
Loren mengganti pakaiannya yang terkena muntahan Eliana. Mereka berhenti sebentar di sebuah toko dan ijin memakai toilet.
Eliana yang pakaiannya juga basah digantikan pakaian oleh perempuan pemilik toko atas permintaan Loren. Beruntung pemilik toko ramah dan mau membantu.
Setelah membeli kebutuhan mereka, Loren dan Dominique kembali melaju menuju rumah gadis malang itu.
Eliana lagi lagi meletakkan kepalanya di atas paha Loren, gadis itu masih saja mabuk dan meracau ini itu.
"ponsel ku...emhhh.. ponsel.. aku harus menghukum orang jahat... aku harus menghabisi Yuni dan Rico sekarang hahhaha....." Lagi lagi racauan Eliana menyeruak di telinga kedua pria itu.
"Aku tidak tau kalau dia akan seberisik ini jika sedang mabuk!" pikir Loren.
Eliana mengambil ponselnya dari dalam tas, dia mengutak-atik benda pipih persegi panjang itu. Meng-upload beberapa video dengan akun milik seseorang dan mengupdate berita di forum perusahaan. Entah bagaimana bisa gadis itu masuk ke dalam forum berita perusahaan dan menyebarkan sebuah berita menggemparkan disana.
"Hahahah kalian semua akan hancur, mampus kalian, aku tak mau hancur sendirian, lebih baik orang orang tak berguna itu keluar dar perusahaan hahahhaha.....
Brukk...
Gadis itu menjatuhkan ponselnya tepat di atas keningnya lalu tak sadarkan diri karena terlalu lelah.
Loren mengambil ponsel gadis itu lalu melihat apa yang dilakukan gadis itu barusan.
"ini!??" mata Loren membulat sempurna saat melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu. Loren membaca postingan dari ponsel Eliana dan membuka satu persatu video itu dan beberapa tangkapan layar yang di posting oleh gadis itu.
Loren benar benar dibuat terkejut dengan hal ini, bahkan anak buahnya dan orang orang kepercayaannya saja tak mendapatkan informasi sedetail itu tentang pegawai Alpha grup.
"Dominique, kirimkan semua data pegawai padaku, seluruh eksekutif dan manager terutama!!!" titah Loren sambil mengeraskan rahangnya setelah membaca semua postingan itu.
"Ada apa?" tanya Dominique.
"Kau tanya ada apa!?? perusahaan dalam kekacauan oleh orang-orang gila itu kenapa kau tidak melaporkan apa pun padaku!!!!" kesal Loren.
"Itu kesalahan ku, aku akan menangani mereka besok tenanglah, aku hanya tak ingin kau terganggu dengan masalah kecil itu," ucap Dominique membela diri.
"CK... segera bereskan orang orang sinting itu!" kesal Loren.
"Tenanglah, kita bicarakan nanti," ucap Dominique sambil menyetir dengan tenang meski dia tau Loren sedang marah saat ini.
Satu jam kemudian mereka tiba di rumah Eliana, tentu saja dengan banyak drama dari gadis itu. Loren mengangkat tubuh Eliana dan membawanya ke rumah. Di saat itu, Pak Yanto yang menunggu kepulangan mereka langsung menyambut mereka di depan pintu rumah.
"Bagaimana keadaan nya!?" tanya Pak Yanto dengan nada khawatir. Meski terkejut melihat Loren membawa mobil mewah, tapi Pak Yanto tak membahas itu, baginya yang terpenting saat ini adalah putri ya.
"Hanya mabuk Pak, dia sudah terlelap, mungkin dia akan sadar besok, saya akan bawa ke kamar dahulu baru kita bicara ," ucap Loren.
"Ahh baiklah biar kubantu!" ucap Pak Yanto yang dengan cepat mendahului Loren dan membukakan pintu kamar Eliana untuk pria itu.
Eli dibawa oleh Loren ke dalam kamarnya. Pria itu meletakkan Eliana dengan lembut di atas kasur. Sementara itu Pak Yanto dan Dominique menunggu di luar.
Eliana masih terlelap, saat Loren hendak pergi tiba tiba gadis itu menggenggam tangan Loren sambil meracau," Aku juga mau bahagia... Loren... bantu aku... aku akan membantumu," gumam gadis itu lagi.
Jika melihat Eliana seperti ini, jelas kalau gadis itu benar benar dalam.kondiai jujur terhadap perasaannya sendiri.
"fyuuhhh....." Loren menghela nafas, permintaan gadis itu baginya cukup berat. Banyak hal yang harus Loren pertimbangkan jika ingin menjalin hubungan. Penyakitnya, masa lalunya, musuh musuhnya, pekerjaannya, identitasnya dan semua tentang dirinya. Pria itu tidak berani jatuh cinta maupun merasa dicintai.
