
Pria tinggi berkacamata, wajah tampan dan gagah masuk dengan kepanikan sambil membawa jarum suntik ke dalam kamar Loren. Rumah mewah yang besar dan megah itu adalah rumah milik Loren Kiriye, rumah yang dia dapatkan dengan jerih payahnya sendiri sebagai seorang pimpinan.
Namun siapa sangka kalau Loren sang mafia memiliki sisi lain dalam dirinya yang ingin selalu dia sembunyikan dari banyak orang. Fakta mengejutkan tentang diri Loren yang tak disangka sangka.
Loren mengidap penyakit Skizofrenia yang akan kambuh pada tanggal tanggal tertentu. Dia akan kambuh ketika tanggal terakhir dalam satu bulan. Penyakit psikologis yang diidapnya sudah dia derita sejak dia berusia 7 tahun. Masa lalu yang menyeramkan menjadi pemicu terjadinya penyakit ini.
Ketika dia kambuh, dia akan mengamuk seperti orang gila, menghancurkan segala sesuatu yang dia lihat. Terkadang dia akan berteriak histeris, menangis dan bersenandung. Segala benda tajam harus disembunyikan dari pria itu. Jika tidak dia bisa melukai dirinya sendiri.
Seperti kejadian saat dia berusia 20 tahun, dia menusuk dirinya sendiri dengan belati dan merobek lengannya karena mengamuk. Bahkan pernah seorang anak buahnya hampir mati karena dihajar habis habisan oleh pria itu saat penyakit gilanya kumat.
Penyakit aneh yang menyebabkan pengidapnya berinisiatif untuk melukai bahkan mengambil nyawa orang orang di dekatnya. Dia akan menghancurkan apa pun yang ada dihadapannya. Seolah dia sedang memenuhi perasaan kosong yang menghantuinya selama ini. Perasaan kesepian, sedih dan kosong yang bahkan tidak bisa dipenuhi dengan cara apa pun.
pria tinggi berkacamata itu bergegas, dia adalah seorang dokter di kemiliteran, kemampuannya tak perlu diragukan lagi. Loren yang diikat dengan erat dengan rantai kini meraung raung seperti hewan liar yang sedang ditangkap saat perburuan.
"lepaskan aku bangsat!!!" pekik pria itu.
Bayang bayang dan bau darah memenuhi kepalanya. ingin dia membunuh pria berkacamata di depannya itu, dia menganggap siapa pun yang menghalanginya harus mati.
"Mati... kau harus mati!!!!" pekik Loren.
Grrahahhhkkkk lepaskan!!!!!!!
Pria yang kerap disapa Dominique itu menatap Loren dengan tatapan risau. Mereka sudah berkali kali menyuntikkan obat penenang pada Loren. Dia takut kalau tubuh Loren tak lagi bisa menoleransi kadar obat itu di tubuhnya.
"Tuan, saya harap ini yang terakhir," gumam Dominique dengan perasaan bersalah karena sampai saat ini dia tidak bisa menemukan obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit jiwa tuan muda yang sangat dia hormati itu.
Orang yang telah menyelamatkannya dari kematian di masa lalu. Dia tidak akan pernah meninggalkan Loren dan akan setia pada pria itu.
Jleb ..
Dominique menancapkan suntik itu di lengan Loren. Loren menatap Dominique dengan tatapan penuh kebencian. Penyakit gila yang menggerogoti dan perlahan lahan menghancurkan tuannya membuat Dominique merasa tak berguna.
" Beraninya kau melukaiku... kau harus mati di tanganku... grahahhhh kau harus mati.... mati kalian harus mati!!!!!!!"Loren berteriak kencang.
Dominique hanya bisa terdiam, dia mengusap wajahnya yang lebam dan terluka karena cakaran Loren. Dengan tenang dia menghadapi tuan mudanya.
Obat telah disuntikkan. Loren yang menggila perlahan lahan menjadi lebih senyap dan tenang. Tubuhnya tak lagi menegang. Pria itu mulai melunak.
Dominique hanya berdiri sambil menatap tuannya.Mengawasi perubahan ekspresi dan mimik wajah sang Loren dengan saksama.
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, sudah 14 jam Loren ada dalam kondisi itu. Dan ini adalah suntikan obat penenang yang ke sepuluh kalinya.
Nafas Loren mulai terdengar teratur.. Jantungnya mulai berirama dengan normal dan dia tak lagi semarah sebelumnya.
Brukkk......
Tubuh Loren terkulai lemah di atas kasur. Pelatihan keras yang dia dapatkan selama ini membuat dirinya merasa seperti binatang buas, liar dan tidak terkendali.
Loren menutup matanya. Keringat membasahi tubuh pria itu. ini masa paling sulit bagi Loren, dia menghadapi semuanya sendirian.
