
"Kembalilah ke atas brankarmu Loren, dia akan bangun setengah jam lagi, biarkan dia beristirahat!" Xavier menegur Loren yang sejak empat jam yang lalu bangun dari tidurnya setelah mendapatkan perawatan duduk di dekat Eliana tanpa meninggalkan perempuan itu barang sedetik pun.
"Diam, lanjutkan pekerjaan mu jangan menggangguku!" balas Loren dengan tatapan datar dan dingin. Semua luka di tubuhnya sudah dibalut dengan verban, begitu juga dengan Eliana, pecahan beling dari punggungnya sudah diambil dan kini mereka berdua tinggal menunggu pemulihan secara total.
"CK... keras kepala!" umpat Xavier sambil melangkah keluar dari dalam ruangan itu. Dia mengusap wajahnya yang terkena Bogeman pria berbadan
tegap itu. Wajah Xavier terkena pukulan Loren tepat setelah Loren tau kalau Xavier yang mendorong Eliana dan mengunci gadis itu di dalam kamar Loren saat dia mengamuk semalam.
Beberapa saat lalu,
Loren bangkit dari ranjang nya dan langsung mencari keberadaan Eliana. Dia saat yang sama dia menangkap sosok Xavier dan Damian yang duduk berdiskusi di seberang brankarnya, dia juga melihat Eliana masih terlelap di brankar di sampingnya.
"Kenapa kau melakukan hal ekstrim itu Xavier, kau preman atau psikopat hah? kalau Gadis itu benar benar mati semalam apa kau bisa bertanggung jawab!??" Damian tampak sangat tidak senang dengan tindakan Xavier tadi malam. Saat Damian mengejar Eliana untuk mendampinginya, Xavier malah berlari terlebih dahulu dan mendorong gadis itu dengan sengaja ke dalam kamar Loren dan dengan resmi menyatakan kalau Eliana menjadi santapan empuk bagi Loren.
Dokter yang satu ini benar benar gila, dia dengan nekat menggunakan Eliana sebagai bahan percobaannya untuk menguji penyakit Loren.
Xavier hanya tersenyum tipis, seolah dia tak masalah dengan hal itu.
Loren yang mendengar hal itu murka, dia tak menyangka kalau Xavier yang justru mendorong Eliana masuk ke dalam kamarnya. Bagaimana jika Loren sampai membunuh Eliana saat itu, bagaimana jika Loren sampai membuat Eliana dalam bahaya yang lebih besar.
Dia dengan cepat melangkah dan menarik kerah Xavier, tatapan matanya mengatakan kalau dia benar benar marah saat ini. Xavier terlalu anggap enteng nyawa seseorang. Apa dia tidak memikirkan risikonya jika sampa Eliana mati di tangan Loren maka apa lagi yang akan tertinggal pada pria itu selain mengutuk dirinya sendiri karena kesalahan yang tanpa sadar dia lakukan.
Bughhh...
Loren dengan segenap kekuatannya menghantam rahang pria itu, membuat wajah Xavier terluka. dia memukuli Xavier seperti orang kesetanan.
"Beraninya kau melakukan hal itu pada Eliana, apa kau tidak tau risikonya bangsat!?? kau hampir membuatku menjadi seorang pembunuh, kenapa.kah melakukan itu katakan alasanmu sialan!!!!" pekik Loren seraya mencengkram kerah baju Xavier, tatapan matanya mengatakan segalanya bahwa dia dalam k
mode marah saat ini.
Xavier menyunggingkan bibirnya,"Aku melakukannya sebagai bahan percobaan, tak kusangka akan berhasil menenangkan seorang Loren!" ucap Xavier yang tak gentar sedikitpun dengan pria di depannya itu.
"Bahan percobaan hah!??apa kau pikir hidup seseorang itu segampang yang ada dalam otakmu itu sialan!!!" Loren marah, dia benar benar tak menyangka kalau Xavier bahkan lebih gila dari kakeknya, Aiden yang pernah menghajar seorang anak di depan kedua orangtuanya karena telah membully Emily. Kala itu Aiden melakukan hal yang sama pada orang itu bahkan membuatnya merasakan kejamnya keluarga Maurer.
