
Rena berjalan dengan langkah kaki yang cepat, dia baru saja dari pantri kantor untuk sekedar menyeduh kopi.
"Eli, kamu di panggil Pak Jeki, bagian HRD, sepertinya masalah itu semakin serius, kamu harus buktiin kalau kamu gak salah, jangan biarkan mereka menjelek jelekkan namamu!" Rena langsung duduk di samping Eliana yang sedang mengerjakan design proyek yang dia tangani.
"Pak Jeki? ahh baiklah, terimakasih Rena," ucap gadis itu. Dia memastikan filenya tersimpan dengan aman lalu beranjak dari sana dengan tenang sambil menggenggam ponselnya.
Rena menatap Eliana, dia jelas melihat aura gadis itu sedikit berbeda dari biasanya.
"Kenapa aku merasa kalau Eliana sedikit berbeda, auranya jadi aneh!" pikir Rena.
Gadis itu menatap ponselnya setelah Eliana pergi. Pesan masuk dari nomor yang dia tandai sebagai "Kanebo Kering" dibukanya dengan wajah cemberut.
"Maaf kakak belum bisa pulang, dia masih sakit Rena, Mom, Daddy dan kak Edward juga khawatir dengan dia, kalau kami kembali ke perusahaan dengan kondisi nya yang belum stabil, kakak takut yang tidak pernah kau pikirkan akan terjadi!" isi pesan dari si "Kanebo Kering" itu.
"huh... dasar, Mommy, Daddy dan kakak kan dokter hebat tapi kenapa menyembuhkan dia saja kalian tidak bisa, CK.. kak Edward juga bikin kesal, pesan Rena gak dibalas balas, kuadukan ke nenek Luna tau rasa!" kesal gadis itu sambil mengembang kempiskan pipinya.
Rena Eliza Park, putri kandung dari pasangan Otniel Park dan Chelsea, pasangan dokter yang fenomenal dan sangat dikenal oleh dunia karena kehebatannya. Keluarga mereka dikenal karena pendahulu mereka si bar bar Luna dan suaminya Gamaliel Park yang memiliki kisah menyentuh hati di masa lalu hingga saat ini mereka hidup dengan umur panjang bersama keluarga besar mereka.
Rena adalah anak kembar, dia memiliki kakak laki laki yang pekerjaannya sama dengan kedua orangtua mereka. Seorang dokter di kemiliteran dan kemampuannya bahkan sebanding dengan Kedua dokter veteran itu. Namun Rena hidup dengan menyembunyikan identitasnya sebagai anak dari pasangan dokter hebat itu. Dia memiliki satu orang kakak laki laki lagi yakni Edward Snowden Park, anak angkat Otniel dan Chelsea yang kini mengurus perusahaan nya sendiri.
Rena mengetik pesan di ponselnya dan mengirimkan pada sang kakak yang berteman baik dengan pemilik perusahaan tempat dia bekerja sekarang.
"Katakan padanya untuk segera datang di perusahaan, sudah setahun lebih dia hanya mengatur dari jauh, perusahaan perlu pimpinan, aku sudah mengantongi banyak nama pembuat masalah, kalian siap siap saja!" isi pesan Rena yang tegas dan dingin.
Sementara Rena berkutat dengan ponselnya, Eliana berjalan dengan segala rencana yang dia pikirkan dalam waktu singkat untuk membalas perbuatan semua orang jahat itu. Hanya dalam waktu singkat dia sudah memikirkan cara untuk melibas mereka semua dalam sekali pukul meski dia harus mengungkap jati dirinya yang sebenarnya.
Krekk... kretakk....
Eliana meregangkan sendi jari-jarinya, gemertak tulang tulang Eliana terdengar begitu renyah.
Dia masuk ke dalam ruang manager HRD, dia tau dia pasti dipanggil untuk hal ini dan dia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi masalah ini.
"Permisi pak," ucap Gadis itu yang membuat pria berkacamata dengan wajah oriental dan kulit kecoklatan di dalam ruangan itu mengangkat kepalanya dan menatap Eliana.
"Silahkan duduk Ibu Eliana," ucap pria itu dengan nada tegas sebagaimana biasanya.
Eliana duduk di depan Pak Jeki, manager HRD perusahaan itu.
"Anda pasti sudah tau kenapa saya memanggil Anda ke ruang disiplin, langsung saja pada intinya, penjelasan apa yang bisa anda berikan terkait masalah berita di forum perusahaan, berita ini sudah sampai kemana mana dan akan mempengaruhi citra perusahaan dan dampaknya bisa sangat besar," ucap Pak Jeki.
Eliana hanya diam, dia meletakkan flashdisk di atas meja Pak Jeki, tatapan matanya begitu datar dan dia terlihat berbeda dari biasanya.
"Saya pikir anda akan mendapatkan pencerahan setelah melihat ini, saya tidak salah apa pun dan saya hanya ingin membela diri, untuk citra perusahaan ini, saya memohon maaf kalau merusaknya," ucap Eliana.
"Isi Flashdisk dan berita besok pagi akan menjelaskan semuanya," ucap Eliana dengan yakin dan percaya diri. Namun meski terlihat percaya diri, tubuh gadis itu gemetaran, dia mencubit pahanya sendiri agar tidak takut dan melanjutkan rencana nya dengan baik.
"Apa ini?" tanya pak Jeki.
Eliana melirik jam tangannya, jam sudah menunjukkan jam pulang karyawan.
