Hidden Mafia

Hidden Mafia
31. Hilang sudah



(19+ bagi yang tak suka, minggir!)


Loren mengungkung Eliana dan mencumbu seluruh tubuh gadis itu dengan rakus, dia mengambil sebotol wine dan memasukkan benda itu ke dalam mulutnya lalu membiarkan Eliana meminum cairan itu langsung dari bibir Loren.


Eliana yang tak bisa minum alkohol terbelalak saat Loren memasukkan anggur ke dalam mulutnya yang memaksa nya untuk menenggak benda itu. Tangan mungil Eliana memukuk-mukul dada Loren tapi tak ditanggapi sama sekali.


Loren malah menarik tangan gadis itu dan menguncinya dengan satu tangan di atas kepala Eliana.


Lagi dan lagi Loren memasukkan minuman beralkohol yang memabukkan itu ke dalam mulut Eliana. Tangis Eliana pecah, dia memang telah terperangkap dalam jebakan liar sang mafia. Loren yang sedang kumat tidak akan sadar dengan apa yang dia lakukan .inilah sebabnya setiap kali dia kambuh, dia akan diikat dengan rantai di bagian tangan dan kakinya agar tidak berbuat macam macam pada orang lain.


Dia juga pria dewasa yang mempunyai hasrat, jika dipancing dia bisa sembarangan tidur dengan orang lain dan malah membuat kekacauan lebih besar.


Eliana tak sanggup, dia sudah mabuk dengan minuman itu, pikirannya melayang, air matanya masih begitu dengan begitu deras.


Loren yang sudah dikuasai hasrat menjadi gelap mata, dengan cepat dia melucuti dan merobek pakaian Eliana hingga terpampang dihadapannya tubuh Eliana tanpa sehelai benang pun.


Gadis itu tak kuat, dia tak bisa berbuat apa apa selain menangis," Apa ini nasibku hiks hiks hiks... Loren bangunlah, aku tau kau bukan pria seperti ini hiks hiks hiks.... Loren...." Eliana menangis sambil menatap Loren yang sudah dikuasai kabut gairah.


Pria itu dengan insting kejantanan nya menggag*hi Eliana. Mencumbu gadis itu dengan rakus. Tangannya dengan nakal mengeksplor seluruh tubuh Eliana sehingga membuat gadis itu merem melek merasakan sentuhan Loren di tubuhnya. Sentuhan pertama kali dalam hidupnya di bagian bagian vital tubuhnya.


Rasanya sangat menggelitik, seperti ada yang keluar, perutnya terasa geli dan tubuhnya terasa panas. Begitu pun dengan Loren, dia menatap sayup waah gadis yang membuatnya merasakan hal yang aneh dan membuatnya ingin melahap gadis itu seutuhnya.


Loren memainkan tangannya di bagian bagian sensitif membuat gadis itu mengerang seksi. Loren menggempur Eliana, merebut mahkota gadis itu dengan kasar, hilang sudah mahkota berharga yang selama ini dijaga baik baik oleh Eliana. Darah segar mengalir dari bagian intinya pertanda Eliana sudah tak perawan lagi.


Eliana mengerang kesakitan dengan permainan kasar Loren, pecahan beling di punggungnya semakin dalam memasuki tubuhnya. Dia menangis kesakitan sedangkan Loren semakin menggila.


Hingga malam berlalu keduanya akhirnya ambruk dan tidur tanpa sehelai benang pun, hanya berbahan selimut Loren memeluk Eliana dengan posesif. Eliana tampak pucat, dia tak bergerak, keringat memenuhi tubuhnya.


Keduanya terlelap setelah pergulatan panas yang menyakitkan ditemani pecahan Bing yang menyakitkan itu.


Hingga waktu berputar dan jam menunjukkan pukul 12 siang. Rasanya dunia Loren semakin hancur saat dia bangun dan sadar dari tidurnya, benar benar sadar dengan apa yang sudah dia lakukan semalam. Dia telah menyakiti seorang gadis tak bersalah.


Pria itu membuka matanya saat merasakan seseorang gemetaran dalam pelukannya. Dia bisa merasakan panas dari tubuh Eliana, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Loren terbelalak kaget dengan apa yang terjadi di luar kendalinya.


Dia bangun dan mendapati wajah Eliana di dalam dekapannya.Yang paling menyiksa adalah Loren mengingat semua yang dia lakukan pada Eliana, semua ingatan tentang bagaimana dia kambuh jelas terbayang di kepala pria itu.


