
Senyuman bahagia terpancar jelas di wajah pria itu. Eliana berhasil membuat jantung nya kembali berdebar tak karuan. Respon Eliana sangat di luar dugaan Loren, dia berpikir kalau Eliana akan marah atau mungkin sedih dengan kejadian ini, tapi nyatanya Eliana yang menguatkan hati Loren untuk bangkit dari masa lalunya.
Loren melepaskan pelukannya dari Eliana, dia menatap wajah istrinya sambil tersenyum bahagia, sebuah senyuman yang tak pernah terpancar di wajahnya, senyuman yang berhasil mengobrak-abrik hati Eliana ketika menatap bibir pria itu melengkung dengan begitu indah di depannya.
"Tampan sekali," puji Eliana yang wajahnya bersemu merah karena gugup dan malu, jantungnya juga berdebar tak karuan. Dia merasa sangat nyaman di posisi itu tapi dia cukup malu untuk mengakuinya.
"Benarkah? " tanya Loren dengan suara serak serak basahnya yang menggoda, dia menatap Eliana dengan tatapan yang begitu dalam tangan nya mengusap wajah lembut wanita itu.
"Jantungku berdebar El, aku merasa seperti ada letupan letupan indah di dadaku saat melihatmu, aku tak pernah merasakan ini, perasaan senang apa ini? aku bahagia, aku sangat senang, kusebut apa perasaan ini El? aku rasanya tak ingin jauh darimu, tak ingin melepasmu dan terus bersamamu, bisa jelaskan aku kenapa?" tanya Pria itu sambil menatap Eliana dengan tatapan sayup, pipinya memerah bahkan telinganya juga demikian.
Eliana terkejut, dia tersipu malu mendengar ucapan suaminya karena dia juga merasakan hal yang sama. Kacang kecil di rahim nya membuat semuanya berubah secara perlahan-lahan, termasuk hubungan Eliana dengan Loren.
Eliana mengusap rahang tegas suaminya, dia menatap dalam kedua netra pekat pria itu.
"Kurasa ini yang disebut cinta oleh orang-orang, aku juga merasakannya, aku... aku jatuh cinta padamu, perasaan ini, hati ini gak bisa bohong kalau aku telah terpikat pada ayah dari janinku, aku sangat bahagia... dadaku rasanya berdebar-debar, ribuan kupu-kupu beterbangan dan menggelitik hati ini, aku sangat nyaman," ucap Eliana dengan kristal bening yang menggantung di kedua pelupuk matanya.
Loren tertegun, jantungnya berdebar semakin kencang, dia menatap wajah itu, mengusap air mata wanitanya dengan lembut, inilah awal yang baru bagi mereka berdua? jika benar maka Loren Tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dia menatap Eliana dengan tatapan tulus, diusapnya Surai hitam wanita itu dengan lembut.
deg..deg .deg...
Jantung keduanya saling berpacu, suhu tubuh mereka bahkan semakin memanas.
"Aku tak tau rasanya, tapi jika ini memang yang disebut dengan cinta, aku telah jatuh cinta sejak lama kepadamu, El, kamu adalah alasan kenapa aku tetap di rumah ini... aku.. mencintaimu!" ucap Loren seraya berbisik di telinga Eliana.
Wanita itu tak menyangka kalau sudah sejak lama suaminya mencintai nya meski tidak tau perasaan seperti apa yang dia rasakan itu.
Loren mendekat, dia menyatukan bibir mereka, memulai permainan lembut di bibir ranum milik istrinya. Keduanya saling berpagutan, Eliana membalas ciuman Loren, membuat permainan mereka semakin panas.
"hahh... hah..." keduanya terengah-engah saat mulai kehabisan nafas. Mata mereka bertemu dan saling menatap.
"Ahahahahhaa....... Maafkan aku membuatmu sesak...aku bahagia!!!" ucap Loren sambil tertawa.
"Hahahhaa..... rasanya menyenangkan!" balas Eliana sambil tertawa.
Loren kembali menatap istrinya, dia tersenyum bahagia, dia mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Aku akan melindungi kalian, menjaga kalian dan akan selalu ada untuk kalian, aku mencintaimu, aku mencintaimu juga anakku," ucap Loren sambil mengusap perut rata istrinya.
Elina menangis terharu, dia menganggukkan kepalanya, senyuman yang telah lama hilang kini kembali lagi membuat hidup kedua manusia itu berwarna.
