
Eliana menapakkan kakinya di kota London yang klasik. Jam besar sebagai simbol ikonik kota itu melambung tinggi ke atas. Gadis itu menatap sekelilingnya, dia tiba sendiri di kota itu tanpa ada yang mendampingi, hanya berbekal bahasa dan alamat yang diberikan Rena dia memasuki negeri yang baru pertama kali dia kunjungi hanya untuk menemukan Loren yang telah 'pergi untuk selamanya'.
Eliana bukan gadis bodoh yang akan bingung jika menghadapi perjalan seperti ini, hanya saja dia sedikit takut karena ini pertama kalinya bagi gadis itu ada di tanah itu.
"Ravien Street nomor 435, kemana aku akan mencari alamat ini?" gumam Eliana yang memasang tas berisi pakaian dan barang barang pentingnya.
Eliana berjalan dengan perlahan, dia menatap kota itu,"Suatu saat aku akan bawa ayah kesini, tunggu semuanya tenang," pikir gadis itu saat dia merasakan betapa menyenangkannya kota itu.
Langkah kaki Eliana menyusuri jalanan di antara bangunan bangunan besar yang menjulang tinggi ke atas itu, dia baru tiba, dan ini saatnya untuk mencari penginapan yang telah dia pesan sebelumnya, dia menaiki taksi lalu melaju menuju penginapan itu.
Gadis itu menatap ponselnya, berisi foto Loren yang dia minta dari Rena,mata gadis itu kembali menganak sungai. Rena yang menyampaikan kondisi Loren dengan cara yang dramatis berhasil membuat gadis itu goyah bahkan sampai bersikukuh ingin menemukan 'makam' Loren tanpa curiga apa pun pada Rena.
"Aku merindukanmu...."gumam Eliana seraya mengusap air matanya sembari menatap foto Loren.
"Maaf.... maafkan aku," gumam Eliana.
drrtt.... drrtt....
Ponsel gadis itu berbunyi, tampak nama Pak Yanto tertera di layar benda pipih itu.
"Halo Ayah, Eliana sudah sampai dengan selamat, maaf Eliana tadi belum mengubungi ayah, rencananya akan Eli hubungi saat tiba di penginapan, taunya Ayah sudah menghubungi terlebih dahulu," ucap gadis itu.
"Ahh... syukurlah kamu sampai dengan selamat, ayah sempat khawatir karena kamu pergi sendirian, baik baiklah bekerja disana, ayah akan sering menghubungi mu, ayah akan merindukan kamu sayang, huh... Loren juga tidak disini, jangan terlalu lama di negeri orang, ayah tak suka sendirian," ucap Pak Yanto dari seberang sana.
Air mata Eliana mengalir, dia tak mungkin mengatakan pada ayahnya kalau Loren sudah me janggal, yang ada Ayah nya akan syok dan juga terpukul seperti dirinya saat ini.
Gadis itu mengusap air matanya dia terus menangis bahkan sampai membuat supir taxi itu melirik ke arah Eliana.
"Baik ayah, Eliana tidak akan lama, Eli akan merindukan ayah, nanti Eli hubungi lagi ya,Eli sedikit lelah," ucap gadis itu.
"Ahh baiklah, baik kamu makan yang baik dan hidup dengan bahagia,Ayah bangga padamu, ayah menyayangi mu putri ayah," ucap pria itu sebelum panggilan mereka berakhir.
Eliana menangis, dia meringkuk sambil tersedu sedu di dalam taxi itu. Rasanya sangat sakit, dia meninggalkan ayahnya di Indonesia dengan alasan memilih bekerja di luar negeri. Eliana mengundurkan diri dari perusahaan Alpha grup hanya agar bisa segi ke London dan tinggal di kota tempat pria yang membuatnya merasa seperti seorang manusia tidur untuk selamanya.
"Maaf Eli berbohong, tunggu sampai Eli tenang, Eli akan pulang dan menjelaskan semuanya pada Ayah," gumam gadis itu.
Eliana menatap keluar jendela mobil, dia mengusap air matanya, tatapan itu semakin murung dan dingin akan lebih parah dari tatapannya yang sebelumnya. kepala Eliana dipenuhi dengan wajah Loren. dia terus membayangkan wajah pria itu, mas kita kapan mau tanya selamat datang tetapi terkadang Eliana menangkap senyum di wajah Loren Ketika mereka makan atau duduk bersama. Hati Eliana menghangat hanya melihat hal itu, dan kini dia menyesal telah lari dar Loren.
