
Author pov
Lama Via hanyut dalam pikirannya sendiri sampai suara ketukan beruntun mengganggu lamunannya. "Mommy,mommy,mommy" suara lantang Jill dan Jo bergantian. Via segera keluar.
"Hai, anak-anak ibu", sambut Via.
"Moms, Jill lapar"
"Jo juga"
Via mengangguk tersenyum. "Sayang, anak-anak ibu, bolehkah ibu meminta kalian jangan memanggilku mommy. Panggil saja ibu bagaimana ?"
"Kenapa begitu mom ?" tanya Jill polos.
"Karena ibu kan pengasuh kalian. Kalau kalia. memanggilku mommy, pasti orang mengira aku mommy kandung kalian, istri daddy kalian. Nanti kasihan daddy kalian susah mendapat jodoh",jelas Via mengutarakan perasaan hatinya.
Jo dan Jill saling bertatapan.
"Emh, ibu akan membuat makanan tapi kalia. harus memanggilku ibu, ibu Via. Kan arti kata ibu juga sama denga arti kata mommy. Begitu bagaimana ?" lanjut Via
"Iya ibu Via", jawab Jo dan Jill serempak akhirnya paham.
Ketiganya turun ke lantai pertama dengan menggunakan lift. Sebenarnya Via agak canggung tapi Jo menarik paksa lengan Via. Dan Via tidak dapat menolak karena satu lengannya menggendong Jill.
Saat turun Via melihat banyak sekali makanan terhampar diatas meja. Makanan sudah siap, jadi aku tidak perlu memasak, batin Via.
Via melongo. Padahal semua makanan ini tampak mewah dan lezat, tapi si kembar malah tidak mau.
"Kenapa tidak mau sayang ? Sayang lho semua makanan ini mubazir kalau tidak dimakan." Jill tetap menggeleng
"Jill dengarkan ibu ya, diluar sana banyak lho orang yang susah untuk makan. Harus bekerja keras kalau ingin makan. Padahal cuma makan nasi dan telur saja sudah setengah mati rasanya bekerja. Kalau Jill tidak mau makan, makanan yang dimasak koki mubazir. Kan kokinya juga sudah berusaha keras memasak", terangku selembut mungkin sambil membelai kepala Jill. Lalu kepala Jo.
Si kembar tampak berpikir.
"Bagaimana kalau kita makan ini dulu ? Untuk makan selanjutnya ibu akan bilang koki bahwa ibu yang akan memasak untuk kalian. Bagaimana ?" rayu Via.
"Baiklah bu, tapi suapi ya", sahut Jo berseri. Tak lama kemudian Jill pun mengangguk sambil tersenyum.
Via tersenyum senang. Dengan cekatan Via menata makanan di piring. Agar memberi kesan yang berbeda, Via mencuci tangannya, berniat menyuapi si kembar langsung dengan tangannya. Lagipula Via memasukan menu ikan di piringnya.
Awalnya si kembar agak sanksi saat Via menyodorkan tangannya yang sudah berisi nasi, lauk, dan sayur. "Buka mulut, ak " perintahku pada Jo.
Ragu-ragu Jo membuka mulut dan tanganku menyuapkan makanan ke mulut kecil itu. Untuk suapan selanjutnya Jo dan Jill malah rebutan makan dari tangan Via. Tanpa sadar piring ketiga si kembar tandas. Jo dan Jill bersandar di sandaran kursi karena kekenyangan. Tiba-tiba Jo bersendawa. Keduanya saling berpandanngan lalu tertawa.
Melihat si kembar tertawa lepas, Via pun ikut tertawa. Si Kembar memang sangat lucu dan menggemaskan.
Tanpa disadari aktifitas ketiganya diawasi Jac lewat cctv yang terhubung langsung le ruang pribadinya. Sudut bibir Jac terangkat. Suasana hatinya menghangat. Entah mengapa baru kali ini ia melihat twins tertawa lepas. Biasanya hanya untuk makan, pengasuh Jo dan Jill harus lari-larian. Sebelum Via, pengasuh Jo dan Jill ada 2 orang karena menghadapi Jo dan Jill membutuhkan tenaga ekstra. Jill yang kelewat manja dan sering rewel sedangkan Jo yang sangat keras kepala. Tapi sore ini twins tunduk pada seorang gadis. Makan dengan tenang di meja makan. Dan banyak sekali makanan yng dihabiskan