
Loren membawa nampan berisi makanan ke dalam kamar mereka, setelah menggempur istrinya sampai tiga ronde, Eliana terlelap karena kelelahan. Pria itu telah bangun tiga jam yang lalu, dia membersihkan istrinya dan juga dirinya sendiri. Saat membersihkan dia tersenyum saat melihat bekas bekas cinta yang terlukis di tubuh mereka masing-masing. Lagi-lagi pipinya bersemu merah karena wanita di depannya itu sangat menggoda.
Dengan inisiatif, Loren mengeluarkan kemampuan memasaknya, dia menyiapkan hidangan untuk istrinya. Pak Yanto jangan ditanya, dia sangat paham dengan keinginan anak muda yang baru menikah sehingga sebelum mendengar suara suara gaib di rumah tak kedap suara itu dia keluar dan malah bermalam di tempat Budi.
Begitu banyak hidangan yang dimasak oleh Loren. Tinggal dan hidup sendirian selama bertahun-tahun membuat keahlian memasak pria itu semakin hebat.
“ Sedap, dia pasti suka, anakku juga akan suka,” gumam Loren dnegan senyuman sumringah di wajahnya.
Dia masuk ke dalam kamar, matanya tertuju pada Eliana yang msih terlelap dengan begitu nyenyaknya di bawah selimut tebal yang diberikan Loren padanya.
“ Imutnya istriku,” gumam Loren. Belum pernah dia merasakan kebahagiaan seperti ini seumur hidupnya. Dia meletakkan hidangan itu di atas meja dengan rapi, lalu naik ke atas rajang membangunkan sang putri tidur untuk menikmati makan paginya yang sudah sangat terlambat.
“ Sayang, Eliana bangun, ini sudah siang, kamu harus makan,” ucap Loren sambil sedikit menggoyangkan lengan wanita itu. Eliana membuka matanya perlahan,” sebentar lagi , aku masih ngantuk...” gumamnya yang malah menarik Loren dan memeluk pria itu sambil terlelap.
Loren terkekeh, dia mengusap wajah istrinya dengan lembut,” hei kalau tidak mau makan aku akan memakanmu lagi, kali ini akan lebih melelahkan,” bisik Loren dengan hembusan nafas seksinya di telinga Eliana.
Merasakan telinganya digelitik oleh nafas pria itu, Eliana tersentak dan sadar kalau dia akan masuk lagi dalam jebakan pria dengan stamina gila itu. Wanita itu langsung membuka matanya dan duduk menatap Loren dengan wajah segar sambil berkedip-kedip menatap Loren dengan wajahnya yang kelihatan sangat menggemaskan itu.
“harum apa ini?” mata Eliana langsung berbinar saat dia menium aroma masakan Loren yang begitu menggoda.
“ Eh... pengalihan topiknya hebat juga ya mommy sayang,” ucap Loren sambil menarik Eliana ke dalam pelukannya.
Eliana yang masih belum terbiasa dengan panggilan itu tersipu malu saat ini, wajahnya merona, dia tersenyum sambil menunduk .
“ Hehehhe.... selamat siang pak suami,” ucap Eliana sambil tersenyum.
Loren membalas senyuman gadis itu dengan sebuah kecupan lembut di keningnya, sunghuh pasangan muda ini berhasil membuat siapa pun yang melihatnya terbakar api cemburu karena iri.
“Selamat pagi sayag, jangan panggil pak Suami , paggil yang lain,” ucap Loren.
“ Emm? Panggil apa? Baby? Kamu bukan bayi tau, honey? Kamu bukan madu tapi manis sih kayak madu apalagi bagian ini hihihih..” celetuk Eliana seraya mengusap bibir suaminya sambil tersenyum bahagia.
Loren tergelak dengan tingkah manja istrinya. Baru kali ini Eliana melakukan hal seperti itu, tampaknya memang hubungan mereka benar benar telah resmi dan sangat baik.
“ Wahh kamu nakal ya,” ucap Loren .
“ Hehehh.. aku hanya senang berada di dekatmu, sangat bahagia, “ ucap Eliana dengan jujur.
“ Ya Sudah kalau bahagia kita makan dulu yuk, kamu pasti udah lapar, belum lagi ada jagoan kecil yang lagi tumbuh di sini,” ucap Loren sambil mengusap perut istrinya denagn wajah berbinar – binar.
