
Loren dan rombongannya kini tiba di rumah utama keluarga Park yang sudah berdiri bertahun tahun dan mengalami banyak perubahan yang disesuaikan sesuai dengan kebutuhan keluarga. Dengan penuh perhatian, Loren menggandeng tangan istrinya berjalan menuju rumah itu dengan Dokter Mona dan Pak yanto di belakang mengikuti mereka.
“ nenek Luna, Kakek Gama, Loren pulang…” panggil pria itu saat dia masih berada di depan rumah.
Setelah dia meneriakkan kata-kata itu terdengar suara gemuruh dari dalam rumah. Langkah kaki beberapa orang yang terdengar bergermuruh membuat merke ayng tiba disana terkjut . Rasanya seperti sedang terjadi gempa lokal di rumah itu.
"Sayang ini rumah siapa?" tanya Eliana penasaran.
"Orang penting yang harus kamu kenal sayang, ini rumah orangtua Paman Otniel, orangtuanya Ren dan Dominique," jelas Loren yang dibalas anggukan kepala oleh Eliana.
Pintu besar rumah itu dibuka dengan kasar, tampaklah seorang nenek dengan tubuh kecil dan rambut kebiruan yang kini bercampur uban berdiri bersama seornag kakek tua dengan rambut yang sudah memutih keseluruhan. Meski sudah menginjak usai 90 tahun, kedua orangtua yang begitu dicintai anak anak dan cucu mereka ini terlihat masih bugar dan penuh dengan semangat meski sahabat sahabat mereka yang lain sudah menemui pencipta mereka terlebih dahulu.
“ Loren… cucu Nenek kamu pulang sayaaangg…..” teriak Nyonya besar Park sambil tersenyum bahagia menatap kedatangan Loren dan keluarga barunya.
Luna yang sudah tua dan renta berjalan dengan penuh semangat sambil menangis penuh haru saat melihat Loren yang dia rawat saat pria itu masih berusia remaja. Dia datang ke rumah kaluarga Park disaat usianya begitu muda dengan membawa banyak trauma. Sejak saat itu pasangan tua Park begitu menyayangi Loren yang menurut mereka kehilangan begitu banyak kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan selama masa kecilnya.
“ sayang hati hati, nanti kakimu bisa lepas, dan kau akan mengomel lagi seperti biasa, jangan ceorboh , sudah kubilang untuk mengganti kaki palsumu tapi kau ngeyel mau pakai yang lama, dasar nenek nenek kolot,” gerutu suaminya sang tuan Besar Park yang berjalan sambil menatap kaki istrinya.
Luna berbalik dan menatap suaminya,” diam kau kakek tua kolot kayak kura kura ninja, jangan mengkritik kakiku dasar kakek tua jelek, kau membuatku malu di depan cucuku…” balas Luna dengan wajah kesal.
“ kapan lagi bisa mengejek nyonya besar Park ini hahahhaha….” Gama terkekeh menatap istrinya yang selau berhasil dia buat kesal. Hubungan mereka berdua memang selalu saja romantis bahkan mengalahan keromantisan anak anak mereka.
“ Dasar kakek kakak kolot,” ejek Luna.
Loren menatap kedua orang tua yang sudah renta itu dengan mata berkaca-kaca, dia ingat dengan jelas bagaimana kedua kakek nenek itu begitu menyayangi dan menerimanya saat pertama kali Dominique membawanya ke rumah besar itu.
“ Mom, Dad, tolong jangan berdebat disini, kalian tidak malu pada besan kami? Dan cucu menantu kalian apa kalian tidak malu?'’ tegur Otniel.
“ Eh.. heheheh… ya maaf,” ucap mereka berdua sambil tertawa.
“ kakek nenek, Loren rindu kalian…” ucap Pria itu dengan mata berkaca-kaca, dia memeluk keduanya dengan sangat erat. Luna dan Gama tersenyum bahagia, mereka membalas pelukan Loren, cucu yang mereka katakan sebagi cucu mereka yang kabur dari rumah karena tidak tahan dengan tingkah mereka.
“ Lain kali jangan kabur lagi ya, kalau nggak nenek bakalan suruh kamu menyikat gigi palsu kakekmu, kau tau kan rasanya bagaimana?” celetuk Luna.
