Hi Mr !

Hi Mr !
Obat mujarab



Ragu-ragu Via membangunkan majikannya. Tapi bagaimanapun Mr. Jac harus segera minum obat penurun panas. Dan untuk minum obat harus makan terlebih dahulu. Akhirnya Via memberanikan diri menggoyangkan badan Mr. Jac agar bangun.


Setelah beberapa kali guncangan dibantu Jo dan Jill, akhirnya Mr. Jac membuka mata. Tampak matanya benar-benar berat untuk terbuka. Segera Via tanggap untuk menata bantal sebagai sandaran tuannya. "Maaf Mr. Jac, anda harus makan dan minum obat. Jo dan Jill sangat khawatir terhadap anda", ucap Via halus memberi penjelasan. Jaga-jaga kalau Mr. Jac akan marah.


Mungkin karena terlalu lemas, Mr. Jac hanya mengangguk lemah. Bahkan Mr. Jac tidak sadar ada kemeja yang terpasang di badannya. Melihat ketidakberdayaan Mr.Jac, Via memberanikan diri untuk membantu Mr. Jac minum. Hawa panas merayapi lengan Via yang menopang tengkuk Mr. Jac. Hembusan nafasnya pun terasa panas.


Setelah minum beberapa teguk, Via memberanikan diri menyuapkan bubur kepada Mr. Jac dan tidak ada penolakan. Pada suapan kelima tangan Mr. Jac menahan sendok Via agar berhenti. "Satu ini saja tuan, satu sendok ini setelah itu berhenti", rayu Via. Dan berhasil. Lima sendok bubur masuk.


Setelah menelan obat penurun demam. Via kembali menata bantal dan menyamankan tidur majikannya. Mr. Jac sama sekali tidak menolak. Selimut tebal membungkus badan Mr. Jac. Sementara itu, Jo dan Jill anteng memperhatikan pengasuhnya yang sedang merawat ayahnya.


"Jo dan Jill ikut berbaring disini ya. Temani daddy", pesan Via sembari mengganti kompresan di dahi Mr. Jac dan pergi mengembalikan peralatan makan.


Jo dan Jill mengangguk patuh. Membaringkan badan kecil mereka, memeluk ayahnya di kanan dan di kiri.


Via segera kembali lagi ke kamar. Via duduk di kursi pendek di samping ranjang. Menjaga dan mengganti kompresan Mr. Jac. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah 12 siang. Si kembar bahkan ikut tertidur bersama daddy-nya.


Via berinisiatif membawa makanan ke kamar Mr. Jac agar si kembar bisa makan di dekat daddy-nya. Setelah makanannya siap, Via membangunkan Jo dan Jill untuk makan siang. Jo dan Jill patuh menurut pada Via. Makan dalam diam di dekat balkon dengan Via menyuapi mereka. Agaknya Jo dan Jill ikut lesu karena daddy-nya sakit. Pandangan mereka tidak lepas mengarah pada ranjang besar itu. Via terdiam memperhatikan tingkah si kembar.


Segera Via mengulangi aktifitas awalnya tadi. Menyeka keringat dengan handuk basah, mengganti pakaian serta selimut. Kali ini lebih cepat agar si empunya badan tidak bangun di saat yang tidak tepat.


Baru saja Via hendak menarik diri setelah memasang selimut, tiba-tiba satu tarikan membuatnya jatuh dalam dekapan Mr. Jac. Mr. Jac memeluk erat badan Via, menenggelamkan wajah Mr. Jac yang panas ke dada Via. Tentu Via langsung berontak. "Tuan, sadar Tuan. Mr. Tolong", Via berusaha melepaskan lengannya yang terkunci lengan besar Mr. Jac.


"Jangan pergi Anne, kumohon", erang Mr. Jac.


"Daddy sedang merindukan mom, bubu. Tolong peluk saja daddy agar daddy nyaman beristirahat bu", pinta Jo kali ini.


Akhirnya Via menyerah. Bagaimanapun meski sakit, porsi badan besar Mr. Jac tetap mengalahkan tenaga Via. Apalagi ucapan Jo membuat Via sadar seberapa dewasanya Jo dibalik tubuh anak-anaknya. Jo dapat mengerti apa yang dirasakan daddy-nya meski dari luar Jo terlihat dingin pada ayahnya.


Dan dua jam berlalu tanpa bisa bergerak dilalui Via dengan tersiksa. Selain merasa panas dan lengket akibat keringat dari Mr. Jac, Via juga merasa sangat lapar. Karena dari tadi pagi Via belum sempat makan. Jo dan Jill juga kembali terlelap sambil memeluk punggung daddy-nya. Jill memeluk Mr. Jac dan Jo memeluk Jill.


Hari ini bahkan aku punya 3 bayi. 2 balita dan sati bayi besar, kekeh Via dalam hati menatap pemandangan di depannya. Pikirannya melayang pada masa kecilnya. Saat sakit seperti ini, pelukan dari neneknya adalah obat mujarab yang selalu berhasil membuat Via sembuh.