"E..Eliana!?? kenapa kau disini!!!" Loren terkejut bukan main saat melihat Eliana tanpa sehelai benang pun ada dalam dekapannya.


"Apa yang sudah kulakukan!!!" pekik Loren sambil memeluk Eliana dengan erat. Matanya semakin membulat sempurna kala melihat semua luka di punggung Eliana yang masih berdarah bekas beling semalam bahkan masih ada pecahan kaca yang tertancap di punggung gadis itu.


Loren dengan sadar menangis kala melihat kondisi Eliana yang sangat memprihatinkan meskipun dia sama memprihatinkan nya.


"El... Ba .bangun El... bangun lah kumohon hiks hiks hiks... Eliana!!!" panggil Loren seraya mengusap wajah pucat Eliana.


Gadis itu membuka matanya, dia merasakan sakit yang luar biasa hebatnya di sekujur tubuhnya. sangat sakit sampai membuat gadis itu berteriak dan meringis kesakitan.


Loren menatap Eliana, cepat cepat dia membunyikan bel darurat di dalam kamarnya untuk memanggil anak buahnya.


"El.. bertahan lah, maafkan aku... maaf melukaimu El..."Loren menangis sambil memeluk Eliana dengan erat.


Eliana yang sudah mendapatkan kesadaran nya gemetar ketakutan dengan bayang bayang wajah Loren semalam. Sangat menyeramkan bahkan sampai menyisakan trauma bagi gadis itu.


"Lepaskan aku... Lo..Loren...kau bukan Loren kan!? Kau... Kau jahat hiks hiks hiks.." Eliana menangis histeris sambil memukuli punggung Loren.


Pria itu hanya mendekap Eliana dan terus membisikkan kata kata maaf ,"Maaf El,... aku yang tidak berguna ini, aku yang penyakitan ini malah merenggut hal yang paling berharga bagimu, maafkan kesalahanku,"Loren memohon pengampunan dari gadis itu .


Eliana terkejut, pria itu benar benar telah kembali, air mata lega mengalir deras dari kedua pelupuk mata Eliana, dia menarik wajah pria itu dan menatap Loren.


"hiks hiks hiks.... kau sudah sadar!? Loren? ini aku Eliana, ini aku... aku datang untuk membahas tawaran waktu itu, aku disini.... ka..kau sudah bangun? ini Loren kan? Loren yang ku kenal? ka..kau baik baik saja!??" Eliana menangis sambil menatap wajah Loren yang penuh dengan luka itu.


Loren tertegun saat Eliana yang awalnya kelihatan takut justru mengkhawatirkan Loren padahal pria itu sudah membuat Elina terluka begitu parah dan merenggut kesucian Eliana dengan paksa


"Aku.. ini aku, maaf..." ucap Loren pelan.


Eliana setidaknya bernafas lega karena Loren sudah kembali. Gadis itu masih menangis, dia sadar kalau dirinya sudah tidak seperti dulu lagi, dia sadar sepenuhnya tapi dia tidak marah karena dia yang memilih masuk ke dalam kamar itu dan menghadapi semua resiko yang akan dia dapatkan termasuk kehilangan kesuciannya di tangan pria itu.


"Syukurlah hiks hiks hiks... Syukurlah...." ucap Eliana sambil menangis. Loren memeluk Eliana dengan lembut, luka luka di punggung Eliana membuat hati pria itu bagai tersayat. Jelas dia ingat bagaimana dirinya semalam mengamuk dan membanting Eliana ke atas lantai yang penuh dengan pecahan beling.


"Maafkan aku.... aku menyakitimu," ucap Loren.


Eliana hanya diam sambil menangis, dia tak tau harus mengatakan apa untuk saat ini. Yang jelas tubuhnya benar benar remuk karena pergulatan semalam.


"Loren!!!" Suara Xavier terdengar, membuat Loren dengan sigap menutup tubuh Eliana dan tubuhnya dengan selimut. Dia memeluk Eliana dengan posesif dan memberikan tatapan tajam ke arah Xavier dan Damian.


"Bereskan tempat ini!" ucapnya dengan nada datar, dia menyembunyikan Eliana dalam pelukannya.


"Jadi aku berhasil ya?" batin Xavier yang sekilas tersenyum tipis saat melihat pakaian mereka berserakan di atas lantai.


"Apa yang dipikirkan psikopat gila ini!?" batin Damian yang merasa aneh dengan Xavier.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