Hidden Mafia

Hidden Mafia
30. Sakitnya Loren



Prangg.... Praaangg.... Brakkk....


Kamar paling ujung di lantai dua bagian barat terdengar sangat ribut saat ini. Eliana jelas mendengar kalah benda benda kaca di pecahkan dan pintu di dobrak namun tak ada yang keluar. Suara teriakan kemerahan dan sakit terdengar menggelegar di seluruh koridor lantai dua.


Eliana berjalan dengan menahan rasa takut dalam dirinya,dia gemetaran mendengar suara teriakan dan pecahan barang barang itu. Suasananya mencekam, seolah dia akan menghadapi monster paling menakutkan.


Glekk....


Eliana menenggak salivanya saat dia sudah tiba di depan ruangan yang dimaksud oleh Xavier. Langkah kecil gadis itu terlihat berat.


Brakkk...


"Akhh..... apa itu!!" Eliana tersentak kaget saat mendengar pintu digebrak dari dalam seolah penghuninya tak bisa membuka ruangan itu.


Gadis itu terdiam membeku di depan pintu itu, sangat menakutkan. Jantungnya berdegup kencang, dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Eliana menyentuh daun pintu itu meski dia sangat takut akan seperti apa Loren yang dia hadapi saat ini.


Eliana menyentuh ini itu tiba tiba...


Brukkk...


Krakk.... Ceklek!


Seseorang mendorong tubuh Eliana hingga terjerembab dan masuk ke dalam ruangan Loren yang ternyata tidak di kunci itu. Gadis itu terjatuh sampai lututnya berdarah karena terkena serpihan kaca yang berserakan di atas lantai.


"Akhh.... apa yang terjadi!!!" gadis itu berteriak kesakitan sambil.emnatao ke arah pintu yang sudah tertutup rapat sebab dia dibuang ke dalam ruangan itu dan dijadikan pan bagi monster gila di ruangan itu. Tak ada cahaya disana ,ya g terdengar hanya suara langkah kaki seolah mencoba untuk meraih Eliana namun rantai besi yang sangat kuat menghalangi pergerakan orang yang tak lain adalah Loren.


"Gelap sekali!" ucap Eliana sambil meraba raba namun tangannya malah menyentuh serpihan kaca hingga dia mengalami beberapa sayatan di tangannya.


"Awhhh..shhh... sepertinya disini banyak pecahan kaca!" pikir Eliana.


Dia mencoba berdiri, gadis itu mengeluarkan ponselnya untuk menerangi ruangan gelap gulita yang sangat berisik itu. Eliana benar benar ketakutan saat ini, dia bisa mendengar deru nafas Loren yang tidak teratur, langkah kaki dan gemerincing rantai besi yang sangat berisik.


"Grahahhhh..... kemari kau, harus mati!!!!" pekik Loren di dalam ruangan itu..


Deghh...


Elina terdiam membatu dengan ketakutan luar biasa menghantui dirinya. Rasa takut yang lagi lagi menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuat kaki dan tangannya sampai lemas tak berdaya. Eliana mencengkram erat erat ponselnya, dia mengarahkan benda itu ke arah sumber suara.


Dengan tangan gemetaran Eliana berusaha melihat seperti apa pemilik suara itu sekarang.


Elina mengarahkan cahaya itu,


"Lo...Loren!!!!"Eliana tersentak, dia menangis sambil menutup mulutnya ketika melihat bagaimana penampilan Loren begitu mengerikan saat ini. Eliana syok, dia tak menyangka kalau Loren berada dalam kondisi seburuk ini.


Wajah Loren penuh dengan luka sayatan, matanya terluka alisnya hancur dan rahangnya bersimbah darah. Begitu menyeramkan sampai membuat Eliana takut dan menangis di pojok ruangan itu.


Eliana berjalan mundur, dia takut, sangat takut saat matanya dengan jelas bertatapan dengan mata Loren yang memerah dan ada kantong darah di mata pria itu.


"Lo..Loren...." lirih gadis itu dengan Isak tangis yang keluar dar bibir mungilnya.


"Apa yang sebenarnya kau alami..." Eliana sesenggukan di pojok ruangan itu sambil meringkuk sedangkan Loren dengan buasnya berlari kesana kemari berusaha untuk melepaskan dirinya dari benda itu.


Eliana berdiri, dia mengumpulkan keberaniannya, sekilas memang dia terlihat bingung namun dia tidak bisa melarikan diri lagi.


Gadis itu mengarahkan cahaya senter ke dinding, berusaha mencari tombol lampu hingga dia menemukan benda itu di dekat jendela.


Klakk...


Dia menyalakan lampu, hingga tampaklah kondisi ruangan itu saat ini. Sangat berantakan dengan pecahan Kaca bertaburan dimana mana. Di atas kasur yang seharusnya berwarna putih bersih malah berubah menjadi merah kehitaman karena darah Loren yang telah mengering.


