Hidden Mafia

Hidden Mafia
6. Selingkuh



Eliana berjalan dengan pelan. Dia terkejut dengan tindakan Loren saat di mobil tadi. Ketika Eliana hendak keluar dari mobil, Loren menahan tangannya dan memberikan tisu kering ke tangan Eliana.


"Kau tau kan fungsinya, keluarlah!" ucap Loren dengan nada dingin seperti biasa. Karena Loren jarang bicara, Eliana dibuat terkejut dengan perbuatan Loren yang tiba-tiba. Siapa sangka kalau pria pendiam dan misterius itu ternyata mempunyai sedikit sisi perhatian.


Loren memberikan tisu dengan wajah dingin tanpa ekspresi itu, lalu menyuruh Eliana keluar dari dalam mobil.


Eliana menghapus air matanya dengan tisu kering itu, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe.


Sementara itu Loren mengemudikan mobil barang menuju toko Pak Cipto, langganan lama mereka yang selalu membeli telor bebek dari peternakan pak Yanto.


Pria itu membawa mobilnya dengan tenang, berhenti di belakang tolong dimana transaksi biasa mereka lakukan.


Loren turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam toko kelontong tersebut.


"Pesanan Pak Cipto dari peternakan Pak Yanto," ucap pria itu sambil menaruh billing pembayaran di atas meja dan langsung keluar menuju mobil untuk mengangkat semua barang pesanan mereka.


"Aku selalu bergidik ngeri setiap melihat wajahnya!" bisik salah satu pelayan


"Dia selalu begitu, hanya berbicara dengan nada dingin dan tak punya ekspresi, bayangkan saja, pernah seorang pelayan disini menumpahkan air ke bajunya tanpa sengaja, " mata pelayan toko itu membulat.


"Kau tau apa yang terjadi!?" tanyanya pada rekannya.


"Apa? apa yang terjadi!?" tanya lawan bicaranya.


"Dia diam dan membuka kaosnya lalu membuang benda itu ke tempat sampah tanpa mengatakan apa pun, tapi wajahnya mengatakan segalanya, bisa saja pelayan itu di hari itu kehilangan nyawanya, sangat menyeramkan!" ucap pelayan itu.


"ihh... aku jadi merinding, diam lebih menyeramkan dibandingkan dengan orang yang langsung marah!" balas pelayan perempuan itu.


"Ya aku setuju, lebih baik kita jaga jarak, jangan sampai melakukan kesalahan!" ucapnya.


Mereka membantu Loren mengeluarkan telur telur itu dari dalam mobil. Jelas para karyawan toko itu menjaga jarak dengan Loren dan bekerja secepat mungkin untuk menghindari kontak dengan pria berkumis dengan rambut yang sudah cukup panjang itu.


"Kalau marah seharusnya bicara bukan dipendam!" gumam Loren yang bisa di dengar oleh para karyawan itu.


Mereka diam dan saling menatap satu sama lain, tak tau pada siapa pria itu berbicara tetapi mereka memilih diam daripada terkena masalah karena sembarang menjawab.


Loren menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan hati hati. Selesai mengangkat semua barang dia menemui bagian kasir.


Loren hanya berdiri sambil menatap Pak Cipto si pemilik toko yang sedang menghitung uang pesanan telurnya.


"Apa kami boleh utang?" tanya Pria itu.


"Berapa?" tanya Loren dengan datar.


"Total tagihan Rp. 4.750.000, aku akan bayar 2.000.000," ucap Pak Cipto yang mencoba bernegosiasi dengan pria di depannya itu.


" Tiga juta atau tidak sama sekali," ucap Loren dengan tegas.


Ptasss....


Bukan sekali dua kali Pak Cipto mendapatkan jawaban sarkastik dari pria di depannya itu. Dia sudah jelas tau bagaimana sifat Loren yang selalu bernegosiasi dengan cara yang unik.


Jika yang melayani Pak Yanto, mungkin pria tua itu akan memberikannya tanpa pertimbangan tetapi berbeda dengan Loren yang tidak bisa dibantah.


Dia tidak masalah jika harus membawa kembali barang barang yang sudah diturunkan, asalkan usaha di tempat dia bekerja berjalan lancar tanpa ada utang disana sini.


"Hahahaha... baiklah baik, kau sangat kaku, aku sudah tau ini jawabanmu, hari ini aku bayar lunas semuanya, katakan pada Pak Yanto aku mengucapkan terimakasih untuk pelayanannya," ucap Pak Cipto yang sebenarnya hanya mencobai Loren. Dia juga bukan tipe pengusaha yang suka berutang, jika bisa bayar maka dia akan bayar pada saat itu juga.


"Baik," Loren berjalan ke mobilnya lalu mengambil sekitar satu papan telur ayam kampung.


