Hidden Mafia

Hidden Mafia
29. Melihat Loren



Eliana terkejut mendengar suara berat dan terkesan seperti suara bass itu. Dia menoleh dan mendapati seorang pria tinggi dengan rambut ash blonde(abu abu) dan kacamata bertengger di wajah tampannya yang berkharisma datang dari lantai dua sambil melemparkan tatapan mengintimidasi ke arahnya.


Tatapan dingin dan tajam yang tak kalah dengan tatapan Loren yang sering Eliana lihat selama ini.


"Siapa pria ini? kenapa menatapku seperti itu?" batin Eliana penasaran.


Xavier berjalan dengan tatapan tajam diikuti oleh Damian yang berjalan sambil melirik lirik ekspresi Xavier saat ini. Jelas sekali kalau kata katanya di dalam menara pengawas tadi sangat berbeda dengan cara dia menatap Eliana saat ini.


Xavier terlihat seperti seekor singa yang siap untuk memangsa Elina yang hanya seekor kelinci kecil yang terkena jebakan .


"Cihh dasar munafik, preman pasar, kau bilang jangan menilai seseorang terlalu cepat nyatanya kau yang lebih dulu, bodoh!" gumam Damian.


Mereka berdua berjalan bersama, kharisma kedua orang itu semua berhasil membuat siapa pun terkesima dengan paras tampan mereka.


Elina berdiri, dia tampak gugup dan takut kala melihat kedua pria itu berjalan ke arahnya. Gadis itu memilih roknya, dia merasa kalah dia benar benar telah salah masuk rumah.


"Sial, sepertinya ku benar benar salah, tapi dia menyebutkan nama Loren," pikir gadis itu lagi.


Kratak.... Klotangg.... Praanggg.....


Saat kedua pria itu masih berjalan, seketika suasana di dalam ruangan itu menjadi biru kala mendengar suara pecahan kaca dan benda benda yang berjatuhan dari lantai dua. Suara teriakan seperti teriakan monster terdengar menggema di seluruh ruangan itu.


Eliana tersentak kaget saat mendengar hal itu, tapi dia merasa tak asing dengan suara suara itu.


"Suara ini!?" pikir Eliana sambil menatap rumah itu.


Xavier dan Damian saling menoleh kala minat Eliana terdiam sambil mendengarkan suara suara aneh itu.


"Itu adalah pria yang kau cari nona, dia sedang mengantuk!" ucap Xavier dengan nada super dingin dan tatapan datar, seolah menunjukkan kalau dia tidak menyukai kehadiran Eliana.


"CK... pria ini memang sok cool, padahal aku tadi sudah bilang kalau aku mencurigainya, dia malah menikung peranku, " gerutu Damian yang malah mempermasalahkan hal hal tak berguna.


"A..Apa maksud anda!?" mata Eliana membulat sempurna saat Xavier mengatakan hal itu. Dia tak percaya dengan kata kata Pria berkacamata itu.


"Bukannya nona sudah tau kondisi Loren? dan anda memilih melarikan diri sampai Loren menjadi separah ini? ada harus tau letak kesalahan anda!" ucap Xavier sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa dan memberikan tatapan tajam pada Eli.


"A..aku...


Elia terdengar gugup, dia masih mendengar suara-suara itu tapi tak yakin kalau memang benar itu Loren.


"Dia susah seperti itu sejak tiba di mansion ini, semua karena penyakitnya semakin parah, kami tak bisa memberikan obat penenang pada nya, mendekat saja kami bisa dibunuhnya!" jelas Damian seraya mengupas jeruk yang diletakkan di atas meja.


"Jadi ... I..itu Loren!??" ucap Eliana tak percaya.


Kedua pria itu hanya mengangguk," Ya, kalau sudah tau pergilah, kau tak dibutuhkan disini, kau hanya hama pengganggu yang merusak semua pengobatan kami!" kesal Xavier.


"Kau tak perlu melihatnya, hanya karena Rena membohongi mu dan menghasutmu datang kesini tak berarti aku juga ikut dalam rencana itu!" tegas Xavier. Pria itu benar benar gil dan sangat dingin.


Eliana terkejut bukan main, dia benar benar syok saat tau kalau Rena menipunya. Namun dia ingat tujuan utama nya datang kesana, menemukan Loren pria yang dia butuhkan.


"Tapi aku ingin menemuinya!" balas Eliana sambil menatap Xavier dengan tatapan tak kalah tegas.


