
Begitu sampai di depan pintu..
Ketukan tanganku mengambang saat melihat pintu itu sedikit terbuka. Tapi demi etika pelayanan kuketukan tanganku. Sudah tiga kali mengetuk dan tak ada respon, kuberanikan diri masuk.
Selangkah kakiku masuk kuperhatikan sekeliling. Wow ! Kamar ini sangat luas dan eksklusif tentunya. Ada ruang tamu cukup luas, ruang rapat yang menjadi satu dengan ruang kerja, minibar, pantry, bahkan yaps aku melihat piano di dekat jendela balkon. Interiornya pun sangat elegan. Perpaduan warna monokrom dengan lightening yang sempurna.
Kepalaku menoleh saat terdengar suara rintihan pelan. "Aargh..." Entah mengapa kakiku langsung bergerak menuju asal suara.
Terlihat seorang gadis kecil berambut blonde berada di atas ranjang besar dengan posisi hendak menggapai air minum di atas nakas. Hampir saja si kecil jatuh kalau badanku tidak cepat sampai saat tubuh ringkih itu limbung. Segera kubalikan tubuh kecil itu dalam dekapanku dan kusodorkan gelas ke bibirnya. Gadis itu mereguknya pelan-pelan. Panas tubuhnya terhantar sempurna ke tubuhku.
"Cukup ?" tanyaku pelan dan gadis itu mengangguk lemah. Ku letakan kembali gelas itu sembari membaringkan kepala si kecil tanpa mengubah posisi dudukku di tepi ranjang. Dan saat itulah tatapan kami bertemu. Entah mengapa si kecil ini langsung memeluk pinggangku erat. "Mommy..." isaknya. Agaknya menangis karena kurasa ada cairan hangat terserap bajuku.
Meski agak bingung tanganku refleks mengusap punggung gadis itu agar segera tenang. Setelah agak tenang, tiba-tiba gadis kecil itu melepas pelukanku dan menghambur mengguncang tubuh kecil lainnya yang ternyata seorang bocah laki-laki. Tidur tepat di sebelah gadis kecil tadi. Aku sendiri baru menyadari hal itu. "Kak Jo, Mommy Kak ! Bangun cepat !" serunya kencang sampai di akhir kalimat suaranya serak agak hilang.
Perlahan si bocah kecil tadi terbangun, mengucek matanya dan saat mata itu terbuka sempurna, mimik wajahnya terperangah melihatku. Apa aku hantu ? Mengapa bocah ini melongo begitu, batinku.
Beberapa kali si bocah kecil itu mengerjap dn mengucek matanya lagi. Mungkin berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah kuperhatikan, aku menyadari kedua anak itu kembar. Kembar laki-laki dan perempuan. Aku terpukau karena baru kali ini aku melihatnya secara langsung dengan mataku. Biasanya aku hanya melihat lewat foto di internet.
Si bocah lelaki tampak berpikir. Dahinya mengerut.
"Emmh maaf adik-adik kecil yang cantik dan tampan, mungkin kalian salah mengenaliku. Aku belum menikah dan belum mempunyai anak. Mungkin wajahku mirip dengan ibu kalian. Dimana orang tua kalian adik-adik ?" tanyaku lembut supaya kedua anak kecil itu mengerti. Kalau perkiraanku benar, keduanya mungkin berumur 5 tahun.
"Kakak... !" rengek si kecil lagi.
"Tidak Jill. Daddy bilang, moms di surga. Dan Uncle Moen bilang kalau di surga tidak akan bisa kembali", jelas si pria kecil mengusap bahu si gadis. Hal itu membuatku takjub karena kalimat barusan. Kurasa si pria lebih dewasa memahami daripada si perempuan. Yang pria namanya Jo si kakak dan adiknya, Jill, begitu yang aku tangkap.
"Maafkan adikku bibi. Bibi Via", saat melihat papan nama yang tersemat di sragamku. "Kami sedang demam. Tadi ayahku disini tapi mungkin sedang pergi sebentar. Namaku Jo dan ini adiku Jill. Kami kembar", lanjutnya.
Aku tersenyum mengangguk.