
Loren berdiri di hadapan Eliana dan membuka kemejanya di depan gadis itu. Matanya terus menatap Eliana dengan serius.Sejak kejadian Eliana menciumnya secara tiba-tiba,Loren terus memikirkan tentang gadis itu dan isi kepalanya dipenuhi oleh Eliana dan wajah konyol gadis itu saat mengecup bibirnya beberapa kali.
Kata kata Eliana yang ingin mengisi kekosongan di dalam hati Loren menjadi dasar keinginan pria itu untuk bersikap serakah dan mengi gunakan hal yang ditawarkan gadis itu. Hatinya yang kosong ingin dia isi dengan cara apa pun agar dia tidak terus merasa hampa.
"Kamu juga berhak bahagia Loren, Aunty dan Uncle akan mendukungmu," kata- kata pasangan dokter itu teringat jelas dalam pikirannya.
"Nenek yakin Loren akan bahagia, Loren pasti akan menerima banyak cinta!" satu kalimat lagi dari si nyonya besar Park yang selalu memberi perhatian lebih pada Loren. Nyonya Luna yang sangat menyengat Loren sejak dia mengenal Loren. Luna menyayangi Loren karena dia melihat dirinya yang dahulu dalam diri pria itu, rasa kosong dan hampa karena dibuang oleh keluarga sendiri membuat Luna sangat memahami perasaan Loren.
Loren yang selalu merasa kosong itu, ingin mengisi hatinya dengan satu kata yaitu'cinta' yang entah bagaimana rasanya.
"Lihat dan dengar baik baik, kau bisa memutuskan untuk lari atau tidak setelah mendengar ku," ucap Loren.
Loren mengangkat wajah Eliana sehingga membuat gadis itu menatap tubuhnya yang sangat menyeramkan. Bekas luka potong dan jahitan menempel di sekujur tubuh pria itu. Memang tubuh Loren sangat berotot dan tegap namun bekas luka memanjang di sekujur tubuh pria itu membuat Eliana bergidik ngeri.
"A..ada apa dengan tubuh mu!!" mata Eliana membulat sempurna saat melihat tubuh Loren dengan mata kepalanya sendiri.
"Aku adalah seorang pria yang hidup di dunia bawah," jelas Loren. Eliana tentu saja langsung terkejut saat mendengar penjelasan Loren. Bagaimana bisa ayahnya membawa seorang pria dari dunia mafia ke dalam ruang mere tanpa tau siapa pria itu sebenarnya.
"Ma.. maksudmu ka..kau ma..mafia!?" Eliana terbelalak dengan ucapan Loren.
Pria itu mengangguk," Aku bukan orang yang patut kau minta untuk jadi pasangan, " ucap Loren.
"Selain itu," Loren mundur perlahan lahan lalu duduk di sofa bersebrangan dengan Eliana.
"Aku seorang pasien ODGJ, aku mengidap skizofrenia sudah bertahun-tahun dan tidak bisa disembuhkan, itulah alasan kenapa setiap akhir bulan aku selalu menghilang dari rumah, Kau pasti akan melarikan diri saat tau siapa aku, oleh karena itu..."Loren menatap Elina dengan serius. Namun tatapan matanya mengatakan hal lain di hati Eliana, seolah mengatakan kalau dia butuh diselamatkan dari semua itu.
"Aku memberitahumu semua ini agar kau tau menyikapi kata kata sembrono mu semalam dan pagi tadi, Kau tidak mungkin terikat dengan pria penuh masalah dan punya banyak musuh seperti diriku, aku tak ingin melibatkan orang orang naif seperti dirimu!" jelas pria itu lagi.
"Sekarang pergilah, anggap tidak terjadi apa apa pada kita, dan bersikap sebagai mana biasanya jika di rumah, aku masih nyaman tinggal di rumah Pak Yanto, jika kau tak suka kau boleh mengusir ku kapanpun,' jelas pria itu lagi .
"Dan kuharap kau bisa menjaga rahasia termasuk di dalam perusahaan ini,orang orang tadi sudah dibereskan oleh Dominique," jelas pria itu sambil mengancingkan bajunya.
Eliana hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Loren. Jujur saja dia terkejut saat mendengar penjelasan pria itu, bagaimana bisa dia mengajak seorang mafia untuk menjalin hubungan, beruntung Loren masih memiliki otak yang waras sehingga dia masih mau menjelaskan kondisinya pada Eliana..
Gadis itu tampak syok, dia keluar dengan kedua kaki yang lemah, saat melihat Loren dia merasa takut dan asing dengan pria itu, seolah olah Loren adalah orang yang harus dia hindari selamanya.
