk ke dalam kamar, belum lagi melihat wajah cantik dan manis itu. Hatinya bergetar, tak pernah dia merasa seperti ini sebelumnya.
"Apa ini yang disebut dengan cinta? kalau iya, aku sudah jatuh cinta padanya sejak awal melihatnya," batin Loren.
"Aku akan berusaha mewujudkan keinginan mu Eliana, aku juga ingin bahagia, mari kita jalani semuanya bersama-sama," ucap Loren.
Setelah selesai dengan urusan di kamar mandi, Loren keluar sambil menatap ke arah ranjang, di saat yang sama Eliana menoleh ke arahnya sehingga mata mereka bertemu dan saling bertatapan untuk sekian detik.
deg deg deg...
Jantung keduanya berdebar tak karuan, tatapan mata yang begitu dalam seolah saling menjelajah.
"ekhmm.."
"eh... hmm.."
Keduanya cepat cepat memalingkan wajah masing-masing yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Ekhm....kenapa kau belum tidur?" tanya Loren untuk mencairkan suasana.
"Aku ti..Idak bisa tidur," jawab Eliana pelan.
"Berbaring lah, ini sudah larut malam, kau harus segera beristirahat, punggungmu masih terluka," ucap Loren.
"Baiklah," Eliana menurut dan berbaring dengan posisi menyamping, "Aku akan tidur dengan posisi menyamping, aku sesak kalau tengkurap," jelasnya meski Loren tak bertanya apa pun.
"Baiklah, pakai selimut mu, tidur lah dengan nyaman, aku akan tidur di sofa," ucap Loren sambil mengambil bantal dan sebuah selimut.
Eliana terdiam, bahkan Loren memberikan ranjangnya untuk Eliana. Jelas jelas ranjang itu milik Loren tapi dia malah memilih tidur di atas sofa, badannya pasti akan sakit.
"Loren," panggil Eliana.
Loren yang sudah duduk di atas sofa menoleh," Ada apa? apa kau butuh sesuatu" tanya Loren yang langsung menghampiri Eliana.
"Jangan tidur di sofa, di sini saja, di sampingku," ucap Eliana sambil menarik tangan pria itu.
"Tapi kau.. aku tak masalah, asal kau nyaman, biar aku tidur di..
"disini saja, aku tak suka sendirian karena bukan kamarku yang biasa, lagipula kita suami istri," ucap Eliana memotong kata kata Loren.
Loren menatapnya sebentar," Kau yakin?" tanya pria itu lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Eliana.
"Baiklah, aku akan tidur disini," ucap nya sambil naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Eliana.
"Apa punggungmu masih sakit?" tanya Loren sambil menatap Eliana dengan posisi menyamping.
"Masih, lukanya terbuka lagi, rasanya sakit," jawab gadis itu.
"Besok kita akan ke rumah sakit lagi, tidurlah, kau sudah lelah," ucap Loren.
"selamat malam Loren," ucap Eliana.
"Selamat malam El, mimpi indah," ucap pria itu.
.
.
like, vote dan komen 🤗