
Eliana berbaring di atas branker pasien. Sedangkan dokter Mina sedang mengoleskan gel dingin ke perut rata Eliana yang sudah mulai berubah bentuk. ini adalah kegiatan rutin yang mereka lakukan setiap sekali dua minggu untuk mengetahui perkembangan janin yang sedang berada di dalam kandungan Eliana yang usianya hampir menginjak usia 3 bulan.
Dokter Mina menggerakkan alat USG dan tampaklah gambar rahim Eliana di layar monitor. Pak Yanto dan Loren tampak antusias berdiri di dekat Eliana sambil memperhatikan semua kegiatan yang sedang mereka lakukan. Keduanya tampak sangat senang setiap kali melakukan pemeriksaan, bahkan sepanjang jalan setelah pulang mereka pasti akan membahas tentang hal itu.
"Wahhh kacangnya udah jadi buah apel!!" celetuk Pak Yanto dengan antusias menunjuk gambar janin Eliana di layar monitor.
"Sayang baby Bean makin besar sayang, keren banget, wahh aku gak sabar, semoga waktu cepat berlalu!!" ucap Loren sambil mengusap lembut Surai istrinya.
"Iya sayang, aku juga senang, lebih senang lagi Karena kamu udah gak sakit, ini udah bulan kedua kamu gak kambuh, kamu sadar gak? aku gak ingatin kamu loh," ucap Eliana sambil menggenggam tangan suaminya dengan erat.
"eh...iya, udah sudah dua bulan, ini benar-benar ajaib," ucap Loren.
"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Pak Yanto dengan antusias, dia terlihat bersemangat menyambut cucu dari putri bungsunya itu.
"Kondisi janin dan ibunya sangat baik dan sehat, semoga sampai akhir tetap seperti ini tuan, nyonya," ucap dokter Mina sambil tersenyum lembut.
Eliana dan Loren sangat bahagia. Terutama Eliana karena di masa kehamilannya ini, Loren dan ayahnya sangat menjaga kondisi Eliana. Bahkan keluarga Park juga sampai sering berkunjung ke rumah mereka hanya untuk memastikan Eliana nyaman dan semua kebutuhannya terpenuhi. Tentu bukan hanya memperhatikan jabang bayinya tetapi mereka juga memperhatikan kebutuhan Eliana secara keseluruhan.
Setelah menerima beberapa konsultasi, Loren, Eliana dan Pak Yanto keluar dar ruangan dokter dan disambut oleh Xavier dan pria yang sama sama gila itu.
"Kita diawasi!" bisik Xavier seraya melirik salah satu pengawal dengan anting anting hitam. Eliana dan Pak Yanto juga mendengar hal itu. Tangan Loren dengan posesif menggenggam tangan istrinya seolah dia takut kalau Eli akan pergi.
"Apa perang yang dimaksud oleh Loren telah dimulai? hmm... aku harus menjaga bayiku dan sebisa mungkin Loren tak boleh sampai stress dan terpukul, dia baru saja pulih," batin Eliana.
Pak Yanto sendiri menggenggam tangan putrinya dari sisi yang lain. Dia menatap Loren yang terlihat takut dan panik karena ada keluarga yang harus dia Lindungi dan kini menjadi titik kelemahannya.
"Loren tenang dan fokus seperti yang selalu ayah ajarkan, kau bisa, kau pasti bisa menjaga istri dan calon anak kalian, ingat kami selalu ada bersama mu, kami percaya padamu," ucap Pak Yanto.
"Tenang sayang, kita lakukan sebagai mana biasanya saja, tak perlu menunjukkan gerakan berlebihan, jika ketemu si bodoh itu akan ku putar kepalanya dengan tanganku sendiri!!!" celetuk Eliana.
Loren menggenggam erat tangan istrinya. Xavier dan Damian memulai aksi mereka. Setelah memastikan Loren, Eliana dan Pak Yanto keluar, Xavier menarik pria yang tampak mencurigakan yang sejak tadi menatap mereka sambil bergumam-gumam.
“ Kemari kau bajingan penghianat!” Xavier langsung menarik kepala pria itu bahakan smapai membuat beberapa anak buah mereka panik.
“ tuan apa yang..
“ Diam... siapa pun yang berkhianat akan kupenggal kepalanya, jangan ada yang bergerak dan tetap di tempat kalian!" Damian menodongkan pistol ke arah kepala mereka sambil menatap orang-orang itu dengan tatapan tajam dan menusuk.
“ Sialan!"sekitar tiga pengawal tampak gugup. Mereka tak bisa melaporkan situasi.
“ Hei kalian tahan tiga manusia pengkhianat itu.” Titah Damian sambil menunjuk tiga manusia yang mereka ketahui sebagai pengkhianat.