Loren kembali mengecup istrinya, membawanya berbaring, mengungkungnya dalam pelukannya. mengeksplor setiap inci bagian tubuh istrinya dengan penuh cinta.
"I Want you babe,"bisik Loren sambil mengigit kecil di bagian telinga Eliana.
"Emhh... take me Loren... Take me my Husband..." balas Eliana sambil merem4s rambut Loren untuk meredam perasaan meledak ledak dalam hatinya. Rasa yang dia dapatkan dengan permainan dilebur bukan karena Loren sedang kambuh tetapi dalam keadaan normal sebagai pasangan yang saling mencintai.
Mereka melakukan hubungan yang seharusnya mereka lakukan. Melakukannya dengan lembut dan penuh dengan cinta, menyalurkan hasrat mereka dengan berhati-hati karena ada janin yang sedang berkembang di rahim Eliana.
Loren melanjutkan permainan panasnya, dia memberikan sentuhan sentuhan lembut di bagian sensitif istrinya, membuat Eliana menikmati setiap permainan itu dengan bahagia.
"ahh... Loren..." gumam Eliana .
Mendengar suara indah istrinya membuat Loren semakin bersemangat, dia menatap wajah Eliana.
"Kau tau tidak El," ucap pria itu sambil mengusap bahu Eliana.
"tidak tau, " balas Eliana sambil tersenyum jahil.
Loren tekekeh," heheh... aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita pertama kali bertemu di halte bus satu tahun kalau sebelum aku menyelamatkan Ayah, saat itu kau sedang menemani seorang anak dikecil.yang tersesat, kau menemaninya sampai dia bertemu orangtuanya padahal bus mu sudah lewat," ucap Loren.
"Benarkah!?" tanya Eliana yang dibalas anggukan kepala oleh Loren .
"he..em, saat itu kau sangat cantik, tapi hati mu lebih cantik, aku berpikir, bagaimana bisa ada perempuan sebaik dirimu di dunia yang penuh dengan kejahatan ini, bahkan kupikir kau saat itu sudah gila sampai mau menunggu orangtua anak itu padahal bus mu sendiri sudah lewat," ucap Loren.
"Sejak saat itu aku penasaran dengan sosokmu, dan ternyata kita berjodoh, aku malah menyelamatkan ayahmu saat itu, lalu aku dibawa ke rumah ini, aku benar benar terkejut saat melihat dirimu di rumah ini, " jelas Loren sambil tersenyum mengingat masa lalu yang indah itu.
"hmmm tapi kau bahkan tak pernah menunjukkan wajah bahagia, wajahmu terus saja datar sama seperti dinding, rata tanpa ekspresi," celetuk Eliana.
"Hahahhaa.... kau tidak tau, aku sering mengurung diri di kamar karena tak bisa mengalihkan perhatian darimu, apalagi jika aku sedang berdebar debar aku akan sembunyikan diriku, karena kalau aku gugup wajahku akan memerah, itu sebabnya aku selalu membawa botol alkohol supaya dikira aku sedang mabuk padahal aku sedang malu, meskipun beberapa waktu aku memang mabuk benaran," ucap pria itu panjang lebar.
"hihihi.... kamu lucu juga hahhaha.... berarti setiap kali aku lewat, waktu aku duduk di dekatmu saat kau menawarkan minuman juga kau berdebar!?" tanya Eliana.
Loren mengangguk dengan wajah merona," iya hahahha...aku gugup seperti saat ini," ucap Loren.
Eliana tersenyum bahagia, dia menarik tengkuk suaminya dan mengecup bibir pria itu dengan penuh cinta.
"Kau menggemaskan, ternyata kau punya banyak kejutan hahahahha...." ucap Eliana sambil tersenyum bahagia.
Loren mengecup istrinya berkali kali, " Sayang, aku ingin melakukannya boleh kan!?" bisik Loren.
Eliana bersemu merah, dia mengangguk pelan sambil menutup wajahnya yang merona.
"Tapi pelan-pelan ya... ada baby," ucapnya sambil tersenyum malu.
Loren terkekeh bahagia, dia mengusap bagian bagian favorit nya membuat suasana semakin panas dengan kulit mereka yang saling bersentuhan.
Penyatuan seperti waktu itu akhirnya terulang, tapi kali ini berbeda, mereka melakukannya karena saling mencintai.
"Aku mencintaimu..."
.
.
.
like, vote dan komen 🤗