Dia beralih menatap Loren, pria itu tak memakai sehelai pakaian pun, yang tersisa hanya boxer nya saja, seluruh tubuhnya terluka dan darah keluar dimana mana.


Pertahanan Eliana runtuh, dia menangis histeris hingga tubuhnya merosot ke bawah, dia menangis dan berteriak menatap Loren yang sangat menyeramkan dan menyedihkan di saat yang bersamaan.


"Loren!!!" pekik Eliana, dia benar benar syok saat ini.


Loren menatap Eliana dengan nafas tak beraturan, dia berlari ke arah gadis itu seperti orang kesetanan dan menarik Eliana ke serpihan beling, membanting tubuh gadis itu begitu saja tanpa sadar kalau yang dia sakiti saat ini adalah Eliana.


"Ekhh.... Lo..Loren hiks hiks hiks...tolong hentikan!!!"Eliana meringkuk kesakitan, serpihan kaca tertancap di punggungnya, dia menangis begitu pilu dan hancur hati.


Loren tak mendengar, dia berjalan ke arah Eliana, seolah Eliana adalah target yang harus dia bunuh saat ini.Memori pria itu memerintahkan nya untuk membunuh siapa pun yang dia lihat, semua objek yang dia lihat harus dia basmi tanpa ampun.


Saat ini memorinya di set dalam ingatan masa kecil yang penuh dengan cobaan dan tantangan, ingatan masa lalu saat dia dilatih sebagai anjing pemburu bukan sebagai seorang manusia yang layak untuk dicintai tetapi sebagai senjata terkuat untuk membasmi seluruh musuh komplotan Mafia yang berada di bawah kekuasaan mendiang orangtua yang menghancurkan dirinya.


"Mati semua harus mati, kalian harus mati agar aku tetap hidup!!!!" ucap Loren sambil mengangkat botol wine yang sudah pecah dengan ujung runcing yang siap dia hujamkan ke arah tubuh Eliana.


"hiks hiks hiks.... Lo..Loren bangun, Loren sadarlah hiks hiks hiks...." Eliana menangis histeris, rasa sakit di tubuhnya tak seberapa dibandingkan dengan rasa takut nya saat ini.


Loren berjalan mendekati Eliana dia merangkak di atas tubuh gadis itu masih dengan pecahan botol wine di tangannya. Dia menatap wajah Eliana dengan lebih jelas.


Seketika sebuah ingatan terbersit di kepala, wajah Elina yang tersenyum manis untuk pertama kali, dan senyuman lembut saat wanita itu malu karena telah mencuri ciuman pertamanya.


Loren terdiam mematung di atas tubuh Eliana, Gadis itu diam dengan tubuh gemetaran, dia menatap perubahan emosi pada pria itu. Tatapan mata Loren menjadi lebih lembut dan sendu.


Eliana melirik botol wine itu, dia dengan berani mendekati tangan Loren dan mengambil benda itu.


Brakk...


Eliana melemparkan botol wine itu ke sembarang arah sedang Loren masih terus menatap wajahnya seolah otaknya sedang mengelola informasi tentang siapa Eliana dan kenapa ada getaran di dadanya gaya dengan melihat wajah yang sembab Karena menangis itu.


Eliana mencoba untuk tetap berani, dia masih menangis tapi dia berusaha menatap mata Loren.


"Lo... Loren..."lirih Eliana.


Loren menatap mata gadis itu, sebuah ketenangan dia dapatkan hanya dengan melihat tatapan mata Eliana. Dia masih belum sadar tapi seolah gadis itu kini mengendalikan otaknya.


Tangan besar Loren mengusap lengan gadis itu, sontak membuat Eliana merinding. Loren mengusap wajah Eliana dan mengecup mata gadis itu dengan lembut. Dia masih menatap Eliana, tangannya dengan nakal mengusap bibir ranum Eliana dan menatap gadis itu dengan tatapan lapar seolah ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya.


Loren menarik Eliana, menggendong gadis itu dan membawanya ke atas ranjang dengan punggung Eliana yang sudah bersimbah Darah.


Elina tak memberontak, dia tetap diam meski dia gemetar ketakutan.


"Cantik!" gumam Loren sambil menatap wajah gadis yang ada di bawah kungkungannya itu.


Loren menarik tengkuk Eliana dan mencium bibir ranum itu dengan rakus seperti orang yang sedang mabuk, sedang dimabuk cinta. Rasanya hati Loren saat ini dipenuhi kupu kupu yang menggelitik perutnya. Tak ayal dia memainkan bibir ranum itu dengan lembut seolah dia sudah berkali kali melakukannya padahal baru kejadian waktu itu yang membuat Loren merasakan bagaimana berciuman dengan seorang gadis.


Eliana tak melawan, dia hanya menangis, jika dengan tubuhnya bisa menenangkan Loren maka dia akan memberikannya sebab ada rasa di hati yang tak bisa menolak gejolak asmara itu.


"I Want You... More..." bisik Loren seraya menggigit kecil telinga Eliana.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