“ Tuan... bukan saya.. ma...maafkan saya... saya hanya di perintahkan... maafkan sayaa....” salah satu pria itu langsung mengaku karena ketakutan dengan risiko yang akan mereka terima.
“ Bodoh... sebanyak apa nyawamu sampai kau berkhianat bajingan..” Damian berteriak dengan penuh kemarahan bahkan sampai membuat beberapa orang di rumah sakit itu ketakutan karena suaranya yang begitu tajam.
“ Damian pelankan suaramu, disini banyak pasien, kalau ingin menyelesaikan semuanya bawa mereka ke markas,” Dokter Mina keluar dari dalam ruangannya dengan penampilan yang berbeda. Gadis itu adalah bagian dari komplotan Loren.
“ Baiklah,” Xavier dan Mina langsung beranjak dari sana menyusul Loren, Eliana dan Pak Yanto yang dikawal oleh anak buah menuju mobil mereka.
Sementara itu di sekeliling Rumah sakit itu, komplotan musuh Loren sudah mengepung mereka di berbagai sisi. Josh Kiriye menatap mereka dengan tatapan kemenangan karena dia akan berhasiil membuat Loren ketakutan.
“ aku mendapatkan titik kelemahanmu Loren, aku akan mengahncurkanmu sampai berkeping-keping bajingan sialan...” umpat pria itu yang adalah saudara Loren yang menaruh dendam pada Loren karena kematian kedua orangtuanya.
“ Josh, sebaiknya kita culik saja perempuan itu, dengan demikian kita bisa membuat dia ketakutan setengah mati saat melihat istrinya dalam bahaya, untuk pria tua itu bunuh saja, karena dia tak berguna,” ucap seorang pria dengan rambut yang sudah memutih dan kulitnya yang mulai keriput . Jika dilihat dia berada di usia lima puluhan dia biasa disapa tuan Harry.
“ Kurasa ide paman bagus, kita akan memancing pria pembunuh itu dan menggunakan wanitanya sebagai umpan, akan menyenangkan melihat dia ketakutan dan panik saat wanitanya dibawa hahahhaha... serangan kali ini sebagai peringatan... kita lihat bagaimana orang gila itu akan bertahan...” Josh tertawa terbahak bahak.
Tuan Harry menatap Josh dengan senyuman licik, “ saling menyeranglah kalian hahahha... maka setelah ini aku akan menguasai Kiriye dan kalian akan hancur seperti kedua orang tua kalian, dan perempuan itu, dia sedang mengandung penerus Kiriye, aku tak akan membiarkan dis selamat,” batin pria itu dengan segala rencana licik yang sudah dia susun sebaik mungkin iuntuk merenbut tahkta dan kekayaan kiriye.
Josh mengawasi mereka melalui kamera pengintai dengan jelas dia melihat wajah Eliana yangsangat cantik dan aura yang semakin terpancar di masa kehamilannya. Pria itu mengepalkan kedua tangannya sambil mengeraskan rahangnya," seharusnya dia milikku bukan milikmu, harusnya aku yang disana bajingan..." geram Josh.
Tuan Harry menatap reaksi Josh saat melihat Eliana," ah... jadi mereka berdua menyukai wanita yang sama? hahhaha akan menyenangkan mempermainkan mereka dengan wanita itu, dia juga cantik dan tubuhnya hahhaa... akan kugunakan , akan kunikmati ..." batin Tuan Harry.
Sementara itu Loren kelihatan tetap tenang meski hatinya panik saat ini, dia mengemudikan mobbilnya dan membawa istrinya. dia bisa melihat puluhan anak buah saudaranya mengepung mereka disana. Namun Loren tidak selemah itu, dia tiak akan membiarkan keluarganya terluka.
" Sayang, Ayah tolong berpegangan, Mina kau jaga Eliana, aku mungkin akan mengemudi dengan kecepatan tinggi," ucap Loren.
" Baik.." jawab mereka.
Loren mengemudikan mobilnya di saat yang sama beberapa motor menyerang mereka dan menghadang jalan mereka belum lagi orang orang itu menodongkan pistol dan senjata tajam.
Adu kecepatan dan balapan tak terelakkan, Loren mengeraskan rahanganya, jika dia sendirian mungkin dia akan menghdapi mereka satu persatu tapi masalahnya ada keluarga yang harus dia lindungi disini.
" Xavier... kerahkan semua anak buah.." titah Loren dari earphone nya.
" baik.."
Seluruh anak buah Loren dikerahkan baik dari jalur darat maupun udara. semua anak buah Josh diserang secara membabi buta dan mobil yang dikendarai Loren berhasil Lolos dari sergapan orang-orang itu.
Namun dari sisi lain, Mobil Josh dan pamannya menyerang mereka.
" hahahhah Loren kau ingat aku saudaraku yang baik!!??" teriak Josh dari dalam mobil.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