Hidden Mafia

Hidden Mafia
12. Sakit



Eliana bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Matanya bengkak karena menangis semalaman akibat kejadian menyedihkan yang dia alami di acara nikahan tetangganya. Belum lagi perlakuan Pak Yanto dan Loren membuat hati gadis itu terluka.


Eliana membuka matanya, rasanya sedikit pedih. Wajahnya terlihat bengkak belum lagi bekas tamparan bu Idah masih membekas di pipinya. Gadis itu menggigil kedinginan, dia terlihat pucat. Saat bangun Eliana menyadari kalau dia terlelap dengan pakaian basah hingga dia terkena demam.


“ Haccuhhh... haccuuhh.... haccuhhh” gadis itu bersin bersin. Rasanya kepalanya mau pecah dan tubuhnya terasa tidak sehat.


Eliana turun dari atas ranjang dengan kepala pusing dan berkunang kunang.


“ Akjhhhh , salah ku juga semalam tidak ganti pakaian, akkhhh sakit sekali,” Eli mendesis kesakitan sambil memijit pelipisnya.


Dia berjalan menuju toilet, rasanya mual dan sangat tidak nyaman. Eliana berusaha menjaga agar dirinya tetap kuat. Belum lagi hari ini dia sudah harus bekerja.


Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi setelah menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi, jam biasa dia bangun untuk berangkat bekerja dan mengejar bus pertama.


Sementara itu di luar kamar Eliana, Pak Yanto yang dihantui rasa bersalah sedang memasak berbagai hidangan untuk putrinya. Makanan terenak yang bisa dia buat dia sajikan pagi ini berharap Eliana bisa memaafkan dirinya atas apa yang terjadi kemarin malam.


Sebenarnya pak Yanto tak ingin membentak Eliana, tapi karena terbawa emosi, Pak Yanto ingin segera menyelesaikan masalah itu meski harus mengorbankan putrinya lagi.


Pria itu sudah mondar mandir sejak jam 4 tadi. Saat dia bangun dia hendak memanggil Loren namun dia terkejut saat melihat kamar Loren sudah terbuka dan pria itu tak ada disana. Hal yang sama sering kali terjadi. Setiap sebulan sekali pada tanggal tanggal tertentu, Loren akan menghilang seharian dari rumah dan tidak terlihat. Terkadang sehari dan paling lama tiga hari dia akan menghilang dan meninggalkan sepucuk surat atau mengirim pesan pada pak Yanto kalau dia tidak di rumah.


“ Loren juga belum kembali, kemana dia?” pikir pak Yanto.


Setahun hidup bersama tidak berarti apa apa bagi mereka sebab keluarga pak Yanto sama sekali tidak mengetahui siapa Loren sebenarnya. Kepribadian Loren yang tertutup membuat mereka sulit mengetahui bagaimana sebenarnya sifat pria itu.


Eliana berjalan keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Selama tiga puluh menit dia bersiap-siap dan membawa dokumen yang dia kerjakan sebelumnya juga tas ranselnya.


Pak Yanto yang mendengar putrinya keluar dari kamar langsung menyongsong Eliana ke ruang tengah dan menggenggam tangan gadis itu dengan perasaan bersalah. Meski dadanya berkecamuk, tapi dia menyingkirkan ego nya dan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Eliana.


Memang sulit berada di posisi Pak Yanto, saat dia mencoba dekat dengan putrinya, dia mengingat sang mendiang istri yang telah meninggal saat melahirkan putri mereka.


Saat Eliana. di dalam kandungan, istri pak Yanto sudah didiagnosis tidak akan bisa melahirkan dengan normal. Ada masalah dengan kandungannya. Saat itu mereka diberi pilihan, antara menggugurkan kandungan atau melahirkan Eliana.


Pak Yanto dan kedua anaknya saat itu sudah memaksa ibu mereka untuk melepas janinnya. saat itu usia kandungan istri pak Yanto masih 6 bulan.


Namun istri pak Yanto tidak menyerah pada janinnya, dia memilih memberikan nyawanya dan melahirkan Eliana ke dunia ini meski resikonya dia harus kehilangan nyawanya.


Masalah yang begitu kompleks, setiap melihat wajah Eliana Pak Yanto terus merasa marah dan kesal. Dia tidak tau harus melampiaskan kemarahan ini pada siapa. Akhirnya ketika semua rasa kesal dan marah itu bertumpuk, Pak Yanto melepaskan dan melampiaskan pada Eliana.


