Hi Mr !

Hi Mr !
Masih kelanjutan hari libur



Jac menyadari kegusaran Via. "Kenapa ?" tanyanya saat akan mengambil sepeda.


"Emh, maaf Mr. saya tidak bisa main sepeda", ucap Via tertunduk. Takut dimarahi.


Jac pun menghela nafas. Dan satu ide terbesit di otaknya. "Kau tahu kan menjadi pengasuh twins harus serba bisa. Meskipun hal remeh seperti ini. Kau juga harus ikut kemanapun twins pergi. Kau harus banyak belajar mulai sekarang", rentet Jac mulus.


Via semakin tertunduk. Harusnya dulu aku patuh saat kakek mengajariku naik sepeda, rutuk Via dalam hati.


"Lari lah", perintah Jac.


Via hanya bisa menghela nafasnya. Akhirnya Jac, Jo dan Jill bersepeda. Sementara Via lari di belakang. Tentu lari adalah hal gampang. Tapi jadi susah saat stamina tidak mendukung. Apalagi bagi Via yang tidak pernah olahraga. Baru setengah lapangan Via ngos-ngosan. Tapi Via masih berusaha untuk melajukan kakinya. Nafasnya mulai tersengal. Via sudah beberapa kali berhenti.


Jac menyadari hal itu. Jac memberi instruksi pada Jo dan Jill untuk lanjut bersepeda. Sementara Jac mengayuh sepedanya kearah Via. Jac memarkiran sepedanya kemudian menarik lengan Via. "Kau benar-benar payah", sindir Jac saat Jac berusaha membuat Via untuk terus berlari.


Karena kaget dengan tarikan Jac yang tiba-tiba dan kalimat sindiran barusan, membuat kaki Via tersandung oleh kakinya sendiri. Dan Akh..! Via terjerembab di tanah.


Jac melongo langsung menarik Via agar terduduk. "Bubu !!!", teriak Jo dan Jill yang ternyata sudah mendekat ke arah Via dan Jac.


Jac melihat noda gesekan di lutut Via dan dapat dipastikan akan ada memar di lutut Via esok pagi. Jac menarik kaki Via agar lurus. Si empunya hanya bisa meringis saat pergelangan kaki kirinya ditarik. Jac menarik kuat pergelangan kaki kiri Via menimbulkan bunyi kratak cukup keras. Via berteriak.


"Daddy mematahkan kaki bubu", lontar Jill.


"Tidak sayang", jawab Jac santai. "Inilah akibat kalau tidak pemanasan sebelum olahraga. Dan kurang olahraga sayang. Otot menjadi keseleo.", terang Jac pada twins sekaligus menyindir Via.


Via mencobanya dan benar sudah tidak terlalu sakit meski masih sedikit nyeri.


"Minta obat nyeri pada Pak Gim. Ayo anak-anak sudah mulai sore. Waktunya mandi"


"Bubu ?", tanya Jo dan Jill kompak saat melihat daddy nya sudah berdiri sementara Via masih terduduk.


"Bubu naik sepeda daddy. Ayo kayuh sepeda kalian duluan", jawab Jac.


Jo dan Jill patuh. Tinggal Via yang sedang mencoba berdiri dan Jac yang datang menghampiri membawa sepeda. " Naik !" perintah Jac memberi kode untuk duduk menyamping di kerangka sepeda yang lurus antara stang dan dudukan.


"Saya sudah bisa berjalan Mr", jawab Via tak ingin merepotkan Jac. Cukup sudah ia membuat masalah hari ini.


"Cepat !" perintah Jac tidak sabar.


Karena Via masih mematung Jac menarik badan Via dan mendudukan tubuh ringan itu di depannya. Jac langsung mengambil posisi mengayuh dengan Via duduk menyamping di depannya.


Via termangu. Tubuh kecilnya terkungkung oleh lengan berotot milik Jac. Deru nafas Jac menerpa telinganya. Kalau saja Jac menunduk pasti Jac bisa melihat wajah Via yang memerah. Lagi-lagi posisi ini sangat intim dan cocok untuk sepasang kekasih bukan untuk pelayan dan majikannya. Via segera menyadarkan dirinya.


Begitu sampai Via langsung berterima kasih dan menghilang dibalik pintu. Meskipun kakinya masih sakit tapi lebih baik di tahan daripada harus bertatap wajah dengan Mr. Jac dengan wajahnya yang memerah.