Hidden Mafia

Hidden Mafia
21. Segel yang sah!



Hari menjelang pagi, Eliana membuka matanya dari tidurnya yang sangat lelap akibat pengaruh alkohol yang dia minum semalam. Kepalanya pusing dan berat, bagaikan dipukul oleh sebuah palu dan ditimpa palu besar, sangat pusing dan sakit .


"Akhhh.... shhhh kepalaku!!!!" desis gadis itu sambil memijit kepalanya Nyang terasa berdenyut denyut.


"Aku benar benar mabuk semalam, akhhh... gila... aku benar benar sudah gila!!" gadis itu memukuli kepalanya sendiri.


"Dia membuka mata dan mengucek kedua matanya dengan tangannya. Menatap ke arah meja di dalam kamarnya, sudah ada obat pengar dan pusing diletakkan disana.


"Akhhh siapa yang membawa....


Eliana terdiam saat dia mengingat apa yang dia lakukan semalam. Dia tak mengingat semuanya tapi samar samar poin penting saat dia mencium Loren teringat jelas di kepala gadis berusia 25 tahun.


"A.. Apa yang sudah kulakukan semalam!!!!" pekik gadis itu sambil memegang bibirnya. Dia sadar kalau semalam dia telah melakukan kesalahan besar. Bagai bisa dia mencium seorang pria di saat mabuk bahkan sampai...


"Aku dengan mulut ini... menggigit perutnya!?? oh Tuhan aarrkrhhhh gila aku sudah gila!!!!" pekik gadis itu sambil berteriak dan menggeliat kesana kemari di atas kasurnya. Dia sadar dengan kelakukan gilanya semalam, mengajak seorang pria berpakaian, mencium bahkan sampai menggigit pria itu.


Puk.. puk.. puk...


Gadis itu memukuli kepalanya sendiri, merutuki dirinya yang terlalu bodoh dan naif, benar benar hal yang memalukan bagi Eliana.


"Ya Tuhan apa yang kulakukan semalam? bagaimana bisa aku melakukan itu pada Loren, apa yang akan dia katakan padaku!?? tidak akkhh sial... bodoh kah Elia bodoh.. kau benar benar tidak berguna!!!!" gadis itu terus terusan merutuki dirinya karena kejadian semalam.


Bayangkan saja betapa malunya gadis itu jika bertemu Loren nanti. Sungguh mau ditaruh dimana mukanya jika Loren sampai membahas kejadian semalam. Gadis itu menutupi wajah nya dengan kedua tangan sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak akhhh tidak mungkin, Eliana bodoh sekali kau," gerutu gadis itu itu lagi..Dia benar benar malu pada dirinya sendiri, seolah dia telah melakukan pelecehan pada seorang pria tak bersalah yang jadi korban karena dia mabuk.


"Mau ditaruh dimana wajahku, aku malu sekali bagaimana aku akan keluar rumah kalau begini huwaaa... memalukan!!!" gumam gadis itu.


"Huhuhu apa yang harus kulakukan!!!???" pikir gadis itu.


Dia melirik ke arah jam dinding, masih menunjuk pukul 4. 30 pagi. Cepat cepat dia bangkit dari tempat tidur lalu menenggak obat sakit kepala dan obat pengar itu dan meminum dua gelas air hangat untuk.emnuaf perutnya merasa nyaman.


"Aku harus cepat dan melarikan diri dari sini, jangan sampai dia melihatku, aku benar benar malu!!!" gumam gadis itu yang langsung menyambar pakaian kerjanya dan masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri sambil menetralkan pikirannya.


"Betapa bodohnya aku, bisa bisanya aku mencium dia!!" Eliana masih merutuki dirinya bahkan sampai dia selesai berpakaian.


Gadis itu mengambil sepatu sport nya, dia memakai celana bahan satin dan kemeja krem rambutnya diikat dike atas dan tanpa riasan berlebih, gadis itu keluar dari dalam kamarnya dengan membawa tas ransel yang sudah diisi dengan barang barangnya.


Eliana mengeluarkan kepalanya dari dalam pintu kamar, seperti bocil yang sedang mengintip untuk cari kesempatan mencuri mangga tetangga.


"Aman!" gumam gadis itu saat melihat rumah itu masih sepi.


