Hidden Mafia

Hidden Mafia
33.Akan bertanggung jawab



Loren menatap wajah Eliana yang baru bangun dari tidur, Xavier sudah mengecek kondisinya dan mengatakan kalau Eliana pulih dengan cukup baik dan tinggal menunggu luka lukanya sembuh.


“ Dia bertahan cukup baik, kupikir dia akan mati semalam, ternyata dia kuat juga....


“ keluar kau bangsat!” teriak Loren ketika dia mendengar ocehan pria gila itu.


“ cihh.... dasar, ya sudah kau keluar dulu, selamat menikmati waktu kalian,” ujar Xavier sambil menarik kerah damian dan keluar dari sana memberikan ruang bagi kedua orang itu untuk bicara dari hati ke hati.


“ Dasar mulut ayam, kau terus mengoceh!“ kesal Loren yang menatap xavier dan Damian sampai mereka berdua benar benar menghilang dari dalam ruangan itu.


“ Kau banyak bicara disini, “ ucap Eliana seraya melirik tangannya yang digenggam terus menerus oleh Loren seolah dia takut kalau gadis itu akan lari.


Loren berbalik dengan wajah gugup, jelas terlihat dia tak menatap Eliana sama sekali dan memalingkan pandangannya, rasa bersalah dan khawatir menjalar di tubuh pria itu saat ini.


“ Mereka teman baikku, maaf atas sikap kasar mereka terutama dokter psikopat itu,” ucap Loren sambil menunduk dan mengusap usap tangan Eliana membuat gadis yang tak lagi gadis itu merasa nyaman meski rasa sakit menjalar di punggungnya.


“ Loren, aku ingin duduk, punggungku sakit,” ucap Eliana.


Loren menoleh, namun dia masih belum bisa menatap mata Eliana,” baiklah,” ucapnya lalu membantu Eliana untuk duduk. Dia membuat Eliana senyaman mungkin dengan membuat bantal sebagai sandaran gadis itu, mengangkatnya dengan lembut dan membuat Eliana merasa tenang dan nyaman.


“ Apa sudah nyaman?” tanya Loren seraya memperbaiki rambut Eliana dan mengecek kondisinya secara keseluruhan dengan penuh perhatian.


Ini benar benar sisi yang berbeda dari Loren. Pria kasar, tukang mabuk itu ternyata sangat baik memperlakukan seorang wanita. Dia sangat menghargai dan membuat Eliana merasa berharga.


Eliana mengangguk pelan sambil terus menatap Loren, pria yang sudah merenggut mahkotanya .


Loren duduk, dia lagi lagi menundukkan kepalanya dan tak berani melihat Eliana. “ Maaf,” ucap pria itu, tapi dia masih saja menggenggam tangan Eliana, jelas Eliana tau kalau Loren benar benar menyesal dengan kejadian itu.


“ Maaf karena aku melakukan itu padamu, aku... memang pria berengsek, maafkan aku meski ini memang tak bisa dimaafkan, aku sudah mengambil sesuatu yang sangat berharga bagimu, yang seharusnya kau berikan pada pria yang kau cintai dan pria yang normal, bukan pria gila seperti diriku, maaf melibatkanmu dalam semua hal ini,” ucap Loren.


Eliana diam, dia gemetar, bayang bayang kejadian semalam memang membuatnya sedikit trauma, belum lagi Loren menggagahinya dengan sangat kasar, hingga sekarang pun dia masih merasakan tubuhnya lemas.


Dia sadar kalau semuanya sudah terlambat untuk disesali, semuanya telah terjadi, nasi telah menjadi bubur dan waktu tak bisa diulang lagi. Dia telah kehilangan darah perawannya di malam itu bersama Loren, jika sampai ayahnya atau saudaranya tau dia pasti akan dianggap sebagai seorang perempuan yang tidak baik karena menjaga dirinya sendiri dia tak bisa.


Loren bisa merasakan tubuh Eliana gemetar, ketika membahas hal itu membuat Eliana memikirkan apa reaksi orang orang terhadap dirinya nanti. Akan semakin banyak ejekan dan hinaan yang akan dia dapatkan jika sampai orang tau kalau dia telah kehilangan hal itu karena nekad mengejar Loren ke London.


“ El..?” Loren mengangkat kepalanya dan menatap Eliana. Betapa terkejutnya dia saat melihat Eliana kini telah bersimbah air mata. Gadis itu menangis sesenggukan namun suaranya tak kedengaran. Loren diam membeku saat melihat Eliana menangis, dia sadar telah membuat kesalahan besar yang akan menghancurkan hati gadis itu.


“ El.... maaf... aku...


