
Pagi kembali berkuasa atas langit. Eliana membuka matanya perlahan lahan, rasanya kepalanya sangat pusing. Perutnya mual dan tak nyaman. Perempuan itu cepat-cepat beranjak dari tempat tidur sambil menahan dirinya agar tidak muntah di atas lantai.
“ Huweekk... Huweekkk.. uhuk... uhuk... “ Morning sickness yang biasa dialami oleh ibu hamil kini menyerang perempuan itu. Wajahnya pucat, kepalanya pusing , keringat membasahi tubuhnya, dan perutnya sangat mual.
Loren yang mendengar istrinya muntah-muntah langsung terbangun dan berlari secepat kilat menuju kamar mandi menghampiri Eliana dengan wajah panik.
“ Eliana ada apa!?” Loren terkejut saat melihat Eliana duduk di atas lantai toilet dengan tubuh lemas sambil muntah muntah.
“ Kepalaku pusing Loren...” lirihnya sambil menepuk nepuk dadanya yang terasa tidak nyaman.
Loren teringat dengan ucapan dokter Mina yang mengecek kondisi Eliana. Salah satu efek dari kehamilan yang akan dialami oleh Eliana adalah mual dan muntah terkhususnya di pagi hari dan kini perempuan itu mengalaminya.
Sebelum mereka berangkat dari London, Eliana juga mengalami hal yang sama hanya saja mereka belum tau kalau dia sudah mengandung.
Loren duduk di samping Eliana dia menepuk-nepuk punggung wanita itu dengan lembut. Ada sedikit rasa bergejolak dalam hatinya saat melihat Eliana menderita seperti itu karena mengandung anak mereka.
“ Loren menjauhlah, ini menjijikkan!" ucap Eliana sambil mendorong tubuh Loren sedikit. Dia tak ingin Loren merasa tak nyaman dengan melihat dirinya muntah muntah seperti itu.
“ Tak apa, “ jawab Loren pelan.
“ Apa sudah berhenti?” tanya Loren dengan lembut.
Eliana hanya mengangguk, rasanya kepalanya sangat pusing, tapi saat menghirup aroma tubuh Loren dia merasa sedikit tenang.
“ Aku mau ke tempat tidur, kepalaku sakit, sepertinya aku masuk angin, tak pernah sampai separah ini,” ucap Eliana berusaha berdiri.
Loren hanya diam, dengan sigap dia mengangkat tubuh Eliana tanpa persetujuan perempuan itu dan membawa Eliana yang melongo dengan perlakuan Loren ke atas kasur. Loren memperlakukan Eliana dengan sangat lembut, dia masih diam dan memasang selimut istrinya dengan baik.
Eliana merasa heran dengan sikap Loren yang sedikit aneh pagi ini, pria itu terlihat berbeda.
“ Aku akan ambil air minum, “ ucap Loren sambil beranjak namun entah kenaa Eliana malah menarik kaos Loren membuat pria itu terdiam di tempat sambil melirik ke belakang dan mendapati Eliana dengan wajah menggemaskan menatap Loren dengan tatapan bertanya-tanya.
“ Ada apa?” tanya Loren sambik berbalik dan mendekat.
“ Apa aku melaukan kesalahan? Kenapa kau diam ? apa aku membuat kekacauan tadi malam?! hiks hiks hiks...” Tanya Eliana sambil menangis menatap Loren. Hormon kehamilan membuat perempuan itu lebih sensitif dan mudah menangis.
Loren terdiam, sepertinya sikapnya tadi membuat Eliana takut dan malah menangis, ini kali pertama dia melihat Eliana dari sisi ini. Loren langsung duduk di samping Eliana dan memeluk perempuan itu tanpa ragu.
“ Maaf, aku hanya sedang memikirkan sesuatu, maaf kalau aku menakutimu,” ucap Loren sambil menepuk nepuk punggung Eliana dengan pelan.
“ Hiks hiks hiks... kupikir kau marah karena aku pingsan dan muntah muntah tadi, maafkan aku,” ucap Eliana yang masih menangis tersedu-sedu bahkan membuat Loren merasa heran.
“ Bukan karena itu, kenapa kamu jadi cengeng hmmm? “ tanya Lorne heran.
“ Huwaaa... aku juga gak tau tapi rasanya aku mau nangis, air matanya gak berhenti ngalir, aku juga gak tau giks hiks hiks...” Dia menangis semakin keras .