"A...aku tidak tau harus bagaimana!!!" gumam gadis itu, entah kenapa ada sedikit rasa kesal di hatinya.
Setelah kepergian Eliana yang tenang, Loren kembali ke dirinya yang sebenarnya, dia memijit pelipisnya dan memegang dadanya yang bergemuruh hebat saat berusaha tetap tenang dalam menyampaikan penjelasan nya pada Eliana.
"Sial, dia pasti akan melarikan diri, hahah... aku memang tidak pantas, seorang ODGJ mengharapkan cinta gadis normal, aku benar benar sudah gila!" pria itu mengumpat dirinya sendiri.
Setelah mengatakan kekurangan dan rahasianya setidaknya Loren merasa tenang karena tidak harus terbeban lagi dengan perasaan aneh yang selalu bergemuruh dalam dadanya sejak dia bertemu gadis itu.
"Apa dia mengingatku? sepertinya hanya aku yang terjebak dengan janji manis seorang gadis kecil di taman bermain waktu itu, hah... miris sekali nasibmu Loren, tapi begini lebih baik, aku bisa mati dengan tenang," batin Loren yang kini tengah menengadah ke atas sambil menenangkan pikirannya.
Sementara itu Eliana keluar dengan rasa takut dan aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya setelah mendengar cerita Loren.
"Seorang mafia dengan ODGJ tetapi dia adalah seorang Presdir sekaligus karyawan ayahku, apa yang kulakukan sebenarnya!??? hah... konyol sekali kau Eliana!" gadis itu merasa telah ditipu oleh Loren.
"Eliana!" suara Rena terdengar di telinga gadis itu.
"Kamu dipanggil ke ruangan Presdir," ucap Rena.
Eliana tau bahwa masih ada Maslaah penting yang harus dia hadapi, tapi pikirannya tak lepas dari Loren yang telah memberitahukan padanya tentang identitas sebenarnya pria itu.
"Ba..Baiklah," jawab gadis itu, dia terlihat Ling lung dan kebingungan saat ini.
Sementara Eliana pergi ke ruangan Dominique, Rena masuk melalui pintu rahasia tempat Loren berada. Cepat cepat gadis itu melangkahkan kakinya.
"Kak Loren," panggil gadis itu saat dia masuk ke ruangan Loren.
Pria itu sedang duduk termenung di tengah tengah ruangan, tatapannya kosong dan lagi lagi dia minum minuman beralkohol padahal kemarin sudah sempat berhenti.
"Ada apa? aku sedang tidak ingin diganggu," ucap Loren tak bersemangat.
"Apa yang terjadi dengan Kelian berdua?" tanya Rena.
"Huhhhh....." Loren menghela nafas berat lalu menoleh ke arah Rena.
"Dia kabur Rena, " ucapnya.
"Apa? siapa yang kabur, kenapa kak?" Rena langsung duduk di samping Loren dengan wajah khawatir.
"Eliana, gadis itu kabur dan dia ketakutan saat aku beritahu identitas ku yang sebenarnya, hahahhaha.... padahal dia yang bilang kalau dia tidak akan kabur, tapi setelah kuberitahu, dia sama saja dengan perempuan lain!" ujar Loren seraya menertawakan nasibnya yang begitu menyedihkan.
"Jadi Dia sudah tau semuanya?" Rena pun jadi terdiam mendengar masalah ini.
"Kak apa kakak menyukai Eliana!?" tanya Rena dengan serius.
Loren menoleh," siapa yang tidak menyukai gadis cantik itu, tapi apa aku pantas menyukainya?" balas Loren lagi yang terlihat jelas telah menyerah dengan keadaan ini.
Rena mengangguk paham," Tak bisa dibiarkan, kami semua harus turun tangan, Eliana, jangan kira kau bisa lari dari hal ini, Kau harus bersama Kak Loren, karena kau yang pertama membuat pria ini sedikit berubah!!" batin Rena.
"Tenanglah kak, serahkan padaku!" ucap Rena sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
"Jangan berbuat yang aneh aneh Rena, akan berbahaya," ucap Loren yang sudah hapal sifat gadis itu.
Rena hanya mengangguk ," Meski sedikit kejam, tapi Kak Loren mulai sedikit berubah sejak tinggal di tempat Eliana, pantas saja kak Loren bisa tersenyum bahagia, aku akan turun tangan untuk masalah ini!!!"
"Maaf Eliana, tapi kau harus bersama Loren!"
.
.
.
like, vote dan komen 🤗