
Langkah kaki ringan sepasang manusia yang terlibat tak lagi muda memasuki rumah mewah Loren. Mereka berdua sudah hapal dengan jadwal kambuh pria itu. Keduanya masuk sambil bergandengan tangan dengan mesra. Meski pernikahan mereka sudah 25 tahun berlalu, mereka masih saja mesra, tak kalah mesra dari orang tua mereka.
"Sayang, aku khawatir dengan Loren, kali ini dia pasti sangat tersiksa," ucap Ny. Chelsea istri tuan Otniel, pasangan paling heboh pada masanya.
Tuan Otniel menggenggam tangan istrinya," tenang sayang, Dominique ada disana, dia akan menjaga Loren dengan baik, Aku sedang berusaha mencari pengobatan untuk Loren, kuharap dia bisa semakin baik, " ucap pria itu.
Ny. Chelsea mengangguk paham. Loren sudah bersama mereka sejak sepuluh tahun lalu, mereka sudah menganggap Loren sebagai anak mereka sendiri, Loren kala itu menyelamatkan nyawa Dominique pada kejadian mengerikan yang hampir membunuh pria itu. Loren yang mereka temui dulu sangat kasar dan tidak punya hati nurani, namun kekuatan kasih sang nenek Luna membuat pria itu melunak perlahan lahan.
Mereka berdua mendengar suara Loren dan pertanyaan pria itu. Mereka tau jelas kalau selama ini Loren hidup dengan cara yang sangat mengerikan, hidupnya tak lebih dari sampah yang dibuang di jalanan, diinjak injak dan diludahi oleh orang orang yang mengaku sebagai keluarga nya.
Chelsea hampir saja menangis saat mendengar pertanyaan pria itu. Dia menahan dirinya agar tidak terlihat mengasihani Loren. Keduanya masuk ke dalam ruangan kamar Loren.
"Kamu berhak nak, kamu bahkan sangat berhak untuk dicintai dan mencintai," ucap Otniel yang sontak membuat Loren dan Dominique terkejut saya mendengar suara tegas pria itu.
"Daddy!?"
"Mommy!? kapan kalian datang, kenapa tidak menghubungi Dominique atau Rena!? kak Edward dimana kenapa kalian datang sendiri!??" Berbagai pertanyaan posesif keluar dari bibir pria itu. Dia benar benar terkejut melihat kedatangan tiba tiba orangtuanya.
"Mulai lagi, ngomel lagi, dasar cerewet!" celetuk Otniel sambil memberikan tatapan mengejek ke arah putranya.
Puk...
"Hushh kamu ini, putra kamu khawatir jangan diejek, kamu juga begitu kok dasar pak tua!" ketus Ny. Chelsea seraya menepuk bahu suaminya.
"Ehh hahaha...maaf maaf, habis nya dia selalu begitu, " ucap Otniel.
"CK.. Mon Dad, harusnya bilang biara Dom jemput, kalau begini kan...
"Sudah sayang tenang, gak apa apa kok, kami cuma mau melihat keadaan putra kami yang satu ini," ucap Ny. Chelsea sambil duduk di samping Loren dan menatap pria itu dengan penuh kasih. Satu satunya yang bisa dia berikan pada Loren adalah kasih sayang yang tulus yang tak pernah dirasakan oleh Loren sebelum nya.
Ny. Chelsea sebenarnya ingin menangis melihat tangan dan kaki Loren yang diikat seperti itu, tapi dia masih menahannya.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Ny. Chelsea dengan lembut.
"Loren baik kok aunty," ucap pria itu berusaha tersenyum walau sedikit.
"Boleh aunty peluk?" tanya Ny. Chelsea dengan mata berkaca-kaca Loren mengangguk, langsung saja Ny. Chelsea memeluk Loren dengan erat sambil menangis sesenggukan.
"maafkan aunty yang belum bisa menemukan obat terbaik untuk kamu sayang, maafkan aunty yang tak berguna ini, seharusnya kamu bisa sembuh tapi aunty... hiks hiks hiks....
Dia menangis sambil memeluk Loren. Wanita itu adalah perempuan kedua yang berhasil membuat Loren melunak setelah nenek Luna yang masih saja bar bar di usia nya yang tak lagi muda.
Loren membalas pelukan wanita itu," Bukan salah aunty, memang sudah nasib Loren seperti ini, Aunty nggak salah apa apa kok," ucap Pria itu seraya menepuk punggung Ny. Chelsea yang selalu merasa bersalah setiap melihat Loren.
"Dominique lepaskan dia," ucap tuan Otniel.
"Ah iya lupa, maaf," ucap Dominique yang langsung membuka rantai pengikat Loren.
Loren dilepaskan dari rantai pengikat itu. Ny. Chelsea langsung memeriksa tubuh Loren, dia menangis sedih melihat luka luka di tubuh Loren. Bekas luka yang baginya pasti sangat menyakitkan.