“ Hayukkk aku udah lapar... tapi kamu suapin ya?” pinta Eliana sambil menatap Loren dengan penuh harap.
“ Please , Suapin ya.... sayang.. suapin ya...” ucap Eliana dengan segala bujuk rayunya bahkan memanggil Loren dengan sebuatan sayang yang tentu saja berhasil meluluhkan hati pria itu.
“ Hahahahaha... baiklah sayang, mulai hari ini kamu panggilnya begitu, di depan semua orang aku juga akan begitu sayang,” ucap Loren.
Eliana tersenyum sambil mengangguk bahagia. Dalam hati kecilnya dia bersyukur karena berhasil membuat pria yang penuh dengan kebencian, rasa sakit dan kesepian itu tersenyum bahagia seperti saat ini. Dia begitu senang dengan kehadiran janin mereka.
“ Mommy harap kebahagiaan ini akan terus berlanjut, Daddy kamu juga berhak bahagia sayang, mari kita hidup bahagia selamanya, Mom akan lakukan apa pun yang bisa membuat Daddy tertawa dan tersenyum bahagia seperti ini selamanya,” batin Eliana seraya mengusap perutnya.
Dia telah menerima semua informasi tentang kesehatan Loren dari Dominique dan Xavier, banyak hal yang harus Eliana waspadai terutama penyakit kambuhan Loren yang sebentar lagi pasti akan kumat di akhir bulan. Fakta mengejutkan tentang Loren dan keluarganya serta orang –orang yang dulunya dekat dengan Loren. Eliana telah mengetahui semua informasi tentang suaminya tanpa sepengetahuan pria itu.
“ Sayang ayo makan, aaaa..” ucap Loren sambil mengarahkan sendok ke mulut wanita itu.
Eliana tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dia melahap makanan itu dengan rasa bahagia.
“ Kamu menangis? Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?!? tanya Loren yang langsung panik. Eliana menggelengkan kepalanya dia memeluk Loren sambil terisak.
“ Ada apa hey? Sayang? Ada apa?” tanya loren samabil menepuk-nepuk pucuk kepala istrinya.
“ Aku hanya bersyukur, ternyata ada seorang pria yang begitu mencintaiku, aku bersyukur karena kamu hadir dalam hidupku, terimakasih banyak sayang, aku mencintaimu, dan akan begitu sampai selamanya, apa pun yang terjadi kedepannya, ingat aku, ingat anak kita, pegang kata –kataku kalau kita pasti akan berkumpul seperti semula, kalau kita pasti akan bersama,” ucap Eliana smabil menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.
Hati kecil Loren bergetar, entah kenapa kata-kata istrinya ini membuatnya teringat dengan kekhwatirannya akan kehadiaran saudara angkatnya yang sudah pasti sedang mengawasi mereka sampai saat ini.
Loren membalas pelukan wanita itu sama eratnya. Dia tak mengucapkan apa pun , dia hanya diam sambil memeluk Eliana dengan erat. Rasa takut kehilangan, takut kesepian lagi , takut ditinggalakan lagi adalah perasaan yang sangat familier bagi Loren maupun Eliana. Keduanya berjuang selama ini untuk bebas dari rasa itu hingga mereka bertemu dan perasaan itu perlahan lahan hilang.
Sementara itu di sisi lain negeri itu, pria pemilik surai berwarna pirang sedang duduk di dalam ruangannya sambil menatap foto Eliana denagn wajah marah dan kesal.
“ Kenapa dia merebut semua yang ingin kumiliki, gadis ini, gadis kecil yang tatapan matanya begitu sedih kala itu memelukku saat aku menangis di pemakaman ayah dan ibu tapi kenapa si pembunuh sialan itu malah mengambilnya dariku, aku mencarinya bertahun-tahun lamanya tapi kenapa dia mengambilnya dariku!!” Pria itu berteriak histeris.
Sementara itu seorang pria yang berdiri di dalam ruangan ityu tersenyum tipis,” saling menghancurkanlah kalian berdua hahahahha.. kekuasaan Kiriye akan berada di tanganku, kalian akan mati sama persis seperti kedua orang tua kalian waktu itu hahahha....... saling membunuh dan saling menyerang, akan kugunakan wanita ini sebagai alat untuk mengadu domba mereka, hihihih... aku tak sabar menunggu pertumpahan darah kedua anak kandung ini hahahahaha... rencanaku sempurna...” pria itu tertawa jahat di daam hatinya.
.
.
.
Like, vote dan komen