“ Hiks hiks hiks... Loren.... apa yang harus kulakukan hiks hiks hiks... bagaimana ini? Kalau ayah dan kakak kakakku tau mereka pasti akan menghinaku, ayah pasti akan kecewa padaku dan orang orang akan mengejekku lagi, aku yang salah, aku yang terlau naif seharusnya aku meminta bantuan hiks hik hiks.... bagaimana ini” Eliana menangis, isak tangisnya begitu pilu di telinga Loren.


Hati Loren bergemuruh, rasanya dadanya sesak ketika melihat gadis itu menangis di depannya. Menangis karena kesalahan yang telah terjadi.


“ Ma...maafkan aku....”


Brukkk...


Loren duduk berlutut di hadapan Eliana seolah dia sedang memohon pengampunan dari gadis itu. Dia memang sadar kalau dirinya tak pantas tetapi malah menghancurkan kehidupan seorang gadis.


“ Aku.... aku a... akan bertanggung jawab... aku...


“ Loren... hiks hiks hiks lihat aku,” panggil Eliana yang masih menangis.


Loren mengangkat kepalanya dan menatap Eliana, sangat sakit melihat gadis itu menangis.


“ Aku... kalau kau bersedia, aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu, itu pun kalau kau bersedia menikah dengan seorang pria gila seperti diriku, kau sudah melihat aku yang sebenarnya aku akan bertanggung jawab jika kau sampai hamil karena kejadian semalam, aku akan menebusnya itu pun kalau kau setuju, semua ada di...


“ Aku setuju, baiklah mari kita menikah, “ potong Eliana yang ternyata dalam hati mengharapkan jawaban ini dari Loren.


Loren mengangkat kepalanya lagi dan menatap Eliana dengan tatapan tak percaya kalau gadis itu mau menerima dan menikah dengannya. Dia pikir Eliana akan menolak dan mengusulkan saran lain.


“ A.. apa kau Ya.. yakin?” tanya Loren sekali lagi dengan mata membulat sempurna seolah tak percaya dengan jawaban Eliana yang sangat tegas.


Eliana mengangguk,” aku yakin, kita bahkan sudah melakukan lebih dari itu, dan kau memang harus bertanggung jawab untuk kejadian semalam,” ucap Eliana sambil mengusap air matanya meski ada kekhawatiran lain dalam dirinya.


Loren berdiri, dia masih menatap Eliana dengan intens tatapan menyelidik seolah ingin mencari tau apa kah itu sebuah kebohongan atau tidak.


“ Apa kau takut?” tanya Loren saat matanya menangkap jari jari Eliana gemetaran seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


“ Terbukalah denganku, kumohon katakan apa yang kau pikirkan, jangan menyimpannya sendirian, aku ini sekarang pasanganmu, bukannya kita akan menikah? Tolong jujur dan terbuka padaku,” pinta Loren sambil duduk di samping Eliana dan menatap perempuan itu dengan tatapan penuh harap.


Eliana terkejut, dia memang sangat tertutup tentang apa yang dia rasakan, tetapi sekarang Loren memintanya dengan tulus untuk membuka dirinya pada Loren..


"Aku.... Ta...Takut.." ucap Eliana.


Pikirannya yang terlalu berlebihan dan berubah ubah membuat gadis itu mengalami mood swing yang parah.


"Apa kau takut denganku? atau dengan keputusan ini? kita tidak perlu melakukannya kalau kau takut," ucap Loren.


"Ji..jika kau ha..mil ka..kau bisa menggugurkannya a..aku akan ..


"Loren!" Eliana berteriak saat mendengar ucapan Loren.


"bukannya kau tidak setuju?"


"Aku takut kalau kau akan meninggalkan ku jika suatu saat nanti aku mengandung, aku takut menghadapi masa depan yang tidak pasti, aku hanya butuh diyakinkan bukan dibuat semakin ragu!! apa kau tidak tau bagaimana membujuk seorang perempuan!? dasar kau ini, mengesalkan sekali!!" omel Eliana .


Loren bagai anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya. Pria itu malah tertegun mendengar ocehan Eliana.


"Maaf, aku salah," ucap Loren yang langsung ciut nyalinya di depan Eliana.


"Kau tidak ada romantis nya ya?" ejek Eliana.


"Eh... I..itu, seperti nya waktunya belum tepat," jawab Loren seraya menggaruk garuk kepalanya.


"Anak ini benar benar jadi gila, dia selemah itu hanya menghadapi seorang perempuan? wahh padahal aku habis dimaki dan ditonjok, dasar pilih kasih!!!" kesal Xavier yang mengintip Loren dari luar pintu kamar Eliana.


"Kau sama saja dengan psikopat itu," ejek Damian .


"Diam curut!"


.


.


.


like, vote dan komen 🤗