"Ahhh sayang.... maafkan Aunty, kamu melewati banyak hal menyedihkan," ucap Chelsea lagi.
"Mom jangan begini, kan tadi sudah janji, nggak nangis nangis lagi," ucap Otniel.
"Maaf, Aku sangat khawatir, apalagi dia tinggal jauh di kota ini, kita tidak bisa terus memantaunya aku hanya khawatir sayang," jelas Chelsea dengan rasa bersalah.
Loren menggenggam tang perempuan yang selalu memperlakukan nya dengan lembut dan berusaha memberikan kasih sayang padanya, padahal dia hanya orang asing yang melarikan diri dari kehidupan busuknya.
"Aunty, Loren baik baik saja, jangan menyalahkan diri Aunty, " ucapnya lagi.
"Haih... baiklah maaf maaf, aunty sudah tua makanya begini, sekarang kamu bangun dan ganti pakaian, biar aunty masakin sesuatu buat kamu, kamu pasti lapar, " ucap Chelsea yang langsung berdiri dan menahan tangisnya. Otniel menatap istrinya, dia tau kalau Chelsea berusaha menahan dirinya.
"Loren bersiaplah, setelah itu ke bawah, kamu haru makan," ucap Otniel sambil menepuk bahu pria itu.
"Baik uncle," ucapnya menurut. Jika orang orang di kampung tempat Loren tinggal selama ini mengetahui kalau pria itu juga bisa berbicara dengan lembut mereka pasti akan terheran heran dan tak percaya.
Loren menatap jam, dia mengingat pesan dari Eliana tadi, dia pernah melihat gadis itu minum tapi hal mengerikan terjadi. Eliana akan bertingkah gila jika sudah mabuk, dia akan sangat berbeda dengan dirinya yang pendiam.
"Semoga tidak ada masalah," gumam Loren yang dengan cepat melompat dan mengambil.pakaian ganti laku masuk ke kamar mandi.
Sementara itu di restoran XX Eliana sedang duduk berdua dengan Rena sambil berbincang bincang, lebih tepatnya Eliana banyak berbicara hari ini. Sepertinya gadis itu benar benar dibuat stress dengan kejadian hari ini sampai dia memilih untuk melakukan segala sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Rena menatap Eliana heran, di hari pertama mereka hang out, Eliana malah menjadi seperti orang yang kehilangan kewarasannya. Sejak masuk ke restoran itu, Eliana memesan satu meja penuh agar tak ada yang nimbrung dengan mereka, memesan banyak makanan dan semua minuman yang pernah dia lihat di minum oleh Loren.
"Heheh... Rena... Aku ini seorang pembawa sial, kenapa kau mau berteman denganku? kau lihat kan di kantor tadi, mereka mengejek dan memfitnahku dan menjadikan aku kambing hitam, hahahhaha... apa aku selemah itu? " gadis itu mulai meracau. Sejak tadi dia meminum semu minuman beralkohol itu tanpa henti.
Bercerita sambil menangis mengeluarkan semua uneg-uneg nya. Dadanya sesak dan ingin berteriak sekencang-kencangnya.
"El... cukup, kamu udah mabuk, jangan begini Dong, hari juga udah mulai gelap, jangan begini, kamu gimana pulangnya nanti!!" Rena tampak sangat khawatir.
"no... Aku sudah telpon si pria kosong, hehehhe... dia sama denganku Rena, kami... kami sama sama kosong, seperti bulan sialan yang jelek itu, ahahahah... kosong, tak berguna ... hiks hiks hiks... aku... tak berguna ya... ahahahha.... bodoh, Eliana bodoh!!!!" yang terdengar dari bibir gadis itu hanya racauan gila. Rena sejujurnya kasihan dengan Eliana. Sebelum mabuk, Eliana sempat bercerita sedikitpun rasa tentang bagaimana hidup yang dia jalani sejak ibunya meninggal Dunia.
Eliana merasakan bagaimana pahitnya menjadi anak yang ditolak dan dijadikan sebagai pelampiasan.
"Eliana!!" suara tegas seseorang membuat Rena terkejut. Namun Eliana malah melambai-lambai kan tangannya menatap pria yang baru saja tiba di restoran itu.
"Oh... hahahha... Hai.. Halo pria kosong...heheh... temani aku minum, kau kan jago minum ayo sini!!!" cerocos gadis itu.
"Ka...Kak Kiriye? kenal Eli!??"
"Kiriye? eng...eng.. bukan, dia Loren, bukan kiri kanan hahahha.. Loren... Loren Loren... Loren pria kosong... ahahaha... ayo kita umpat bulan sialan itu hahhaha....."
"Bodoh!"
.
.
.
like, vote dan komen 🤗