
Loren terdiam membatu saat Eliana pingsan di atas tubuh nya setelah mengecup bibirnya dua kali. Tubuhnya bagai membeku saat pertama kali diperlakukan demikian oleh seorang gadis. Meski dia seorang mafia, dia bukan tipe laki- laki pemain wanita yang gonta-ganti pasangan hanya untuk kepuasan pribadinya.
jika dihitung, Loren hanya pernah bertemu dengan beberapa perempuan itu pun hanya sekedar partner kerja tak lebih. Meski perempuan perempuan itu menganggap kalau Loren menyukai mereka.
"Hahahaha... Aku tak menyangka kalau Eli akan begini jika sedang mabuk bwahahahahhaha benar benar konyol hahahhahaha...." Rena malah tertawa cekikikan melihat kejadian itu.
Loren menghela nafas berat, itu ciuman pertamanya dan direbut oleh seorang gadis yang sedang mabuk. Sungguh luar biasa memang gadis pendiam yang jadi liar ketika mabuk itu.
"Kalau begini, dia tidak boleh minum bersama pria lain, bisa bahaya," pikir Loren..
"CK.. Rena pulanglah, aku akan membawanya ke rumah, Ayahnya pasti khawatir, dimana ponselnya?" tanya Loren seraya memperbaiki posisi Eliana yang tidur sesuka hatinya di atas dada bidang pria itu.
"Ahh baiklah, tapi kalian naik apa kesana? jauh loh, bus terakhir sudah lewat, " ucap Rena sambil memberikan ponsel Eliana pada Loren.
Loren menerima ponsel itu dan membaca beberapa panggilan telepon dari Pak Yanto. Di saat yang bersamaan, panggilan pak Yanto masuk lagi.
"Kami akan naik mobil," jawab Loren singkat sambil mengangkat panggilan Pak Yanto.
"Elina kamu dimana nak, kenapa tidak angkat panggilan ayah sejak tadi!?? jam berapa kamu pulang? sama siapa? kenapa lama? Sekarang lagi dimana? kamu tau kan kalah bus terakhir sudah lewat!??? " cerocos Pak Yanto dari seberang sana dengan nada suara benar benar khawatir.
"Halo Pak, ini saya Loren, Elina sedang mabuk, ceritanya panjang, saya akan bawa dia pulang dengan selamat," ucap Loren setelah pria itu berhenti bicara dengan nafas ngos-ngosan seperti baru selesai berlari maraton 1 KM.
"Loren? bagaimana bisa!? Eliana dimana!? " tanya pria tua itu, jelas Pak Yanto khawatir karena putrinya belum juga pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Nanti saya ceritakan pak, saya akan bawa Eli pulang dulu, dia baik baik saja," Loren menatap Eliana yang tertidur dengan pulas.
"Jangan khawatir Pak," ucap Loren lagi.
"Hayuuhhh baiklah baiklah, kalian hati hati, pulangnya naik apa!?" tanya pria itu lagi.
"Naik mobil pak," jawab Loren singkat.
"Baiklah, kalian berhati hatilah di jalan," ucap pria itu.
Loren memutuskan sambungan telepon lalu menarik tas Eliana," Rena bantu bawakan tasnya ke mobil," ucap Loren sambil mengangkat tubuh Eliana.
Mereka membawa Eliana dan membayar tagihan mereka dengan uang Rena. Ketiga tuyul di depan restoran begitu penasaran dengan sosok gadis yang telah mencuri ciuman pertama pria dingin itu.
"Wihh... Daddy anak gadisnya cantik, Loren dapat daging segar!" celetuk Chelsea sambil menata Eliana yang dibawa ke dalam mobil oleh Loren.
"Kamu kira Loren itu singa? Sampai dia dapat daging segar, dasar kamu! Dia itu macan sayang, " balas Otniel yang tak kalah absurd nya.
" Heheheh.... Kan kalau udah jadi entar dimakan juga sama Loren, kan Mom gak salah," balas Chelsea.
"Eh dimakan sama Loren, bener kamu, kayak kita dulu kan beb," balas Otniel seraya mengedipkan sebelah matanya.
Dominique yang jadi obat nyamuk diantar dua manusia Kasmaran itu hanya bisa mendelik kesal dengan segala tingkah gila mereka berdua.
"Gini amat nasib jomblo, " ketus Dominique.
Loren yang sudah memasukkan Eliana di kursi penumpang pun keluar dan menemui yang lain.
"Uncle, Aunty, sepertinya Loren harus pergi dahulu, dia anak gadis pria yang Loren bantu waktu itu, ayahnya tadi menghubungi dan ini sudah malam, besok Loren akan mengubungi kalian lagi," jelas pria itu sambil menatap tuan dan nyonya Park versi Otniel Chelsea itu.
Kedua orang tua itu mengangguk sambil senyum senyum melihat Loren yang ternyata bisa peduli dengan perempuan.
"Hehehe kalau begini,Loren itu normal, dia bukan pecinta sejenis, sekarang tinggal giliran anak curut di belakang kami," batin Chelsea dengan segala senyum anehnya.