Orang yang dia lihat di acara pesta kala itu adalah pemicu penyakit Loren kambuh. Dia berada dalam kondisi panik yang berlubang. hari itu dia cepat cepat bersembunyi bahkan sampai berkata kasar pada Eliana karena dia ingin melindungi identitas keluarga Pak Yanto. Selama ini dia mengawasi pergerakan saudara angkatnya yang mengejar ngejar dirinya. Dia tau mereka juga akan menyisir area itu, namun tak dia sangka akan secepat ini.
Loren dibiarkan beristirahat dengan tenang. ikatan di tubuhnya adalah perintah pria itu sendiri, Dominique tak akan melepaskan benda itu tanpa persetujuan tuannya.
Sementara itu Eliana dan Pak Yanto sedang melaju menuju kantor Alpha grup tempat Eliana bekerja selama empat tahun belakangan ini.
Suasana hati Eliana membaik hari ini. Dia melirik ayahnya yang tampak gagah meski sudah di usia 55 tahun.
"Loren tidak di rumah, dia pergi seperti biasa, kalah kamu pulang terlambat segera hubungi ayah," ucap pak Yanto pada Eliana.
"Kemana dia?" tanya Eliana.
Eliana mengangguk paham. Gadis itu menatap tangannya yang memegang tangan Loren kemarin. Teringat jelas Loren berusaha menepis tangan Eliana dengan pelan dan pria itu terburu buru pergi.
"Sebenarnya dia itu kenapa?" gumam Eliana.
Di saat yang bersamaan ponsel Eliana berbunyi.
Ting...
"Aku sudah membayar semua utang yang kau pinjamkan pada kami berdua, kau benar benar perempuan munafik, menggoda manajer sendiri bahkan menghina teman baikmu, cuihhh semoga tak ada pria lain yang jadi korban mu, aku menyesal pernah menjalin hubungan dengan pembawa sial seperti dirimu!" pesan menohok dari Rico mantan kekasih Eliana berhasil membuat gadis itu terkejut. Jika begini situasinya, mereka menunjukkan seolah Eliana adalah penjahatnya disini.
Tingg....
Satu pesan masuk lagi, pertanda sejumlah uang sudah masuk ke dalam rekening Eliana. Gadis itu menggenggam ponselnya, dia membaca pesan pesan menohok dari Yuni dan Rico yang jelas jelas menjadikan dirinya sebagai kambing hitam padahal dia adalah korban disini.
Gadis itu hampir saja menangis, dia menahan dirinya lagi, tak ingin ayahnya melihat sisi terburuk dalam hidupnya.
Eliana memblokir nomor kedua orang itu, sebelum itu dia sudah mengambil tangkapan layar obrolan mereka di dalam ponselnya. Entah apa yang akan dia lakukan dengan hal itu nanti.
"Syukurlah uang ku kembali," gumam Eliana. Entah dia harus menangis dan berteriak histeris atau tertawa dan melonjak kegirangan karena dia telah lepas dari orang orang munafik itu.
Eliana dan Pak Yanto akhirnya tiba di Alpha grup.Pak Yanto terkesima dengan gedung bangunan yang menjulang tinggi ke atas itu. Jika dihitung mungkin memiliki puluhan lantai yang digunakan untuk beroperasi disana.
"Wahhh kantor putri ayah sangat besar," ucap Pak Yanto.
"kita sudah sampai, turun lah, ahh dan ini..." Pak Yanto mengeluarkan uang dari kantongnya.
"uang jajan," ucap pria itu sambil menyelipkan beberapa lembar uang merah ke tangan Eliana.
"Ayah gak usah, Eliana...
Dia berhenti bicara saat melihat wajah kecewa Pak Yanto.
"Baiklah akan Eliana terima, tapi ini yang terakhir, Elia juga punya uang kok," ucap gadis itu dengan lembut.
"Baiklah, sana pergilah, yang semangat kerjanya anak ayah," ucap Pak Yanto sambil menepuk kepala putrinya.
"Eli berangkat Ayah," ucap gadis itu sambil mengangkat kotak bekal yang disiapkan Pak Yanto untuk dia.
"Baiklah, semangat Eliana!" seru Pak Yanto sekali lagi.
Eliana mengangguk sambil tersenyum lembut dan sangat manis.
Gadis itu berjalan menuju kantornya dengan perasaan senang . Namun saat masuk ke kantor semua orang menatapnya dengan tatapan kesal dan tidak suka.
"Pelakor datang!"
"Masih ada muka ya datang ke kantor ini!"
"Cihh munafik, halus sekali cara mainmu!"
.
.
.
HAI JANGAN LUPA LIKE, DAN VOTENYA YA, KASIH HADIAH JUGA OKE☺️☺️