
Wajah Eliana basah karena disiram air oleh Yuni, teman yang dia anggap sebagai orang penting bagi hidupnya. Yuni terlihat marah, dia berdiri dan menatap Eliana dengan tatapan tajam seolah dia siap untuk menerkam gadis itu sekarang.
"Ka..kau!!" Eliana terbelalak dengan apa yang dilakukan oleh Yuni. Seharusnya Yuni yang terkena siraman air tapi malah Eliana yang diperlakukan seolah dia adalah pelaku kejahatan disini.
"Kak Rico... katakan padanya sekarang, "Yuni memeluk tangan Rico sambil mengeluarkan air mata palsunya, dia merengek seperti anak kecil dan bergelayut manja di lengan Rico, pria yang sama kurang ajarnya dengan Yuni.
Eliana diam membatu, dia mengepalkan kedua tangannya, mengeraskan rahangnya, hatinya hancur berkeping keping ketika memergoki temannya sendiri menjadi duri dalam hubungannya dengan kekasihnya.
"Kenapa kalian melakukan ini!" Eliana berbicara sambil menekankan setiap kata katanya dan menatap mereka dengan berani meski jantungnya bagai lari maraton saat ini.
Takut, sedih, marah dan panik saat ini berkecamuk di alam dadanya. Rasanya dia benar benar ingin punya satu saja keberanian untuk memukul wajah kedua orang itu. Tapi nyatanya butuh tenaga lebih untuk mengeluarkan keberanian itu.
Air mata Eliana mengalir, dia sakit hati melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh teman dan kekasihnya. Bagaimana bisa bahkan kisah cinta Eliana sampai serumit ini.
"Aku mau kita putus!" tegas Rico sambil merangkul bahu Yuni dengan mesra. Melihat mereka, Eliana semakin yakin kalau dia benar benar telah dicampakkan oleh pria berengsek yang hanya memanfaatkan dirinya.
Hancur sudah hati gadis itu, sekujur tubuhnya gemetaran menghadapi kelakuan bejat kedua orang di hadapannya.
"Katakan padaku alasannya!" ucap Eliana sambil menatap tangan keduanya yang saling merangkul satu sama lain.
"Kamu saling mencintai!" tukas Yuni dengan wajah sok polos dan lugu seolah dia adalah korban disini.
"Kau hanya seorang gadis pembawa sial, aku mendengar rumor buruk tentang mu dari seluruh karyawan kantor. Aku tak ingin bernasib sama dengan ibumu jika aku tetap bersama dirimu!" tambah Rico lagi.
craakkkkk....
Hancur sudah hati Eliana, pecah sudah hati yang rapih itu hingga berkeping keping. Lagi lagi umpatan yang sama dia dapatkan dan kali ini dar pria yang membuat dia merasa nyaman dengan hidupnya.
Mulai hari ini, Eliana mungkin tak akan bisa lagi hidup dengan nyaman, hatinya telah kosong sepenuhnya. Hidupnya telah hancur karena orang orang di sekitarnya.
"Kau sudah dengar kan Eli? aku bukannya merebut kekasihmu, tetapi itu semua karena dirimu yang terlalu tertutup, kau sok polos dan munafik, tapi kau menjebak orang dengan cara paling menjengkelkan, semoga kau sukses dan menemukan pasangan hidupmu!" ucap Yuni.
"Yuni jangan mendoakan hal seperti itu, kau terlalu baik, manusia seperti dia tak akan pernah bahagia, dia hanya akan menjadi beban bagi orang lain, mana ada pria yang mau mencintai gadis seperti Eliana kecuali karena wajah dan tubuhnya!" tukas Rico.
Eliana diam, lagi lagi dia hanya bisa diam dan memendam semuanya di dalam hatinya.
"Kak Rico jangan bilang begitu, tapi untuk mencintai perempuan munafik seperti Eliana akan sulit, tak akan ada orang yang mau menikah dengan perempuan pembawa sial seperti dia, " ucap Yuni yang sebentar menaikkan Eliana lalu sebentar lagi menjatuhkan dia sampai ke dasar paling dalam hingga hancur berkeping-keping.
Eliana berjalan mundur dengan tubuh gemetaran. Ternyata selama ini dia dipandang sebelah mata oleh orang orang yang dia anggap berharga, orang yang dia pikir bisa membawa kebahagiaan untuk hidupnya. Tak dia sangka bahkan kekasih dan teman dekatnya punya pandangan yang sama dengan orang orang di sekitarnya, dengan saudaranya, dengan tetangganya dan semua orang yang memandang rendah dirinya.