Akhirnya taxi itu tiba di penginapan yang dipesan Eliana, penginapan yang berada di area yang sama dengan alamat yang ditunjukkan oleh Rena pada gadis itu.
"nona kita sudah tiba," ucap supir taxi itu.
Eliana memberikan ongkos dan keluar dari sana sambil menenteng barang bawaannya yang hanya berisi beberapa potong pakaian.
Eliana berjalan masuk ke dalam penginapan dan menunjukkan kartu akses elektronik dari ponselnya.
Gadis itu masuk ke dalam salah satu kamar, dia menghela nafas berat, dia merentangkan tubuh nya di atas kasur itu dan terlelap disana.
"Tunggu sebentar lagi, kita akan menemukan Loren, sebentar saja,aku ingin beristirahat sebentar," ucap Eliana yang perlahan lahan menutup matanya dan terlelap di dalam kamar penginapan itu.
Jam terus berlalu, tak terasa hari sudah malam, Elina yang tiba pagi tadi di penginapan membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.
kruukmkkk....
"ahh aku lapar," ucapnya lagi.
Dia meregangkan tubuhnya, rasanya sangat nyaman setelah beristirahat sedikit setelah perjalanan panjang yang dia lakukan.
"Cari makan dulu sambil melacak tempat yang dimaksud Rena," gumam Eliana.
Dia bersiap, cuaca di London cukup bagus, saat ini di kota itu mengalami musim panas yang cerah.
Eliana memakai kaos oblong berwarna putih dan celana jeans hitam dilengkapi sneaker putih, rambutnya di ikat dengan sebuah pita merah jambu dan tidak memakai riasan apa pun, di tambah dengan cardigan batik berwarna cokelat di tambah dengan tas hitam miliknya.
Dia keluar dari penginapan sambil membawa secarik kertas berisi alamat Loren yang dia tuliskan di penginapan tadi.
Eliana menyusuri jalanan kota London yang ramai di malam hari, lokasi strategis dengan berbagai macam kuliner dan hiburan membuat tempat itu banyak dikunjungi orang ketika malam hari tiba. Eliana menatap sebuah toko yang menyediakan rental sepeda, dia pergi kesana untuk menyewa sebuah sepeda agar mempermudah perjalanan gadis itu.
Setelah mendapatkan yang dia mau, gadis itu embayauh sepedanya menyusuri jalanan sambil mengunyah hotdog yang dia beli di samping toko rental sepeda itu.
"Ravien Street 435, gedung abu abu dengan pagar tinggi di depannya, aku sudah membawa kartu akses ke gedung itu,mudah mudahan aku menemukannya malam ini," gumam Eliana sambil menyusuri jalan dengan memperhatikan GPS di ponselnya.
Elina melaju sambil menikmati semilir angin yang membelai lembut wajah dan rambutnya. Kenangan kecil tentang Loren terbayang lagu di kepala gadis cantik dan sederhana itu.
"Dia ternyata manis juga," gumam Eliana yang tanpa sadar lagi lagi menangis saat memikirkan Loren.
"Dia tidak menunjukkan perhatiannya secara langsung tapi membuatku merasa nyaman dan aman di dekatnya, dia pia yang baik di balik alkohol nya itu," gumam Eliana lagi sambil mengusap air matanya.
Gadis itu mengayuh lagi dan lagi hingga dia tiba di alamat yang dimaksud oleh Rena. Gedung no 435 di Ravien Street, sebuah gedung mewah yang tampak seperti sebuah istana, padahal Rena bilang kalau gedung itu adalah sebuah apartemen sederhana tapi nyatanya sederhana bagi Rena adalah sebuah kemewahan luar biasa di mata Eliana.
"Ini gedungnya ya,!?" gumam Eliana sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan apakah dia berada di tempat yang tepat.
...****************...
"Awasi gadis itu, dia akan jadi daging segar untuk Tuan!!!"
"Tapi dia masuk ke dalam rumah itu tuan, kita tidak bisa mengakses tempat itu!"
"Hapal saja wajahnya, setelah itu kita beraksi, aku punya feeling kalau dia adalah senjata terbaik untuk memusnahkan anak pungut sialan itu!"
"Baik tuan muda Valcon!"
.
.
.
like, vote dan komen 🤗