"uhuk...uhuk.... A.. apa apaan itu!!!" Damian sampai tersedak makanannya sendiri saat melihat wajah serius Eliana saat menatap Xavier.


"Tidak boleh jika kau hanya ingin mengasihani nya, kami tidak butuh itu, sekarang pulanglah, sahabatku bukan orang yang suka dikasihani oleh perempuan munafik seperti dirimu!" tegas Xavier. Mulut pria itu memang benar benar membuat siapa pun geram dengan kata-katanya.


"Aku tetap akan melihatnya, aku jauh jauh ke London hanya untuk menemukan...." Eliana berhenti sebentar sambil mengatur rasa sesak di dada ya, di ingin menangis saat ini.


"Hanya untuk menemukan keberadaan Loren yang kupikir sudah meninggal dunia karena aku!!!!" pekik gadis itu yang tak bisa lagi tahan dengan rasa sesak dan rasa bersalah di dadanya.


"Hiks hiks hiks.... Bi..biarkan aku melihatnya... aku ... merindukannya...." Eliana menangis begitu sedih di depan kedua orang itu.


"Apa kau yakin akan tahan melihatnya sekarang?" tanya Damian seraya mengangkat sebelas alisnya, memastikan kesiapan Eliana.


Eliana hanya diam, dia mengepalkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa takut dan keraguannya. Siapa yang tidak gugup saat bertemu dengan pasien ODGJ yang sedang kumat, belum lagi kondisi dan lingkungannya tidak biasa untuk Eliana.


"Aku akan menemuinya," balas gadis itu dengan yakin.


"Lantai dua kamar paling pojok, pergi saja sendiri!" ucap Xavier dengan nada ketus.


"Xavier, itu berbahaya!" ucap Damian yang tidak setuju dengan ucapan Xavier, pasalnya Loren sedang kumat saat ini dan Eliana bisa terbunuh.


"Kalau kau takut pulang saja, tak ada gunanya kau disini dan...


"Aku akan menemuinya!" potong Eliana yang sudah melangkahkan kakinya menuju lantai dua, sumber suara barang barang pecah itu berasal.


Damian menarik tangan Xavier, pria itu tampak khawatir dengan kondisi saat ini, dia takut Eliana akan terluka jika menemui Loren dalam keadaan seperti ini.


"Kita temani dia, Loren berbahaya saat mengamuk,.kau tau sendiri !!" ucap Damian.


"Tenanglah Damian, aku ingin melihat reaksinya terhadap Eliana. Kau tau kan, sebelumnya kita hanya menunjukkan foto gadis itu dia terdiam sekian menit lalu kumat lagi, jika melihat Eliana langsung mungkin akan ada hak yang berubah," ucap Xavier yang memilih menjadikan Eliana sebagai bahan percobaan untuk mengetahui perkembangan penyakit Loren.


"Aku tidak paham, apa menurutmu Eliana adalah obat Loren? dia menggila Xav!!" kesal Damian.


"tenang dan lihat saja dulu, kalau terjadi apa apa langsung suntik saja dia," ucap Xavier sambil mengangkat jarum suntik di tangannya.


Damian tak habis pikir dengan cara ekstrim pria di depannya itu,"Dasar psikopat sinting, kau pikir nyawa orang permainan, kalau sampai dia kenapa kenapa akan kuadukan kau pada kakek Aiden!!" kesal Damian.


"Dasar Lemah, nenek Luna pasti menyesal memiliki cucu sebodoh dirimu, belajarlah Damian jangan terlalu naif," ejek Xavier.


"Kau yang naif sampai sampai ditinggal nikah sama pacar sendiri!!" balas Damian.


"Damian kenapa kau bawa bawa masalah itu kampret!!!" teriak Xavier.


Damian menjulur lidahnya, dia berlari dari sana menyusul Eliana,"wleekkk.... kau tak akan pernah menang, dasar pria kaku, kak Emily pasti akan tertawa habis habisan kalau tau kau ditinggal pacarmu hahahahha... padahal kau sangat membanggakan kekasih mu yang tidak jelas itu, pria sinting!!!"


"Awas kau Damian, sampai kau dekat dengan perempuan akan kurebut dia darimu!!!" teriak Xavier.


"Cihh... coba saja kalau bisa!!!" balas Damian .


.


.


like, vote dan komen 🤗