Hidden Mafia

Hidden Mafia
23. Loren CEO-nya



Semua orang dibuat terkejut dengan kehadiran dua pemilik resmi Alpha grup. Bahkan yang paling membuat mereka terkejut adalah kehadiran sang tuan muda Kiriye yang sudah tidak nampak sejak setahun yang lalu.


Semua orang dibuat tercengang saat melihat kedua pria itu. Dominique memang sangat di kagumi oleh para pegawai karena parasnya yang tampan. Hanya saja tak ada yang tau identitas sebenarnya dari pria itu.


Dan yang membuat suasana ini menyeramkan adalah kehadiran sang tuan Kiriye yang sangat menyeramkan. Jenggot, kumis dan rambutnya yang serba panjang tampak sangat menyeramkan seolah dia baru saja keluar dari dalam goa setelah bertapa selama puluhan tahun.


"Itu tuan muda Kiriye, benar benar menyeramkan!" Para karyawan merinding ketakutan saat melihat wajah Loren sang pemilik perusahaan yang baru menampakkan wajahnya setelah sekian lama.


Eliana terbelalak saat melihat Loren pria yang dia ajak kencan dan dia paksa menjadi pacarnya ada disana dan berpenampilan berbeda dari biasanya.


"Loren!??" Ucap gadis itu dengan suara kencang sambil menepis tangan Yuni dari kepalanya begitu saja bahkan membuat perempuan itu terjatuh ke lantai karena di dorong oleh Eliana saat dia terbengong melihat siapa yang datang dan membentaknya.


Mata Eliana tak hentinya menyelidik pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia terkejut bukan main saat melihat Loren disana.


"apa yang ka..kau lakukan disini!!!" Teriak Eliana sambil menunjuk Loren dengan wajah syok.


Semua orang terkejut saat Eliana dengan santai berbicara bahkan menunjuk Loren pria yang sangat mereka takuti begitu saja.


"Eliana dia pemilik perusahaan ini!" Ucap Rena menjelaskan situasi dengan singkat pada Eliana.


Mata gadis itu membulat sempurna saat mendengar ucapan Rena.


"Ja... Jangan bercanda Rena, mana mungkin dia pemilik perusahaan ini, apa kau gila!?" Eliana menatap semua orang dengan tatapan tak percaya, tapi tatapan para karyawan menunjukkan kalau apa yang baru saja dikatakan oleh Rena adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dia bantah bagaimana pun caranya.


Loren menatap Eliana yang syok, pria itu hanya tertuju pada Eliana tidak pada yang lain.


"Yang..benar saja!" Ucap Eliana tak percaya.


Sementara Eliana masih melongo dengan hal ini, Dominique mengambil alih situasi.


"Semua orang yang namanya ada dalam situs berita perusahaan masuk ke ruang disiplin!" Titah pria itu sambil memberikan tatapan tajam dan mencekam pada mereka semua .


Glek...


Semuanya tampak gugup dan ketakutan saat sang Presdir telah angkat bicara.


"Yang tidak berhubungan dengan ini tutup telinga, mata dan mulut kalian jika ingin selamat!" Tegas Dominique lagi.


Sesuai dengan perintah Dominique semua orang yang terlibat masuk ke dalam ruang disiplin karyawan dimana hukuman akan diberikan sesuai dengan tindakan mereka sedang karyawan lain melanjutkan pekerjaan mereka seolah tidak terjadi apa apa.


"Kau ikut dengan ku!" Loren memanggil Eliana dan meminta gadis itu untuk mengikuti langkah nya sementara itu Rena mengekori kakak kembarnya untuk mengeksekusi para pembuat onar yang merusak kinerja tim di perusahaan.


Eliana berjalan cepat cepat menyesuaikan langkah kakinya dengan Loren yang jelas tinggi badan langkah kakinya berbeda jauh dengan Eliana. Gadis itu menenggak salivanya berkali-kali.Kali ini dia paham kalau dia telah melakukan kesalahan besar saat mabuk kemarin dan malah mengajak seorang misterius seperti Loren menjalin hubungan dengan dirinya.


"Ya Tuhan, apa yang kulakukan semalam, aku menggali lubang kuburku sendiri, matilah aku, bagaimana bisa aku melakukan hal memalukan itu pada seorang CEO !!" batin Eliana berkecamuk.


Loren berjalan membawa Eliana melewati tangga darurat dimana tak seorang pun akan melihat mereka disana. Tangga darurat yang hanya bisa diakses oleh Loren dan Dominique.


Eliana mempercepat langkahnya meski tumitnya sakit karena sepatu yang dia gunakan. Kakinya sampai lecet karena terlalu cepat berjalan.


"Tu.. tunggu!" Teriak Eliana sambil berpegangan pada pegangan tangga. kakinya perih dan rasanya sangat sakit. Loren berhenti dan memutar tubuhnya menatap Eliana.