"Eli ayo makan nak," ucap Pak Yanto dengan lembut.Jelas tatapan pak Yanto menunjukkan kalau dia merasa bersalah dengan kejadian kemarin.


Eliana terkejut saat Ayahnya tiba tiba menggenggam tangannya.


Pak Yanto menggenggam tang Eliana dan menarik gadis itu menuju dapur. Dengan tergopoh-gopoh pria itu mnarik.kursi untuk putrinya. ini kali pertama dia melakukan hal seperti itu pada Eliana. Pak Yanto sadar kalau selama ini dia hidup terikat dengan rasa bersalah dan kemarahan itu sampai putrinya yang tidak bersalah jadi korban.


Eliana menatap tangan pak Yatno yang menggenggam tangannya begitu erat. Ada rasa hangat disana menjalar sampai ke hati Eliana.


"Ayah....


Pak Yanto terdiam saat Eliana memanggilnya. Pria itu masih memegang tangan Eliana. Dia menunduk, mengusap wajahnya dengan kasar. Perlahan dia berbalik dan menatap Eliana dengan penuh kasih.


"Maafkan ayah nak, Ayah salah, ayah tak bermaksud melukai hatimu kemarin, maafkan ayah," ucap pria itu


"ini bukan salah Eliana, Istriku berjuang melahirkan Eliana, melahirkan putri kami yang cantik, kau tidak seharusnya begini," batin pak Yanto menguatkan dirinya sendiri.


"Ayah hanya ingin menyelesaikan dengan cepat tapi ayah malah salah mengambil langkah, ayah membentakmu di hadapan semua orang, seharusnya ayah tidak melakukan hal itu, ayah memang tak berguna, seharusnya ayah menjagamu seperti nasihat ibumu tapi yang ayah lakukan selama ini hanya melukai hatimu, ayah...


Grepp....


Pak Yanto berhenti bicara saat Eliana memeluknya dengan erat sambil menangis. ini yang diinginkan gadis itu, sebuah pengakuan dari sang ayah dan sedikit perhatian dari pria yang sangat dia sayangi meski hubungan mereka terkesan jauh.


Eliana hanya memeluk ayahnya tanpa mengucapkan satu kata punya. Pak Yanto membalas pelukan anaknya dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Ayah sayang Eli, maafkan ayah," ucapnya lagi.


Eliana mengangguk, dia memperdalam pelukannya pada sang ayah. Ini pelukan pertamanya, rasanya sangat hangat dan nyaman. Dia hanya ingin merasakan kehangatan kasih sayang seorang ayah yang sejak lama dia rindukan.


"Sudah ayo makan, ayah akan mengantarkan mu ke kota, ayah penasaran dengan tempat kerja putri ayah," ucap Pak Yanto.


Mereka duduk di kursi ruang makan. Pak Yanto mengeluarkan semua hidangan yang dia buat. Makanan yang dia ketahui adalah makanan kesukaan putrinya.


"Banyak sekali," ucap gadis itu dengan mata berbinar-binar. Sekilas dia melupakan sakit kepalanya karena Ayahnya tampaknya mulai berubah dan dekat padanya.


"Ayah tidak tau harus buat apa, ayah menyiapkan ini semua untuk kamu, ayo makan," ucap Pak Yanto dengan wajah malu malu. Dia tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.


Eliana tersenyum tipis. Sangat sulit melihat gadis itu tersenyum. Dia menatap makanan itu, matanya berlinang air mata, benar benar terharu dengan hari ini.


"Terimakasih ayah," ucapnya.


Mereka berdua menikmati makan pagi mereka yang terbilang cepat.


Sementara itu,


Krakkk.... Kraakkk.....


"Gerrhhhhhh..... arrkhhhhhh..... Lepaskan aku!!! " Pekikan Loren terdengar di dalam sebuah kamar yang luas dan terlihat mewah. Seisi kamar itu berantakan, banyak barang barang berbahan kaca yang pecah dan berhamburan di atas lantai.


Loren diikat di dalam kamar itu, tatapan matanya begitu tajam, nafasnya naik turun, wajahnya memerah karena marah. Tubuhnya diikat dengan rantai ke dinding. Pria itu meronta ronta di dalam sana, terkadang menangis dan berteriak seperti orang gila.


Tiba tiba pintu kamar dibuka, seorang pria tinggi berkacamata datang membawa jarum suntik yang sudah diisi dengan cairan merah.


"Tuan muda Kirriye!!!!!" Bentak pria itu sambil menatap Loren dengan tajam.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