Pembawa sial, cap yang selalu menempel jika membicarakan tentang Eliana.
"Baguslah, aku tau bagaimana sifat kalian sebenarnya," suara Eliana terdengar gemetar.
"Rico, Yuni aku menunggu kalian membayar utang kalian masing masing, waktunya sampai besok, jika kalian tidak bayar maka akan ku buat masalah ini lebih besar!" Eliana berbicara tanpa menatap mereka, dengan tegas dia mengucapkan kata katanya.
Rico dan Yuni tersentak kaget, Eliana ternyata punya sedikit keberanian untuk melawan mereka dengan membawa utang mereka.
"Cihh... kau memang perempuan munafik, jadi ini caramu untuk melawan kami, baiklah kau yang memulai perang, aku akan bayar lunas SEMUA!" kesal Rico.
Rico dengan jelas menunjukkan ketertarikannya pada Yuni, dia memeluk Yuni dan mengusap air matanya di depan Eliana.
"Semoga kalian bahagia!" ucap Eliana.
Gadis itu pergi dari sana dengan hati yang hancur, padahal tadi dia sudah punya rencana untuk bersenang-senang bersama Yuni tai nyatanya dia malah dikhianati.
"Jadi dia sengaja memanggilku ke kafe hanya untuk menunjukkan hubungan mereka, sungguh kejam kau Yuni!" gumam Eliana.
Yuni adalah otak di balik semua kejadian ini.Sejak Eliana berhubungan dengan Rico dia sudah menaruh perasaan pada pria itu. Segala cara dia lakukan untuk menarik perhatian Rico dan ternyata sebulan yang lalu, Rico termakan omongan Yuni dan mereka menjalin hubungan gelap di belakang Eliana.
Yuni dengan sengaja menghubungi Rico untuk bertemu di kafe meski ini hari libur pria itu. Dan mengatakan bahwa dia akan datang bersama temannya tanpa menyebutkan bahwa temannya itu adalah Eliana.
Semua dia rancang dengan sempurna agar dia bisa mendapatkan Rico sepenuhnya. Paras Eliana dan proporsi tubuh gadis itu memang lebih sempurna dibandingkan dengan Yuni. Yuni selalu menempel dan mendekati Eliana Hingga dia tau semua cerita tentang Eli.
Dan secara diam diam menyebarkan semua cerita itu ke orang orang di kantor.
Eliana yang tulus berteman justru dikhianati oleh temannya dan kekasihnya. Sungguh miris kehidupan yang harus dijalani oleh Eliana.
Eliana cepat cepat melangkahkan kakinya, dadanya sesak, rasanya sangat menyedihkan ketika dikhianati oleh teman dan kekasih sendiri. Gadis itu menahan dirinya untuk tidak menangis, namun tanpa seijinnya, air matanya tumpah membasahi wajahnya.
"Ahhhhh... huhuhuhuhjh..... arrhhhhh kenapa, kenapa harus aku yang mengalami ini hiks hiks hiks!!!!" Eliana tak kuasa menahan tangisnya. Dia menangis sesenggukan sambil duduk di sudut halte bus. Semua orang menatap heran pada gadis yang tiba tiba menangis itu.
Eliana menumpahkan semua nya disana. Rasa sedih dan sakit hati yang dia tahan selama ini akhirnya pecah. Semua beban yang menumpuk itu, yang dia pendam akhirnya keluar bagai bom waktu yang menghancurkan dirinya hingga berkeping-keping.
Tangisannya mengatakan segalanya, bahwa Eliana benar benar kecewa dengan hidupnya sendiri.
Jam terus berlalu, Eliana duduk disana sudah sekitar enam jam lamanya. Duduk melamun sambil memikirkan hidupnya yang menyedihkan. Hingga bus terakhir lewat dan dia akhirnya beranjak dari sana.
Sementara itu di rumah, Pak Yanto sedang khawatir sebab putrinya belum pulang dan haru mulai malam.
"Loren, apa kau melihat Eli?" tanya Pak Yanto tepat saat pria itu masuk ke dalam rumah setelah pulang dari kota menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Tidak," jawabnya singkat.
Pak Yanto diam, dia tak tau harus berbuat apa.
"Tunggu sebentar lagi pak, mungkin sudah di jalan, saya keluar dulu," ucap Loren dengan nada datar seperti biasa.
"Baiklah, kuharap tidak terjadi apa-apa, tiba tiba saja perasaan ku tak enak," ucap Pak Yanto.
.
.
.
jangan lupa like vote dan komen 🤗