"Bonus dari pak Yanto," ucap Loren sambil meletakkan benda itu di atas meja dan mengambil uang pembayaran telor telor itu.


"Kalau anda sadar maka bayar Cash!" ucap Loren sebelum dia benar benar pergi dari toko itu.


Pak Cipto langsung tercekat saat mendengar balasan sarkas dari Loren. Sudah biasa mendengar bahasa kasar itu tapi nyatanya Pak Cipto selalu saja dibuat terkejut dan tak bisa membalas sama sekali.


"Ah.. hah... hahahah... anak itu benar benar datar, dari mana Pak Yanto mendapatkan karyawannya itu, luar biasa ..." Pak Cipto tertawa melihat bagaimana sifat Loren yang begitu dingin .


Sementara Loren melanjutkan pekerjaannya, Eliana memasuki kafe dimana dia akan bertemu temannya yang bekerja di perusahaan yang sama dengannya namun beda divisi. Mereka sudah biasa membuat janji temu, apalagi lokasinya di kafe dimana kekasih Eliana bekerja.


Eliana melangkahkan kakinya dengan yakin bahwa hari ini akan berlalu dengan baik. Tak masalah dia tak bisa bertemu dengan kekasihnya tetapi setidaknya hari ini dia datang ke tempat dimana kekasihnya bekerja, itu cukup melegakan karena Eliana bisa bertemu temannya dan jika beruntung bertemu kekasihnya disana.


"Hahahhahaha.... Kak Rico sih milih pacaran sama batu, kakak gak lihat ekspresi Eliana itu tiap hari selalu sama. Dia susah senyum, bahkan marah pun gak bisa, Kakak pacaran kok sama tembok hahhahaha..."


Langkah kaki Eliana terhenti saat mendengar namanya disebutkan oleh orang yang jelas jelas dekat dengan dirinya. Jantung gadis itu bagai berhenti untuk sekian detik, tubuhnya gemetaran namun dia tetap diam disana seolah menanti hinaan apa lagi yang akan dia dapatkan.


"ehh... heheh emang salah ya? tapi dia kan cukup cantik, gak bikin malu lah kalau dibawa kemana mana," ucap Rico.


"Meski lebih cantik Yuni sih," goda pria itu.


Eliana benar benar terkejut, padahal tadi kekasihnya membatalkan rencana mereka tapi nyatanya dia ada disini sedang menikmati waktu bersama orang yang dia anggap sebagai sahabat baik.


"Ihh... kakak bisa aja hahahha..." Yuni tersipu malu saat mendengar pujian dari Rico . Dia menangkap sosok Eliana yang berdiri di ujung pintu masuk kafe.


"heh sudah datang," gumam gadis itu dengan senyuman licik di wajahnya.


Yuni dengan sengaja berpindah ke samping Rico, duduk seraya bergelayut manja di lengan pria itu.


"Apa kakak akan beritahu Eliana tentang hubungan kita, aku gak mau dicap sebagai perebut pacar orang!" ucap Yuni dengan manja.


"Lagi pula meski Eli cantik, apa dia bahkan pernah mau mencium kakak? dia bahkan mungkin akan menolak untuk memanjakan kakak, Yuni nggak begitu, Yuni gak bikin bosan kok," ucap gadis itu dengan tatapan maut penuh rayuan.


"Kakak yakin kalau Yuni nggak seperti Eliana, dia memang sangat membosankan, jujur saja, kakak sudah tidak ingin punya hubungan dengan dia, perempuan itu sok munafik, saat kusentuh saja bahunya dia malah menghindar," keluh Rico.


"Eliana itu bagaikan sampel dari barang yang hanya kelihatan cantik di luar padahal isinya kosong, dia itu munafik, aku tidak tahan!" ucap Rico.


"Kalau begitu putus saja dengan dia kak," ucap Yuni.


"Nggak bisa, sebelum aku mengambil keuntungan aku belum bisa putus, enak saja dia, kami pacaran tapi aku belum dapat apa apa dari dia, setidaknya dia harus membuatku puas!" ucap Rico seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Yuni.


"Tak bisakah Yuni yang melakukan itu?" tanya Gadis itu dengan manja, sungguh pemandangan yang membuat perut orang mual.


Eliana tak tahan lagi, air matanya jatuh, dia berjalan ke arah mereka dan mendekati mereka dengan tatapan benar benar marah.


"Rico, Yuni jadi ini yang kalian lakukan hah!!!" Ini pertama kalinya Eli berteriak sekeras itu.


"E.. Eli!? kenapa kau disini!!!" Rico terkejut.


Byuurrr.......


Segelas air disiram ke arah salah satu dari mereka.


"Ka..kau!!!!


.


.


.


like, vote dan komen 🤗