"Tidurlah, aku tau kau tidak serius dengan ucapanmu, kalau kau tau siapa aku sebenarnya, kalau kau tau penyakitku, kau pasti akan pergi, aku tak bisa menerima itu, " ucap Loren sambil melepaskan tangan Eliana dan memperbaiki selimut gadis manis itu.
Loren keluar dari dalam kamar Eliana dengan hati yang kacau. Entah getaran apa yang ada di dadanya saat ini, tapi dia berdebar ketika Eliana memperlakukannya dengan lembut dan mencuri ciuman pertamanya.Jika ini yang disebut jatuh cinta, mungkin Loren sudah mengalaminya tapi dia tak berani menghadapi kenyataan itu.
"Aku tidak pantas!" batin pria itu sambil menutup pintu kamar Eliana.
Sepanjang malam Loren berbicara dengan Dominique setelah dia menjelaskan situasi Eliana pada Pak Yanto. Pria itu menjelaskan kalau Eliana hanya mabuk setelah makan bersama rekan kerjanya. Loren tak ingin melewati batas dengan melaporkan kejadian di kantor pada Pak Yanto, dia tak ingin Eliana maupun pak Yanto sama sama panik. Lebih baik Eliana yang menyampaikan secara langsung.
"Keluarga ini cukup unik!" celetuk Dominique di sela sela pembicaraan serius mereka. Loren yang sedang menatap data pegawai kantor mengalihkan pandangannya pada Dominique.
"Itu sebabnya aku nyaman disini," ucap Loren datar.
"Ya, mereka bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan pribadi orang lain, padahal jelas ayah gadis itu penasaran tapi dia tak menanyakan apa pun, kau benar benar beruntung bisa bertemu mereka!" tukas Dominique.
Loren hanya mengangguk setuju, dia dengan serius menandai nama nama sesuai dengan apa yang di-posting oleh Eliana saat di mobil tadi.
Setelah beberapa jam diskusi, Loren menyerahkan nama orang orang yang akan diputus karirnya besok setelah membuat kekacauan besar di perusahaan milik Loren dan Dominique yang dikelola olehnya dan Dominique.
"Habisi mereka besok," ucap Loren menyerahkan nama. nama itu.
"Apa kau tidak hadir? " tanya Dominique.
"Lihat besok, jika bisa aku akan hadir, kau urus saja mereka dan..." Loren melirik kamar Eliana.
"Bantu gadis itu membersihkan namanya, berantas orang orang gila yang menjadikannya kambing hitam!" titah pria itu dengan tatapan sedingin gunung Everest.
"Baik, tapi kuharap kau datang, perusahaan juga ingin melihat pemilik nya, bukan hanya aku saja, kau juga dibutuhkan!" celetuk Dominique.
"Ya, tapi aku tak janji, aku terlalu malas untuk ke perusahaan, " tukas Loren seraya menenggak minuman berkarbonasi yang dia punya.
"Kau minum alkohol lagi? jaga kesehatan mu, jangan sampai kau mengalami demensia dini!" ketus Dominique.
"Aku sudah berhenti!" ucap Loren sambil menatap kaleng minuman berkarbonasi itu.
"Sejak kapan!?" tanya Dominique.
"Bukan urusan mu!" balas Loren dengan ketus.
"CK.. CK... CK... pasti karena perempuan, cihh kalau aku yang larang kau sangat bebal tapi kalau gadis itu, kau langsung menurut!" ketus Dominique.
"Darimana kau tadi kalau dia menegurku!?" Mata Loren membulat.
"Hah!? jadi benar!? dasar pria gila!" umpat Dominique.
"Aku jadi merasa dikhianati oleh kekasihku sendiri!" kesal Dominique.
"Kau gay ya!?" tatap Loren curiga.
"Ya, aku gay mas... aku kecewa padamu... nyenyenee...." celetuk Dominique sambil menggoyangkan jari jarinya dengan Lentik.
"Uncle dan Aunty akan kecewa dengan ini! CK... CK...CK..."
"Diam kau, kau juga hidup seperti pecinta sejenis, cukur kumis mu itu, seperti ulat bulu saja, kau mirip om-om mesum!" ketus Dominique.
"Kalian memang kembar ya, Rena juga mengatakan hal yang sama!" balas Loren.
"Terserah, tapi kusarankan cukur bulu bulu itu, sangat mengganggu pemandangan!"
"Kau mau mencukurnya?"
"gila kau!"
.
.
like, vote dan komen 🤗