Hi Mr !

Hi Mr !
Suara perut



Jac kembali dari alam mimpinya karena mendengar suara gemuruh dekat dengan telinganya. Jac juga merasa badannya sangat gerah tapi terasa ringan daripada semalam. Tepat ketika membuka matanya, Jac mengamati kain putih dan benda kenyal yang bergesekan langsung dengan wajahnya. Beberapa kali Jac mengerjapkan mata dan seketika kaget menyadari bahwa wajahnya tenggelam di dada seorang wanita. "Aaagh !!!", Jac langsung terjingat dari posisnya tanpa sadar mendorong tubuh di depannya sampai terjatuh di lantai.


"Daddy !!!!!", jeritan Jill yang membuat Jac langsung menoleh mendapati Jill dan Jo terdorong oleh punggungnya. "Aawh sakit daddy",rintih Jill yang lengannya sempat tertindih tubuh Jac. Jac langsung pias.


"Maafkan daddy sayang", Jac mengusap siku Jill.


Sepersekian detik berikutnya Jo berteriak, "Apa yang daddy lakukan pada bubu !"


Jac pun langsung menoleh ke belakang mendapati pengasuh si kembar terduduk di lantai sambil memegang pinggang dan Jo mendelik marah padanya.


"Cepat tolong bubu dad !!!", perintah Jo dengan amarah meluap-luap.


Masih setengah bingung, Jac segera turun dari ranjang mendekati Via. "Ada yang sakit ?", tanya Jac sambil meraih badan Via. Secara refleks Jac menarik tangan Via yang memegangi pinggang, serta mengangkat baju atasan Via, dan terlihatlah bekas memerah di pinggang Via. Agaknya pinggang Via menabrak ujung nakas saat terdorong tadi.


Jac segera mengangkat Via ke ranjang, berlari ke kamar mandi mencari salep. Memaksa Via tengkurap dan mengoleskan salep itu ke pinggang Via. Ada sengatan listrik ketiga jari Jac mengoleskan krim penghilang nyeri itu di permukaan kulit Via.


Dan saat itu pula, kembali terdengar suara gemuruh cukup keras sehingga suasana hening sesaat. "Hei, itu suara perutmu !", tegur Jac.


Via yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat perlakuan Mr. Jac langsung turun dari ranjang sembari membungkuk-bungkuk meminta maaf pada Jac. Via malu setengah mati lari terbirit-birit meninggalkan kamar Jac. Astaga. Kenapa kau berbunyi sekeras itu di waktu yang tidak pas, kutuk Via dalam batinnya.


Sementara Jac terus menatap bahkan sampai Via hilang dibalik pintu.


"Bubu memang belum sempat makan dad", jelas Jill tanpa diminta.


Dahi Jac mengkerut. "Bubu menjaga daddy dari pagi sampai sore", lanjut Jo kemudian.


Jac berusaha menalar ucapan putranya. Jac baru sadar ada kemeja yang terpasang di badannya, handuk basah di ranjang, dan baskom di nakas. Jac juga melihat onggokan selimut dan kemejanya yang lain di sudut kamar dekat kamar mandi. Gadis itu merawatku. Dan aku malah melukainya. Lagi, batin Jac.


Jac segera mandi air hangat untuk penyegaran setelah memastikan kedua anaknya sudah makan siang. Perut Jac juga keroncongan setelah mandi. Entah mengapa Jac ingin makan bubur ayam.


20 menit kemudian,


Tok,tok,tok.. suara ketuka di pintu kamar Jac.


"Masuk"


Pintu terbuka memperlihatkan sosok Via membawa nampan berisi bubur dan gelas air.


"Pesanan anda Mr", sapa Via sopan. Berusaha menutupi kegugupannya karen kejadian barusan.


"Ke balkon", singkat Jac. Dan Via langsung menghidangkan menunya di atas meja balkon.


"Duduklah", perintah Jac saat menikmati suapan pertamanya. Rasanya enak. Gadis ini pintar memasak. batin Jac


Via hanya menunduk duduk di depan Jac.


"Kau sudah makan ?"


"Su, sudah tuan. Mister", jawab Via tergagap.


"Terima kasih dan maafkan aku", seketika itu kalimat Jac membuat Via mengangkat wajahnya. Suatu kalimat yang tidak diperkirakan oleh Via. Wajah Jac lebih hangat dari biasanya.


Ggggrrwwwwghhh..... Tiba-tiba suara perut Via berbunyi lagi.


"HAHAHHAHAHAHHA.....", Jac tertawa lepas dan keras.


Via benar-benar mati kutu. Langsung saja Via mengeluarkan jurus membungkuk-bungkuk sembari minta maaf dan berlari keluar.