
Via merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya sedang melayang memikirkan perasaannya sendiri. Apa semua ini benar ?, tanyanya pada diri sendiri mengingat hampir 3 minggu ini Mr. Jac tidak pernah melepaskan Via. Setiap kali ada kesempatan Mr. Jac selalu memeluk dan menciumnya. Setiap malam mendekap Via untuk tidur. Bagi Via yang pertama kali dekat dengan laki-laki yang bukan keluarganya tentu menggetarkan hati Via. Memang bukan hal sulit jatuh hati pada Mr. Jac dilihat dari segi wajah, fisik, kekayaan, kekuasaan dan lain-lain, pasti banyak wanita langsung jatuh dalam pesona Mr. Jac pada pandangan pertama. Tapi Via. Via sadar dirinya hanya pengasuh putra kembar Mr. Jac, ia tahu posisinya. Apalagi mengingat beberapa kali kejadian membuat Via sadar, wajah yang dimilikinya itu berhubungan dengan seseorang di masa lalu keluarga Mr. Jac. Nama Anne beberapa kali disebut selama ia tinggal disini.
Via menghela nafas. Bangun dari ranjangnya beranjak menuju balkon untuk mencari angin. Matanya menatap indah pemandangan langit malam ini. Gaun tidurnya tipis bergoyang dimainkan angin malam. Via memeluk tubuhnya sendiri.
Apa Mr. Jac benar-benar tertarik padaku ? atau pada wajahku yang mirip dengan wanita itu ? Atau aku hanya dianggap sebagai barang milik Mr. Jac, pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiran Via. Ia memejamkan matanya.
Via merasakan angin malam kembali membelainya. Tapi tidak. Sebuah lengan membelainya, Via membuka matanya, saat akan menoleh, kepalanya tertahan. Kepala Mr. Jac tenggelam di lekukan lehernya. Via bisa merasakan gerakan hangat di lehernya.
Lengan kekar itu mengerat. "Angin malam tidak baik untukmu sayang", ujar Mr. Jac dan tanpa menunggu jawaban mengangkat Via dalam gendongannya masuk ke kamar. Hanya butuh dorongan kaki untuk menutup pintu balkon itu.
Via sudah berbaring di ranjang dengan posisi Mr. Jac tenggelam dalam dekapannya. Inilah posisi favorit Mr. Jac, meminta Via menenggelamkan wajah tegas itu dalam pelukannya yang kecil.
Lengan Via yang tidak mendekap seerat biasanya membuat Mr. Jac mendongak. "Ada yang mengganggu pikiranmu ?"
Via terdiam. Ragu.
"Apa perasaan anda pada saya Mr. Jac ?", pertanyaan itu lolos dari bibir Via. Ia sebisa mungkin menahan hasratnya untuk menunduk, dadanya bergolak. Siap siaga menerima apapun jawaban Mr. Jac. Demi melihat ekspresi wajah Mr. Jac Via mati-matian berusaha tenang dan tetap menatap mata Mr. Jac, hal yang baru kali ini berani Via lakukan.
Satu detik, dua detik hening. Pertanyaan itu sukses menghantam bagian terkecil hati Mr. Jac. Hati yang selama ini dimati surikan, seolah terhentak. Mr. Jac diam untuk menganalisa dirinya sendiri. Ia belum bisa melupakan Anne, tapi baru kali ini juga dirinya menginginkan wanita dengan melanggar seluruh egonya. Menyentuh wanita tanpa wanita itu menggodanya. Menekan mati-matian hasratnya yang bahkan sudah hampir sebulan tidak tersalurkan. Bahkan berada dalam pelukannya saja, Jac merasakan damai yang luar biasa. Dan ini terlalu cepat bagi Jac untuk langsung tertarik pada wanita hanya dalam kurun waktu 1 bulan.
Via memperhatikan ekspresi Mr. Jac yang datar. Matanya memang menatap Via, tapi pandangannya kosong. Via menghela nafas karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Tangannya mendorong pelukan Mr. Jac di pinggangnya. Ia berbalik memunggungi, memberi jarak antara dirinya dan Mr. Jac.
Jac masih kalut akan perasaanya, tapi Jac juga tidak sanggup pada penolakan Via, seperti saat ini.
Jac menggeser tubuhnya mendekati Via, merengkuhnya dalam dekapan. "Silahkan membenciku kalau itu maumu, tapi jangan tinggalkan aku", kalimat itu sukses membuat gerakan Via yang hendak menolak berhenti.
"Tolong beri aku waktu. Dan kau harus banyak belajar", ucap Mr. Jac lagi menenggelamkan dirinya dalam lekukan leher Via. Menghirup aroma Via dalam-dalam