“ hushhh jangan mengada ada,gigi palsumu yang lebih bau dasar nenek nenek tukang fitnah, jangan dengarkan dia Loren, kau harus tetap disini supaya rumah lebih berwarna karena di rumah ini hanya ada orang orang yang gila kerja, sangat membosankan, bahkan cucuku kembarku yang nakal ini saja jarang mengunjungi kami,” ucap Gama sambil melirik Si kembar Park Dominique dan Rena Park yang melangkah pelan pelan hendak kabur dari hadapan mereka.
“ ehh…heheheh… kita kan kerja kakek, jadi gak sempat heheheh….. ini nih kak Dominique yang gak mau pulang katanya lebih penting kerja daripada kakek dan nenek,” Rena mendorong kakak kembarnya ke depan.
“ loh kok aku,bukan loh Granfa , Granma, Rena nih gara gara nonton konser K-Pop jadi gak mau datang kesini katanya lebih seru nonton dari pada nemenin kakek nenek main catur,” celetuk Dominique.
“ Ihh nggak loh kakek, kak Dominique tuh suka banget ke kelab jadinya susah diajaknya,” tambah Rena.
“ Oh…. Jadi gini ya kelakuan dua anak manusia gak tau terimkasih, masih ke kelab dan dugem ya? Ohhh berani kalian sama Mommy ya? kalian berani melawan Mommy ya? Kemari kalian berdua dasar anak anak nakal….” Pekik Chelsea samba menarik telinga kedu anakanya dan menyeret mereka ke dalam rumah.
“ arhhkkhhh ampun Mom… ampuuuunnnn…” kedua anak itu dihukum oleh Chelsea. Mereka semua tergelak melihat kelakuan absurd keluarga Park ini. Sungguh hal yang menyenangkan untuk dilihat.
“ Haihhh dsar anak anak ini…” ucap Luna sambil geleng geleng kepala.
“Kakek, Nenek, perkenalkan istri Loren, Eliana, dan ini Ayah mertua loren, Pak yanto,” ucap Loren memperkenalkan istri dan mertuanya pada pasangan tua itu.
Luna dan Gama yang baru pertama kali melihat istri Loren tertegun saat melihat paras wanita itu. Mereka menatap Eliana dan Pak Yanto bergantian sambil tersenyum dan menyambut mereka dengan ramah. Namun jangan ragukan kejelian super jenius Luna yang masih dia miliki bahkan sampai di usianya yang sudah renta ini.
“ Sayang… dia mirip dengan Joy, mirip sekali dengan Joy.. apa ini kebetulan? Bagaimana dia bisa mirip dengan Joy..?” ucap Luna sambil menatap suaminya.
“ apa maksud mama?” Tanya Otniel.
“ nak perhatikan wajahnya baik- baik, Mama saja bisa langsung kenal “ ucap Luna.
“ mirip dari mananya coba Ma, udah deh jangan bilang yang nggak nggak, nanti mereka jadi canggung kan gak enak Ma, “ bisik Otniel.
“ iya iya, nanti kamu coba hubungi Joy dan tanyakan tentang kakaknya , “ bisik luna yang dengan cepat dianggukan oleh Otniel.
“ Sebenarnya Chelsea juga bilang begitu sih pada ku beberapa waktu lalu, ditambah ucapan Mama,” batin pria itu.
Nyonya besar Park dan si tuan besar Park mendekati keluarga baru Loren itu. Mereka menyambut mereka dengan senyuman bahagia.
“ Selamat datang di rumah ini nak , semoga kalian betah , “ ucap Gama yang langsung mengajak bicara pak Yanto yang masih tampak kebingungan di rumah mewah yang sangat besar itu.
“ ahhh tuan... terimakasih..” ucap Pak Yanto sambil tersenyum.
“ Selamat datang sayang, maafkan lah suamimu ini karena baru membawa kamu ke rumah, padahal sudah sejak lama kami ingin bertemu dengan kamu tapi karena banyaknya urusan kami tidak pernah bisa berkunjung belum lagi Otniel dan Chelsea melarang kami untuk keluar tanpa pengawasan, maklum nak sudah tua dan keriput, heheheh...” celetuk Luna sambil menggendeng tangan Eliana.
“ tak apa apa kok nek, Eliana senang bisa mengenal orang orang yang dekat dengan suami Eli, sedang bertemu dengan kalian," ucap Eliana sambil tersenyum manis.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