"Heh... asal kau tau, aku sudah mengawasi kalian sejak kau pindah ke rumah itu Loren, dan perkembangan penyakit mu sangat pesat, sejak dekat dengan gadis itu alkoholik mulai berkurang dan perkembangan kognitif mu semakin baik!" ucap Xavier.
"Apa maksudmu!?" Loren menatap Xavier dengan tatapan penuh pertanyaan bahkan Damian sama penasarannya dengan pria itu.
"Gadis itu adalah jawaban dari penyakitmu, kau perlahan lahan membaik setelah bertemu dengan dia dan keluarganya, meski tak terlihat secara langsung, tetapi efek yang ditimbulkan sangat baik, gelombang otakmu mulai stabil dan kau pasti mulai merasa nyaman dengan jantungmu bukan? itu semua setelah kau memahami apa yang di sebut dengan keluarga dan kasih sayang!" jelas Xavier.
"Tetapi kejadian seminggu lalu membuatku bertanya-tanya kenapa kau tiba tiba terikat lagi dengan alkohol sialan itu!? ternyata kau bermasalah dengan dia, kau mengamuk dan kambuh bahkan lebih lama dari sebelumnya, dan kau tau, saat aku menunjukkan foto gadis itu, kau terdiam dan berhenti untuk beberapa menit,itu sebabnya aku meminta Rena untuk membohongi gadis itu agar dia datang mencarimu," ucapnya sambil menatap Eliana di atas brankar.
"Tak kusangka dia melakukan hal itu, dia mencarimu dan langsung datang ke alamat yang diberikan oleh Rena, ternyata dia melakukan hal itu hanya demi dirimu, dia menghadapi segala risiko yang mungkin akan dia dapatkan termasuk kehilangan nyawanya, aku dengan jelas melihat kalau dia gemetar, tapi dia mengumpulkan keberaniannya untuk masuk dan menemuimu, dan yang kulakukan hanya mempercepat proses ya!" ucap Xavier.
"Tapi dia terluka, dan aku... aku sudah merebut sesuatu yang berharga baginya, aku akan jadi pria kurang ajar yang memperkosa seorang gadis ketika penyakitku kambuh, kau tak memikirkan perasaan nya!?" kesal Loren.
"CK... terserah, aku tau kau pasti sedikit senang, dia sudah jadi milikmu, maka untuk menebusnya kau lakukan saja yang terbaik untuk melindunginya, bukankah mudah?" celetuk Xavier.
"Xavier bangsat, dasar pria bajingan, semoga kau mengalami hal yang lebih mengerikan agar kau paham betapa berharganya seseorang seperti Eliana!" kesal Loren.
Kembali ke masa kini, Loren duduk dan mengusap wajah perempuan itu, dari tatapannya jelas dia sangat sedih dan khawatir. Bagiamana Eliana akan menghadapi nya nanti, apa yang akan Eliana pikirkan tentang dirinya nanti setelah kejadian malam itu, apakah Eliana akan trauma dan malah pergi? pertanyaan pertanyaan itu berputar putar di kepala Loren.
"Aku menjadi pria berengsek yang membuatmu kenangan segalanya, Eliana... bagiamana aku akan menebusnya? aku bodoh kan? aku memang berengsek kan? maafkan kau El... "Ucapnya dengan perasaan yang benar benar tulus.
Tangannya terus menggenggam tangan perempuan no itu dengan erat, tak sekalipun dia tinggalkan gadis itu disana.
"Bagaimana aku akan bertanggung jawab untuk semua kesalahan ini El? aku menyesal telah masuk ke dalam kehidupanmu, seharusnya aku tetap di habitatku dan hidup seperti aku dulu, apa aku terlalu serakah mengharapkan kebahagiaan sampai aku benar-benar melukai orang sepenting dirimu?" lirih Loren.
Dia terus duduk disana, Damian dan Xavier sudah memintanya untuk berbaring, tapi dia adalah orang yang keras kepala.
Hingga Eliana bangun dari tidurnya, matanya menyelusuri ruangan itu, dia tau kalau tempat itu adalah rumah sakit. Dia merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Eliana menatap sosok pria itu, "Loren? Kau kan itu?' ucap gadis itu.
"Eliana!!".
.
.
like, vote dan komen 🤗