Dia keluar perlahan dari dalam kamarnya. Sambil berjinjit gadis itu membawa sepatu dan ranselnya keluar dari dalam kamarnya setelah memastikan situasi aman dan tenang.


Cepat cepat gadis itu keluar dari rumah hendak melarikan diri sebelum bertemu dengan ayahnya maupun Loren. Gadis itu menutup pintu depan lalu berbalik dengan pelan dan...


"Mau kemana jam segini!?" suar tegas Loren mengejutkan Eliana.


"Astaga !!"pekik gadis itu saat melihat Loren yang dipenuhi dengan peluh keringat setelah dia lari pagi di jam segini.


Eliana benar benar terkejut saat mendengar suara Loren. Dia terkejut bukan main, bahkan hampir terjatuh ke atas tanah.


"Mau kemana jam segini!?" tanya Loren sambil menatap Eliana dengan memicingkan matanya.


"Em... ma...mau ke..kerja! I..iya ma..mau kerja...a..aku pergi du.. dulu!" jawab Eliana dengan suara gugup sambil berjalan menghindari Loren.


"Eh... ke..kejadian apa? a..aku tidak ingat apa apa setelah mabuk semalam," elak Eliana dengan wajah gugup.


Loren menatap Eliana, dia menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan Eliana lalu memberikan tatapan penuh selidik pada gadis itu.


"Kau... benar benar tidak ingat ?" tanya Loren lagi.


"I... iya, aku tak ingat kalau aku menciu... ups... a...aku!!


"Kau ingat ternyata!" ucap Loren sambil menatap gadis itu lagi.


Semburat merah karena malu mewarnai wajah gadis itu. Mau ditaruh kemana wajahnya saat ini.


"Maaf... " ucap gadis itu.


"Untuk apa?" tanya Loren.


Eliana gugup, dia tidak tau harus jawab apa saat ini. Tapi satu yang dia pikir kan kejadian semalam memang terjadi atas keinginan sadarnya.


Eliana menarik nafas Beberapa kali dan menenangkan dirinya.


"Maaf kalau tidak sopan untuk yang kemarin!" ucap gadis itu. Kali ini dia mencoba menatap Loren meski tidak lama.


"Lalu?" tanya Loren yang seolah menuntut hutang dari Eliana yang telah mencuri ciuman pertamanya.


"Emmm... a...aku... serius dengan ucapan ku, dan itu... ci..ciuman itu adalah segel yang sah!" jawab Eliana.


"Ka..kau... harus mau!" ucap gadis itu dengan tekad bulat.


Eliana berlari dari hadapan Loren karena mengatakan omong kosong yang pasti dia pikir akan membuat Loren marah.


"pokoknya aku serius, a...aku tidak main main dengan kata kataku!" ucap gadis itu dengan wajah memerah.


Loren diam terpaku sambil menatap gadis yang begitu blak blakan soal perasaannya itu.


"Gadis ini benar benar mengajakku menjalin hubungan!? apa dia masih mabuk!?" pikir Loren sambil menatap Eliana yang sudah berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Loren disana.


Sementara itu Eliana berlari sambil menepuk nepuk wajahnya yang terasa panas. Sebenarnya ucapannya semalam berasal dari hatinya, gadis itu sudah bertekad untuk membalas dendam pada Yuni dan Rico dan juga pada seluruh dunia yang mengatakan kalau dia tidak pantas untuk dicintai. Entah ini terlalu naif atau ide gila dari otak jenius gadis itu.


"Ahkkk apa yang kulakukan, aku mengatakannya lagi, benar benar memalukan!!!" teriak Eliana . Level malunya sudah mencapai puncak ubun ubun.


"Ya Tuhan kuharap dia tidak marah, kalau dia tak mau akan kupaksa terus!!" ucap Eliana yang sudah teguh dengan pilihannya.


"Ini benar benar memalukan, akhhh aku malu sekali!!!!" gumam gadis itu sambil menepuk nepuk pipinya.


Sementara itu Loren berdiri di depan rumah Pak Yanto sambil menatap kepergian gadis yang tiba tiba menunjukkan aslinya itu.


"Dia sudah gila!" ucap Loren sambil geleng-geleng kepala.


.


.


like, vote dan komen 🤗