“ Pikiran?” tanya Eliana sambil menatap wajah Loren dengan wajah sembab dan memerah.
Loren membalas tatapan perempuan itu, dia mengusap air mata Eliana dengan lembut. Ekspresi wajahnya sangat sulit untuk di tebak , tak ada yang tau seperti apa perasaannya saat ini . Antara senang dan takut dengan kenyataan yang akan dia hadapi mulai saat ini.
“ Ada apa? “ tanya Eliana sambil menatap Loren.
“ El.... kamu sedang hamil, itu alasan kenapa semalam kamu pingsan dan mual muntah sejak di London, kamu sedang mengandung dan aku sedang berpikir apa aku bisa melindungi kalian berdua sedang kita diawasi oleh musuh-musuhku, aku semalaman memikirkan hal itu, aku takut... aku takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian hanya karena identitasku,” jelas Loren sambil menatap Eliana dengan tulus.
Mata Eliana membulat sempurna saat Loren mengatakan kalau Eliana sedang mengandung anak mereka. Dia menatap Loren dengan tatapan terkejut. Jelas terlihat kalau perempuan itu sampai tak bisa berkata- kata dengan berita membahagiakan ini. Namun dia menangkap raut kesedihan di wajah suaminya, raut seorang pria yang takut menghadapi masa yang akan datang karena masa lalu yang begitu menyeramkan.
“ Ini berita bagus Loren!! wahh... secepat itu? Aku... aku hamil? Benarkah? Ini benar benar membahagiakan, aku mengandung anak kita, ini hal bahagia Loren!!" seru Eliana sambil memeluk Loren dengan wajah penuh kebahagiaan, seketika moodnya berubah setelah mendengar berita itu.
Loren terdiam, dia tak menyangka kalau reaksi Eliana akan sebahagia ini saat tau dirinya sedang mengandung anak mereka. Dia tak menyangka kalau kabar ini justru membuat Eliana merasa sangat bahagia.
“ Ka.. kamu tidak marah? Kamu hamil anak seorang mafia, seorang pria sepertiku, yang kapan pun bisa mengamuk saat penyakitku kambuh, kamu..
“ enggak, aku justru sangat bahagia, karena kini bertambah alasan bagi kamu untuk bisa bangkit dan sembuh dari penyakit kamu,” ucap Eliana yang tanpa ragu menangkupkan kedua tangannya di wajah Loren. Entah kenapa dia tidak merasa canggung tetapi sangat nyaman berada di dekat pria itu.
“ Sepertinya anak ini membawa berkah buat kita, aku tidak merasa canggung lagi jika di dekatmu tapi aku malah merasa sangat nyaman,” ucap Eliana sambil mengusap wajah tampan sang suami.
“ ingat kata-kata ku ini, aku dan calon bayi ini adalah alasan utama untuk kamu bangkit dan tidak takut dengan apa pun, mau itu musuh kamu, mau itu penyakit kamu atau apa pun itu, karena kami akan berdiri di sampingmu untuk menghadapinya bersama,” ucap Eliana sambil tersenyum manis.
“ wahhh aku bisa pintar bicara seperti ini hahahaha... ini pengalaman baru, kamu lihat kan betapa calon bayi kita mempengaruhi segalanya, ini benar benar hebat, seperti efek sihir hahahha... tuh kan aku banyak omong lagi,” cerocos Eliana yang merasa sangat bersemangat saat berbicara bersama suaminya.
“ Eliana...” Loren menatap istrinya yang tertawa dan tersenyum dengan sangat cantik dan manis. Jantungnya lagi lagi berdegup kencang kala melihat wajah istrinya begitu manis saat tersenyum.
“ heheh... Loren, jangan takut, kami ada disini, anak kita pasti akan senang saat tau Daddynya melindungi Mommy dan dia ketika dirinya bahkan masih segumpal darah,” ucapnya sambil tersenyum dengan wajah bahagia.
Hati Loren benar benar tersentuh. Dia terharu dengan respon positif dan dukungan besar yang diberikan oleh Eliana pada dirinya. Pria itu menarik Eliana dan memeluknya dengan erat.
“ Terimakasih Eliana, terimakasih banyak karena telah hadir dalam hidupku, terimakasih banyak,” llirih Loren.
Eliana membalas pelukan Loren sambil menangis haru, “ ini kabar bahagia, aku sangat senang, aku yakin kamu pasti bisa , kamu akan bertahan, “ ucap Eliana Dengan yakin.
.
.
.
Like, vote dan komen