Gadis itu tampak membuka sepatu nya dan terlihatlah lecet kemerahan di tumit gadis itu. Loren hanya diam saja saat melihat kaki Eliana terluka.


"Kenapa harus pakai sepatu yang tidak nyaman!" Ketus Loren lalu membalikkan badannya lagi dan melanjutkan langkahnya meski kali ini dia memperlambat jalannya.


Eliana hanya bisa diam mendengar ucapan pria itu dan menenteng sepatunya sambil berjalan perlahan mengikuti Loren dengan tumit yang terluka.


"Kenapa menanyakan itu padaku, ini kan perusahaannya, kau yang buat peraturan begitu!" Gumam gadis itu.


Mereka tiba di lantai yang dituju oleh Loren, pria itu membuka pintu lalu menatap Eliana," masuk!" Titahnya dengan suara datar.


"I..ini kemana?" Tanya gadis itu. Pasalnya dia tak tau kalau ada ruangan lain di tempat itu.


"Kau cerewet, masuk saja!" Ketus Loren sambil sedikit mendorong tubuh Eliana ke dalam ruangan rahasia miliknya itu. Tempat dimana dia akan mengontrol perusahaan secara tersembunyi.


"Wahh....." Eliana tercengang.


Loren manrik tangan Eliana dan membawanya duduk di sofa.


"Duduk disini!" Ucap Loren tegas.


Eliana menurut, dia tak tau kenapa dia malah diajak ke tempat itu. Jika karyawan lihat, mungkin mereka akan berpikir yang tidak tidak tentang mereka berdua.


Loren pergi mengambil kotak obat dari lemari kecil dalam ruangan itu, setelah itu, dia duduk bersila di atas lantai tepat d depan kaki Eliana.


"Mau apa!? Biar aku saja!" Eliana tampak panik dan merasa segan dengan situasi saat ini.Rasanya sangat canggung saat pria itu duduk disana.


"Tenanglah, aku akan mengobatimu lalu kita bicara!" Tegas Loren yang langsung mengambil cairan pembersih luka dan mengusap nya ke tumit Eliana.


"Akhh... Sshhh.... Ini sakit!" Eliana mendesis kesakitan saat Loren menyentuh lukanya.


Loren melirik gadis itu, dengan pelan dia melakukan nya lagi dan mengobati kaki Eliana.


"Selesai, lain kali pakai sepatu yang pas untukmu!" Ucap Loren sambil menutup kotak obat itu.


Pria itu kini duduk di hadapan Eliana dan menatap gadis itu.


"Kau sekarang sudah tau aku kan?" Ucap Loren tanpa basa basi.


Eliana terdiam, dia masih terjebak dalam masalahnya sendiri.


"Eh.. em.. u..untuk ya..yang semalam a..aku minta maaf, a..anggap saja tidak pernah terjadi, aku tidak tau identitas mu sampai aku berkata yang tidak tidak, anggap saja tidak pernah terjadi!" Ucap Eliana dengan gugup.


"Tidak pernah terjadi? Apa kau pikir segampang itu setelah kau merebut ciuman pertamaku!?" Balas Loren dengan nada kesal karena dia merasa seperti sedang dipermainkan oleh gadis itu.


"Ci..ciuman pertama mu!?? Ka..kau!?? Mana mungkin!??" Ucap Eliana terkejut.


"Ya itu ciuman pertamaku, dan kau mengambilnya secara paksa, kau harus bertanggung jawab untuk itu!!" Tegas Loren.


"Ohhh... Ya... yang benar saja!" Eliana terbelalak.


"Itu juga ciuman pertamaku, makanya kukatakan anggap saja tidak pernah terjadi, aku salah, aku minta maaf telah membuang kekacauan!" Ucap gadis itu lagi sambil menangkupkan kedua tangannya memohon pada Loren.


"Bukannya kau bilang tidak akan melarikan diri!?" Tanya Loren lagi.


"I..itu kan karena identitas mu sebagai Lo... Loren yang kukenal!" Jawab Eliana yang tak berani membalas tatapan Loren.


"Memangnya kau kenal siapa Loren sebenarnya!?" Ucap prianitu dengan suara mendominasi.


Eliana benar benar takut sekaligus gugup," a..aku tidak tau..." Jawabnya pelan.


"Terkait ucapan dan permintaan mu itu," Loren tiba tiba berdiri dan membuka pakaiannya di depan Eliana.


"Ma..mau apa kau!!!" Mata Eliana membulat sempurna saat lrianitu dengan sembarangan membuka pakaiannya di depan seorang gadis.


"Lihat aku baik baik, apa kau yakin bisa tidak melarikan diri setelah kenal siapa aku!" Loren membuka pakaiannya dan menatap Eliana dengan tajam.


"Aku tau kau perempuan yang memegang kata katamu tapi aku akan beritahu hal penting jika ingin menjalin hubungan denganku!" Ucap pria itu lagi.


"A..apa!??"


.


.


Like, vote dan komen 🤗