
Loren, Eliana dan rombongan mereka telah tiba di Indonesia sejak pagi tadi setelah dua Minggu menghabiskan waktu bersama di London. Pak Yanto pulang dengan wajah bangga seolah dia baru saja mendapatkan harta Karun.
Dengan senyum sumringah dia pulang dengan membawa barang barang yang dia beli di London, barang barang unik dan langka yang diberikan oleh menantunya padanya.
"Wahh pakaian ini benar benar cocok dengan ku hahaha... " celetuk Pak Yanto dengan senyuman bahagia.
Eliana dan Loren menatap pria itu sambil tersenyum. Penampilan Loren tak lagi sama, dia telah mencukur habis janggut dan kumisnya yang panjang itu, rambutnya dipangkas dan kini wajah nya terlihat sangat menawan. Rahang tegas, bibir ranum, hidung mancung, mata besar dan alis tebal membuat ketampanan pria itu menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.
"Ayah hati hati jalannya licin, disini musim hujan, nanti jatuh!" tegur Eliana seraya mengejar ayahnya yang berjalan dengan gembira memasuki rumah mereka.
Beruntung mereka pulang saat hujan masih menyirami bumi Cikande, sehingga para tetangga tukang gosip tak melihat kedatangan mereka.
"Iya iya, ayah hati hati kok!" ucap pria itu.
Loren tersenyum geli melihat tingkah kedua manusia itu, dia mengeluarkan barang barang mereka dari dalam mobil, dibantu oleh anak buah Loren juga Dominique yngikut serta ke rumah Pak Yanto.
"Sini kubantu!" ucap Eliana dengan penuh semangat, padahal saat di dalam mobil tadi dia malah muntah muntah dan tak bisa bergerak, tetapi setelah keluar dia malah terlihat sangat senang. Belum lagi baju hujan yang dipakainya kebesaran membuat kelihatan imut.
"Apa kau tidak pusing lagi?" tanya Loren.
"Tidak, aku baik baik saja, biar kubawa ya," ucap gadis itu sambil mengangkat beberapa tas milik mereka.
"Pelan pelan, jalanannya licin,," ucap Loren yang dijawab hanya dengan anggukan kepala oleh Eliana.
setelah keduanya masuk, Loren berdiri di depan rumah itu dan menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Apa kau merasakannya!?" bisik Dominique.
"Kau juga sadar rupanya," ucap Loren .
Pria itu melirik ke sudah rumah, dia melihat ada kamera tersembunyi yang dipasang di bawah atap rumah bukan hanya di satu titik tapi seluruh sisi peternakan itu telah dipasang dengan kamera pengintai.
Mata elang kedua pria itu berhasil menemukan letak kamera dengan cepat.
"Mungkin yang kelihatan itu hanya jebakan Loren, kita sisir area dalam rumah," ucap Dominique..
"Baiklah,"
"Loren, Nak Loren tolong, Eliana pingsan!!!" Teriak Pak Yanto yang terdengar begitu panik di dalam rumah itu. Dia berlari kocar kacir ke luar dengan wajah panik.
Mendengar hal itu membuat Loren dan Dominique langsung berlari menghampiri mereka.
"Eliana!" Loren masuk ke ruang tamu dan melihat istrinya terkapar di atas lantai, padahal tadi gadis itu tersenyum begitu ceria dan sekarang dia malah terkulai lemah di atas lantai dengan wajah panik.
Pria itu menghampiri istrinya dan langsung mengangkat tubuh istrinya," El bangun el, hei... ayo bangun!!" panggil Loren, dia terlihat khawatir dengan kondisi istrinya.
"Dominique cepat bantu aku, periksa dia!!" titah Loren yang langsung mengangkat Eliana dan membawanya ke dalam kamar gadis itu dengan cepat.
Eliana di letakkan di atas ranjang, Loren dengan cepat mengganti pakaian Eliana sebelum Dominique memeriksa kondisi gadis itu. Pakaiannya sedikit basah, tetapi tubuh Eliana terasa dingin.
"Periksa dia Dominique, cepat!" titah pria itu.
Baru kali ini Loren terlihat begitu panik dan takut, dia terus mengawasi Dominique di kal pria itu mengecek kondisi Eliana.
"Ada yang aneh," gumam Dominique sambil menekan titik pembuluh darah perempuan itu.
"Aku akan memanggil temanku, dia ada di sekitar sini," ucap Dominique yang merasa ada yang aneh dengan Eliana.
"Ada apa? apa kondisinya mengkhawatirkan? apa sebaiknya kita ke rumah sakit?" tanya Loren.
"Hujan deras, jalanan licin, kita tak bisa ke rumah sakit," ucap pak Yanto sambil menunjuk ke luar.
"Aku hanya tidak yakin karena ini bukan bidangku, kurasa Eliana sedang mengandung, ini sebabnya dia muntah muntah sejak di London, perubahan emosinya juga sangat drastis, apa aku benar?" tanya Dominique.
"Ha..Hamil!?" Loren dan Pak Yanto melongo mendengar ucapan Dominique, secepat itu kah? padahal mereka baru menikah sekitar 3 Minggu.
"Ya, lebih cepat dari dugaan, " ucap Dominique.