"Iya nggak apa apa nak, bawa menantu aunty baik baik ya, aunty tunggu kabar baiknya ," balas Chelsea seraya mengedipkan sebelah matanya dengan tatapan jahil.
"Aunty, bukan begitu.. kami...
"Sudah gak apa apa, anak muda itu biasa malu malu, tadi kalian kan sudah ekhm.. ekhmm... ciuman hihihih....." imbuh Otniel seraya menyatukan kedua tangannya mengilustrasikan orang yang sedang berciuman.
"uncle....." Loren malah dibuat salah tingkah. Jujur saja Loren juga terkejut dengan perbuatan Eliana yang tiba tiba tadi, ciumannya di curi begitu saja oleh seorang gadis yang mabuk, bisa bilang apa dia?
"Hahahahhaha.... maaf maaf ya sudah kalian kembali lah, hati hati di jalan," ucap Otniel sambil tertawa terbahak bahak.
"Rena ikut!" celetuk gadis itu.
"Ehh ikut kemana kamu anak tengik, nggak boleh, urusan kita soal kamu yang tiba tiba keluar rumah karena BTS kamu itu belum kelar, pulang sekarang!!" Chelsea menarik lengan Rena.
"Mooommmm... sorry!!!" rengek Rena.
"Tidak ada maaf bagimu!!" ketus Chelsea sambil menjewer telinga anak gadisnya.
"Loren sana kalian pulang saja, ini sudah malam kasihan gadis itu, Uncle rasa dia punya banyak masalah," ucap Otniel.
"Baik Uncle," ucap Loren.
"Dominique kau akan ikut dengan mereka?" tanya Otniel sekali lagi.
"Ikut pa, Rena mengatakan ada masalah dengan Alpha grup, kami harus berdiskusi," ucap Dominique.
"Baiklah, kalian berhati hati!" ucap Otniel yang dianggukkan oleh kedua pria itu.
Loren, Dominique dan Eliana pergi dengan mobil Loren, sedangkan Rena dibawa oleh Kedua orangtuanya untuk menerima sidang terbesar seabad ini.
"Kak Dominique, kak Loren tolong aku!!!!!" teriak gadis itu dari dalam mobil, dia jelas terlihat seperti seorang gadis yang diculik.
"Dasar perusuh," gumam Dominique yang memilih menyupiri Loren dan Eliana.
Loren duduk di samping Eliana yang masih terlelap akibat pengaruh Alkohol itu. Dia menatap gadis yang mencuri ciuman pertamanya dan malah mengajaknya jadi kekasih gadis itu, sungguh perempuan yang berani.
"Dominique kita ke minimarket dahulu, aku akan beli obat pengar, dia akan pusing besok," ucap Loren.
"Baiklah," balas Dominique.
Mereka melaju menuju rute rumah Eliana. Di dalam mobil Loren duduk dengan tegap, Eliana malah memeluk Loren dan tidur di atas dada pria itu dengan nyamannya.
"Loren bisa tersenyum juga," pikir Dominique saat dia menangkap senyum tipis di bibir pria itu. Tersenyum dalam artian pada lawan jenis dengan perasaan spesial.
Eliana lagi lagi meracau, dia mulai menggerayangi dada Loren, gadis itu membuka matanya, dia masih dalam kondisi mabuk parah.
"Ehh heheh Loren ya? pacarku kan? hahaha kau akan mencintaiku kan? aku juga mau bahagia, cintai aku ya... hahaha... Loren... aku juga mau isi kekosongan ini!" ucap Eliana sambil menunjuk nunjuk dada Loren.
"Disini sedih kan? pilu kan? kesal dan marah kan? sama, aku juga hiks hiks hiks... Kita seharusnya bahagia ya kan?" celoteh gadis itu lagi.
"Apa kau yakin? kau mungkin akan kabur saat tau siapa aku," ucap Loren seraya menatap gadis itu.
Eliana tersenyum, dia menggelengkan kepalanya," no... aku tidak akan pernah kabur, karena aku juga tidak sebaik itu hahaha.... aku ini pembawa sial, aku ini punya banyak kekurangan, bahkan hidupku mungkin akan singkat hahaha.... aku hanya punya satu ginjal ahahahah... Loren katakan apa aku akan hidup setelah minum alkohol itu hahahhaha....
Loren dan Dominique terkejut mendengar penuturan Eliana, padahal selama ini gadis itu tampak baik baik saja.
"Satu ginjal?" pikir Loren.
"Apa ayahmu tau itu!?" tanya Loren.
Eliana menggelengkan kepalanya," mana mungkin ayah tau hahhaha.. ginjalku kuberikan pada kakak...supaya dia bisa hidup panjang umur hahhaha... kakak bilang kalau itulah gunaku dilahirkan hahhaha.... emph.... aku mual....
Huweekkk.... Huweekkk....
Loren hanya diam saat Eliana muntah di atas celananya, gadis itu tak kalah menyedihkan dengan dirinya. Bahkan Dominique yang menyetir mobil saja tak bisa berkata-kata dengan penuturan Eliana.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