"Silahkan bapak cek sendiri, keputusan berikut nya ada di tangan bapak, saya menunggu kabar dari bapak, sudah jam pulang, saya permisi dahulu pak!" ucap Eliana sambil berdiri dan berpamitan dengan tatapan sedingin es di kutu Utara.
Pak Jeki terdiam membatu saat melihat Eliana yang dikenal pendiam dan seper robot itu malah terlihat sangat menyeramkan.
"Aku seperti sedang menghadapi atasan, menyeramkan, dia gadis yang aneh, apa dia punya kepribadian ganda!!!" pikir Pak Jeki sambil mengusap tengkuknya sendiri.
Eliana berjalan keluar dengan tubuh gemetaran, apa yang akan dia katakan pada ayahnya nanti jika pihak HRD mengambil tindak disiplin dan malah memecatnya dari pekerjaan ini, belum lagi kakak kakaknya pasti akan menghinanya apalagi tetangganya, jika mereka sampai tau ini semua maka dia bisa jadi bahan olok olok lagi.
"Aku harus kuat!" batin gadis itu, dia menelan air matanya sekuat mungkin, berusaha agar tidak hancur disana.
Rena yang melihat Eliana kembali langsung menghampiri gadis malang itu.
"El....kamu baik baik saja?" tanya gadis itu sambil menatap Eliana dengan tatapan merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa apa untuk sementara ini.
Eliana mengangguk, dia menatap Rena yang selalu ada disisinya. Meski mereka tak dekat tapi Eliana bisa tau kalau Rena itu tulus padanya.
Rena selaku berusaha mendekati Eliana tapi gadis itu yang memilih menutup diri dan malah berteman dengan manusia sejenis Yuni.
"Rena, mau tidak jadi temanku?" tanya gadis itu sambil menatap Rena yang lebih pendek dari dirinya. Jika dilihat dari jauh mereka berdua malah terlihat seperti kakak beradik.
Rena terkejut, ini kali pertama Eliana menatapnya seperti itu , gadis itu terkagum-kagum dengan wajah Eliana. Dia memang sangat menyukai Elina dan cara kerja gadis itu.
Eliana tersenyum lembut, Rena malah jadi salah tingkah saat melihat senyuman gadis di depannya itu.
deg deg deg
"Ka..kamu cantik sekali!!" puji Rena dengan tatapan berbinar binar saat melihat senyuman indah d wajah gadis itu.
"Kamu juga," balas Eliana seraya menepuk bahu Rena.
Rena hanya diam membatu, jika Eliana laki laki, bisa saja Rena akan jatuh cinta padanya karena sikap Eliana yang begitu keren dan menakjubkan.
"Waahh El... aku bisa jatuh cinta padamu kalau seperti ini!!!" celetuk Rena sambil menggandeng tangan Eliana dengan senyum bahagia.
"Jangan mengada ada, apa kamu pecinta sejenis!?" celetuk Eliana.
Lagi lagi Rena dibuat terkejut, dia pikir Eliana adalah orang yang dingin sampai tak atau cara bercanda, nyatanya Eliana orang yang asik.
"Kamu asik juga ya," ucap Rena .
"Tentu saja, aku hanya sedang bersembunyi saja," ucap Eliana.
"Mau minum bersamaku!?" tanya Eliana.
"Minum? minum apa!?" tanya Rena penasaran.
Eliana menunduk dan berbisik di telinga Rena.
"AL... KO...HOL!" bisik gadis itu sambil tersenyum licik.
"E...Elliana!!" Rena terkejut karena gadis itu malah mengajak minum alkohol.
"Heheh... sudah temani aku saja, aku akan memanggil seorang alkoholik, kau temani aku saja, aku ingin mabuk dan judi gila bersama teman pertamaku hari ini!" ucap Eliana sambil menarik Rena.
"Siapa sebenarnya gadis ini!!!? kenapa dia berbeda!!" piki Rena.
Sementara itu,
"Datang ke Restoran XX, dekat Alpha grup aku akan mabuk dan mengumpat bulan hari ini, kau harus membayar kesalahan mu kemarin!" Loren yang baru bangun dari tidur paling menyiksa itu menatap ponselnya dan membaca pesan dari Eliana.
"Mau apa dia? mengumpat bulan? " gumam Loren yang masih diikat dengan rantai besi.
"Dominique!" teriak pria itu.
"Tuan muda, kau sudah bangun!?" Dominique berlari dar ruangannya dengan wajah panik.
"Kenapa kau memanggilku tuan muda, Paman dan Bibi akan berpikir kalau aku menekanmu disini, dasar!" ketus Loren.
"Eh... hanya nyaman saja, aku harus menyembunyikan identitas ku, tak ingin terlihat orang lain lagipula sudah biasa, melihat kau begini pasti kondisimu sudah membaik, syukurlah," ucap Dominique.
" Terimakasih, aku terus merepotkan kalian, " ucap Loren.
"Bukan masalah, Mom dan Daddy sangat mengkhawatirkan dirimu, bahkan mereka lebih khawatir padamu daripada diriku, aku bisa apa selain memberikan yang terbaik," ucap Dominique.
"Maaf untuk wajahmu, " ucap Loren .
"bukan masalah, apa sudah bisa kulepas?" tanya Dominique dan dibalas anggukan kepala oleh Loren.
"Dominique, apa menurutmu aku berhak untuk jatuh cinta!?" Tiba- tiba pertanyaan itu keluar dari bibir pria itu. Sontak Dominique terdiam dengan pertanyaan Loren.
" Kau berhak, bahkan sangat berhak untuk itu!" suara bariton seseorang terdengar di ruangan itu.
"Da..Daddy!?"
.
.
.
like, vote dan komen 🤗