"Kau... tidak main main kan Dominique!? ka..kau tidak bercanda kan?" Loren menatap Dominique dengan tatapan tajam penuh curiga.
"Ku harap benar!" seru pak Yanto dengan semangat, seperti nya dia juga sangat menantikan momen menjadi seorang kakek gaul yang disukai oleh cucu cucunya, karena cucu dari putra sendiri tak pernah berkunjung ke rumah itu.
Loren menatap Yanto yang sangat bersemangat, sedang Loren hanya diam mencerna semua ini. Dia tak menyangka jika memang Eliana telah mengandung, maka Loren akan menjadi seorang ayah. Pria itu terdiam, tak tau harus merespon seperti apa. matanya terus tertuju pada Eliana yang masih terlelap.
Beberapa saat kemudian dokter wanita yang dimaksud oleh Dominique tiba bersama anak buah yang diperintahkan untuk menjemput dokter itu.
"Dominique apa kau tidak berpikir hah? ini hujan lebat dan aku ditarik paksa dari dalam klinik, apa yang kau perintahkan pada mereka dasar pria berengsek!!!" oceh gadis itu seraya mengibaskan pakaian nyang basah terkena hujan sambil terus mendumel tanpa melihat ada Pak Yanto dan si Budi yang juga baru datang.
"Dominique, kau dengar tidak hah!? kau membuatku kehujanan, dasar pria... I..ni!??" Dokter yang biasa disapa Dokter Mina itu terkejut saat melihat Kedua pria itu disana sambil menatapnya dengan tatapan heran.
"Sudah selesai bicara nya Mak lampir!? dasar bodoh, cepat masuk dan periksa keadaan orang di dalam kamar itu! kau bawa perlengkapanmu kan!?" Tanpa basa basi Dominique menarik lengan gadis itu dan membawanya ke dalam kamar dimana Elia a terlelap dengan Loren yang mendampinginya.
"Si Mak Lampir sudah datang, biarkan dia memeriksa kondisi istrimu, meski wajahnya jelek, dia ini cukup berbakat," ucap Dominique.
"CK.. mau ngajak gelud kampret, dasar dokter gila!" umpat Mina dengan wajah benar benar kesal.
"Apa kalian datang kesini hanya untuk berdebat!?' Loren menatap titisan tom and Jerry itu dengan wajah kesal.
"Eh....ma
"maaf pak bos," ucap mereka berdua sambil tersenyum canggung.
Dokter Mina langsung memeriksa Eliana dan kondisi tubuh perempuan itu saat ini. Dia memberikan beberapa suntikan dan memasang infus vitamin ke tubuh Eliana. Tentu saja semua perlengkapan itu sudah dibawa oleh anak buah yang diperintahkan oleh Dominique.
Dokter Mina tersenyum saat mengetahui kondisi Eliana, seorang dokter bagian OBgyn tentu paham dengan kondisi Eliana hanya dengan mengecek tubuh perempuan itu.
"Ada apa dengannya? kau hanya senyum senyum seperti orang gila sampai gigimu kering, katakan dengan jelas nona dokter!" cerocos pak Yanto yang sudah tak sabar.
"Ayah tenanglah," pinta Loren.
"CK.. ayah penasaran, habisnya dokter ini sedikit sinting!" celetuk Pak Yanto.
"Bwahahahahha..... aku setuju Pak, sangat setuju!" Seru Dominique yang tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan Pak Yanto.
"Kau juga sama," balas Pak Yanto yang sontak membuat Dominique terdiam dan Mina malah terkikik geli.
"Jelaskan," kali Loren yang angkat bicara hingga mereka terdiam dengan tenang.
"Begini tuan, sebelum nya saya mengucapkan selamat atas kehamilan istri anda, Nona sedang mengandung, ini sebabnya dia sampai mual dan muntah bahak pingsan karena tubuhnya mengalami perubahan mendadak," jelas Mina.
"Bagaimana kau tau? bukankah harus di test atau USG dahulu?" tanya Loren.
"Eh... emm saya ini Obgyn Tuan, tentu saya paham, kalian boleh melakukan test nanti, pakai Plano test saja dahulu setelah itu datang ke klinik saya atau rumah sakit untuk mengecek keadaan si janin, saya sangat yakin kalau nona sedang mengandung!" tegas Mina.
"Hmm... baiklah," Loren mengangguk paham tetapi matanya terus menatap ke arah Eliana, sepertinya dia sedang memikirkan hal yang sangat berat saat ini.
"Waahh aku akan jadi kakek lagi, ini luar biasa!!" Celetuk Pak Yanto.
"Sebaiknya kita keluar, biarkan Loren dan istrinya untuk sementara,"Ajak Dominique sambil menarik kerah baju Mina dari ruangan itu.
"kyaaakkk Dominique penculik!!!"
Sementara mereka di luar, Loren terlihat duduk di dekat Eliana dan menatap gadis itu dengan tatapan sendu.
"Apa aku berhak memiliki kalian? bagaimana kalau kehadiran dan identitas ku membuat kalian berdua menderita, aku belum siap untuk ini," ucap Loren sambil menggenggam tangan Eliana, pikiran dan hatinya kacau.
Begitu banyak risiko yang akan menimpa Eliana dan janinnya, ini terlalu cepat baginya.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