
Mereka menyambut kedatangan Loren dan keluarganya dengan begitu baik. Kedatangan Eliana adalah hal baik bagi keluarga besar itu.
Luna sang nyonya Park menggandeng tangan Eliana dengan erat sambil membawa ibu hamil itu berjalan berkeliling di sekitar rumah itu, menunjukkan isi rumah itu pada Eliana, bukan untuk pamer tapi menceritakan kekonyolan dan aib keluarga nya sendiri pada Eliana cucu menantunya.
"Lihat disana di kolam itu suamimu pernah menyelamatkan si kembar yang hampir tenggelam karena masuk ke bagian kolam dengan kedalaman 3 meter. Awalnya kolam itu dibuat untuk latihan paman kembar mereka dan latihan menyelam tapi si kembar yang masih remaja iseng masuk kesana, akhirnya kolam itu diratakan sama si kakek buyut itu dan tersisa kedalaman 1 meter saja, nggak boleh dalam dalam !" ucap Luna sambil menunjuk Kolam berenang.
"Wahhh jadi mereka nakal ya nek?" tanya Cherry.
"he...em... Si Dominique dan Rena itu nakal, sampai kakak laki lakinya terus marah dan mengamuk karena tingkah konyol si kembar itu," jelas Luna dengan menggebu gebu.
"Hahahah.... pasti rumah ini selalu ramai kan nek!?" ucap Eliana yang moodnya begitu baik di masa kehamilannya ini.
Luna mengangguk," Iya sangat ramai, sampai nenek itu pusing ini rumah atau panti asuhan, habisnya anak anak dari semua keluarga terus datang kesini, minta makan, minta ini minta itu ,minta jajan, nenek berasa kayak pengurus panti padahal orangtua mereka orang kaya semua!" celetuk Luna dengan semangat yang selalu on fire .
Eliana terkekeh mendengar penjelasan Luna yang begitu bersemangat, baru kali ini dia bertemu dengan sosok nyonya besar yang begitu kocak dan bersemangat seperti Luna.
Di saat mereka berjalan mengelilingi rumah itu, saat itu juga Chelsea menantu ketiga Luna datang sambil menyeret si kembar dengan menjewer telinga mereka berdua, berjalan menuju halaman depan dengan sapu lidi di masing-masing tangan mereka berdua.
"Ya bagus Chelsea hajar saja si pembuat onar itu, mereka memang pantas mendapatkan hukuman, dasar anak anak tengik, " Celetuk Luna saat melihat Chelsea menyeret si kembar seperti menyeret dua ekor anak kucing yang mencuri dari dalam dapur.
"Baik Ma, siap laksanakan!" celetuk Chelsea dengan nada penuh semangat.
"Nenek tolong!!! Mom melakukan penyiksaan terhadap anak!!!!" pekik si kembar yang kesakitan akibat ulah Mommy mereka sendiri.
"Mommy ampun gak lagi deh ampun mom!!!" teriak mereka berdua sambil berusaha melepaskan diri dari Chelsea.
"Tiada maaf bagi kalian berdua, hukumannya kalian harus membersihkan halaman depan rumah ini selama sebulan ke depan, kalau sampai ada satu kotoran saja maka akan Mom tambahkan sampai tiga bulan!!" tegas Chelsea.
"Huwaaa malu banget di lihat kakak ipar begini, Mommy gak pengertian!!!" pekik Rena seraya meminta bantuan dari Eliana.
Eliana dan Luna terkekeh melihat dua orang dewasa yang masih tetap menjadi anak kecil bagi mommy mereka.
"Badannya saja yang dewasa tapi bagi kami mereka itu tetap si kembar Park yang menggemaskan, pembuat onar dan pengacau" ujar Luna sambil terkekeh.
Eliana tersenyum, dia merasa sangat nyaman di rumah itu. Namun seketika dia teringat dengan musuh yang menyerang mereka tadi. Dia tak bisa berhenti memikirkan hal itu karena dia jelas mengenal pria yang memancing amarah suaminya saat terjadi penyerangan itu.
