
Via sudah siap untuk segera membangunkan si kembar. Pertama kamar Jo. Setelah Jo bangun dan mandi sesuai instruksi bahwa Jo mandi sendiri, Via melesat kekamar Jill. Jill bangun dan menurut saat Via memandikannya lalu mendandaninya. Setelah selesai, Via membawa Jill dalam gendongannya ke kamar Jo. Melihat Jo yang sudah berpakaian, Via mendudukan Jill di tepi ranjang. Membantu Jo merapikan pakaian dan rambutnya. Keduanya sudah siap untuk sarapan pagi.
Begitu ketiganya sampai di lantai pertama, Mr. Jac sudah duduk di kursinya. Baru saja dengan anggun akan menyeruput kopinya, mata tajam Mr. Jac melebar menatap twinsnya sudah siap dengan tas sekolah. Sangat rapi. Cangkir itu langsung kembali keletaknya semula. Tidak biasanya twins bisa begitu siap berangkat sekolah tepat waktu.
Via membisikan sesuatu ke telinga si kembar bergantian. Dan setelahnya si kembar menghambur pada Mr. Jac. Jill yang sudah menarik dasi ayahnya, membuat Mr. Jac harus berjongkok untuk menyamai tinggi putrinya. Begitu berjongkok, Jo dan Jill kompak memeluk dan mencium pipi ayahnya kanan dan kiri seraya berucap, "morning daddy". Mr. Jac ternganga sempurna melihat tingkah twinsnya pagi ini.
"Ayo sarapan sayang", ujar Mr.Jac seraya menggendong twins langsung dalam satu kali angkat. Tentu bukan hal yang sulit melihat proporsi tubuh Mr. Jac. Mungkin berat twins hanya seringan kapas.
Begitu twins duduk di tempatnya. Via menyajikan dua piring khusus untuk si kembar. Lagi-lagi Mr. Jac terpana. Menu twins berbeda dengan menu yang terhidang di meja. Mr. Jac menatap piring anak-anaknya yang berisi setangkup kecil beras merah, filet ikan, dadar gulung, dan sayuran. Mata twins langsung berbinar senang dengan menu di depannya. Anaknya langsung makan dengan lahap. Bahkan sayuran pun masuk ke mulut mereka dengan lahap.
Sebenarnya Jac sudah hendak protes melihat menu anaknya yang berbeda. Tapi melihat proporsi gizi yang tersaji, mengurungkan niat Jac. Lagipula anaknya makan dengan sangat lahap.
Begitu twins selesai makan, Via mendekat untuk menyeka sisa makanan di mulut si kembar. Pertama Jill. Kemudian Jo. "Bu, ibu tidak lupa bekal kami kan ?" tanya Jill riang.
Via menggeleng sambil tersenyum. Segera Via mengambil dua kotak bekal dan memasukkannya pada masing-masing tas si kembar.
Mr. Jac dan kedua putranya sudah berada di dalam mobil. "Daddy..." suara manja Jill memecah keheningan.
Mr. Jac menoleh. Ekspresinya seperti bertanya, "ada apa?"
"Kenapa ?"
"Ingin saja dad. Teman-teman Jill selalu diantar sekolah oleh mommy", celotehnya.
Dahi Mr. Jac menggeryit. Baru kali ini putrinya mengutarakan hal seperti itu. "Baiklah", jawab Jac akhirnya.
"Bolehkah daddy melihat kotak bekal kalian ?", tanya Jac yang penasaran, agak khawatir dengan gizi anaknya.
Dengan cekatan Jill mengambil kotak bekalnya, membuka dan menunjukan isinya pada ayahnya. Terlihat sandwich gandum isi telur, daging, dan sayuran berukuran mini yang sepertinya dirancang agar bisa dimasukan satu kali suap oleh anak kecil. Mungkin untuk menghindari belepotan anak-anak. Kemudian ada potongan-potongan buah, dan susu kotak. Gizi seimbang, begitu pikir Jac. Pandangannya beralih pada Jo. Dan Jo melakukan hal yang sama. Isi kotak bekalnya sama.
Mr. Jac mengangguk-anggukan kepalanya.
Sesampainya di kantor, Mr. Jac menginstruksikan Ken untuk menghubungi Pak Gim.
Dari percakapan tersebut, Mr. Jac mengetahui bahwa menu yang disajikan adalah permintaan twins sendiri. Termasuk kotak bekal. Pak Gim mengatakan bahwa twins ingin seperti teman-temannya di sekolah yang selalu dibawakan bekal oleh orang tua mereka. Menu dan bekal pun sudah ditinjau langsung oleh Pak Gim sebelum disajikan sendiri oleh pengasuh baru twins.