Setelah lelah berkeliling dan melakukan beragam aktivitas, Akhirnya malam pun tiba. Sesuai dengan pembicaraan Loren dengan sang tuan rumah, untuk beberapa hari mereka akan tinggal di rumah Park demi menjaga keamanan Eliana dan calon buah hati mereka juga kemanan ayah mertua Loren.
Semua orang telah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Hari yang melelahkan dan menegangkan akan diakhiri hari ini.
Namun Eliana tampak risau, dia duduk di depan meja rias sampai terbengong dan tak sadar kalau krim malam wajahnya sudah terjatuh ke lantai. Dia menatap dirinya di cermin dengan tatapan kosong.
pintu kamar dibuka, Loren yang baru saja menemani Pak Yanto, Tuan Besar Park dan Tuan Otniel bermain catur baru kembali setelah diomeli oleh Luna karena bermain sampai larut malam.
"Sayang kau sudah ti....loh!?" Loren terkejut saat melihat Eliana malah duduk bengong di depan cermin.
"Ehh aduh...aku malah bengong, kapan kamu datang?" Eliana tersadar dari lamunannya.
"Barusan, mikirin apa sih Mommy?" tanya Loren seraya menyibakkan rambut Eliana,mengambil krim pijat lalu mulai memijat baju istrinya.
"Sayang aku sepertinya ingat dengan pria yang mengejar kita tadi, dia mirip dengan anak laki laki yang pernah kupeluk saat masih kecil, seingatku kami bertemu di pemakaman saat aku berkunjung ke makam Ibu," jelas Eliana sambil menengadah menatap suaminya.
Tampak jelas di mata Eliana kekhawatiran akan apa yang terjadi pada mereka.
"Pernah melihat!? memeluknya juga!? wahh kau ini....
"hushh jangan mikir yang aneh aneh Daddy, maksud ku bukan begitu, seingatku saat aku masih kecil aku dibawa jiarah ke makam Ibu, Disana aku ketemu dua bocah, satu bocah yang menangis sesenggukan dan dia adalah pria tadi, aku sangat yakin dan satu lagi bocah aneh yang malah membunuh semua kelinci di sekitar makam itu!" ucap Eliana dengan jelas.
Saat mendengar cerita Eliana, Loren terkejut karena apa yang diceritakan gadis itu sedikit banyak mirip dengan memori masa kecilnya.Dia beranjak menuju koper pakaian dimana dia menyimpan barang-barang nya, mengambil sebuah album foto .
"Apa mungkin kami sudah bertemu bahkan di masa kecil!? bagaimana bisa aku tak menyadarinya!" batin Loren seraya melirik Eliana yang bingung dengan apa yang terjadi.
"Sayang coba lihat apa ini bocah yang menangis itu!?" tanya Loren sambil menunjuk foto anak kecil yang sedang memeluk boneka beruang cokelat sambil memakan permen berdiri dengan senyum Sumringah di depan Komidi putar.
Eliana menatap foto itu seraya memicingkan matanya," benar sayang, ini anak itu, kenapa kamu punya fotonya!? apa itu dia!? saudaramu!?" ucap Eliana.
Loren mengangguk ," ya pria yang ada di foto ini dan yang menyerang kita tadi adalah orang yang sama El dia adikku," ucap Loren sambil menatap foto itu dengan tatapan sedih.
Eliana paham dengan tatapan sendu di mata Loren, wanita itu menatap album foto itu lagi," Apa boleh kulihat lihat!?" tanya Eliana.
"Tentu," ucap Loren yang melanjutkan pijatannya di bahu Eliana.
Wanita itu membuka lembar demi lembar, matanya tertuju ada foto bocah kecil lainnya," siapa sayang?" tanya Eliana sambil menunjuk foto anak lelaki dengan wajah murung dan masam, dengan sebuah pengikat di lehernya yang menunjukkan status nya seperti seekor anjing.
"Kenapa pakai kalung anjing? apa disengaja untuk foto ya?" tanya Eliana.
"Itu aku El, itu aku saat baru ditemukan Luntang lantang di jalanan," jelas Loren .
Brukk...
"Eh ada apa El!!?" Loren panik saat melihat apa yang terjadi pada Eliana.
.
.
.
like, vote dan komen